
Setelah selesai membasuh dan membalut kembali luka pria tersebut. Vira menyadari bahwa perban yang dua gunakan sudah habis.
"Nyesek kalo gini, niat bantu orang vira yang tekor" gumam Vira sendiri.
"Tuan aku akan pergi keluar sebentar, jika anda betah silahkan tidur saja jika tidak silahkan keluar" ucap Vira pada laki-laki tersebut setalah bersiap dan pergi begitu saja.
' *N*anti kena masalah gak ya, ninggalin anak orang sendirian. ya bodolah lagipula di apartemen Vira ada apa-apa' batin Vira.
Vira selanjutnya membuka telepon miliknya dan mulai mencari apotek terdekat dengan bantuan google maps tentu saja.
Vira cukup lama berkutat dengan telepon dan jalanan raya. Beginilah jika anak nolep suruh keluar, sangat membingungkan.
" Ish dimana sih apoteknya?!!" kesal Vira saat lama sudah tidak melihat apotek.
"Eriq... Vira kangen" ucap Vira sambil lungkai berjalan menyusuri jalanan.
Vira sebenarnya hanya kangen pada bantuan eriq yang selama ini membantunya mencari makan, tempat cuci pakaian hingga toko-toko.
Vira kagum pada eriq yang bisa menyesuaikan diri dengan cepat, ya gini lah nasib anak introvert kalo bahasa sopanya.
"Huh..." gerutu Vira saat kakinya mulai lemah tapi belum melihat tempat yang dia inginkan.
Vira sebenarnya malas sekali jalan, tapi Vira takut jika mau naik kendaraan umum.
Vira mulai membaca-baca kembali petunjuk yang ada, hingga dia melihat sebuah apotek yang agak masuk kedalam. Tentu saja dia selama ini tidak menemukan apoteknya dia hanya berputar di luar tidak sampai masuk-masuk kedalam.
"Sini rupanya" ucap Vira girang langsung memasuki apotek tersebut dan membeli semua keperluannya.
Saat pulang Vira benar-benar lelah. Padahal hanya membeli perban dan antiseptik saja tapi mencari tempat nya yang tak mudah.
Ya mau tak mau jalan kaki ke rumah. Tapi diperjalanan Vira merasa menikmati. Mungkin karena hal yang dia inginkan sudah terpenuhi.
Sampainya di apartemennya Vira yang awalnya ceria tiba-tiba langsung kaget dengan keadaan apartemennya. Berantakan seperti kapal pecah. padahal sebelum dia pergi sangat rapi.
"AAAAAAAAAAA" teriak Vira spontan saat melihat semua barang-barangnya berantakan.
"Kampret tu orang!!! Apa yang kau lakukan dengan apartemen ku!!!!" ujar kasar Vira sambil berlari menuju ke arah kamarnya.
Saat masuk ke dalam kamar, Vira tak menemukan siapa-siapa disana. kecuali hanya tempat tidur yang berantakan.
__ADS_1
"Apa-apaan inih!!!, padahal dah niat baik malah kek gini" ujar Vira dengan marah yang makin muncak.
Tapi saat Vira masih frustasi di dalam kamarnya tiba-tiba ada suara serak berasal dari luar kamar.
" Welcomback" ujar datar laki-laki yang sedang berdiri di ambang pintu kamar sambil memegang mie cup instan.
Vira yang melihat nya langsung berlari dan menuju ke arah dapur. Hingga dia sampai di dapur dia melihat banyak wadah-wadah mie cup berserakan. Vira membuka lemari tempat dia menyimpan banyak mie cup instan, dan hasilnya ZONKKKK, semuanya telah habis entah kemana.
Vira tak bisa menahan amarahnya lagi. Kini justru Vira berlari ke arah laki-laki yang sedang santai memakan mie miliknya. Vira membuang mie yang sedang dia pegang dan menarik kerah kaos yang dipakai.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Vira langsung tepat di depan muka laki-laki tampan tersebut.
Vira melihat mukanya langsung hanya diam. Vira semakin menatap semakin tidak tega. Dia hanya berniat membantu malah jadi begini.
Akhirnya Vira melepaskan tarikannya dan mulai duduk di lantai. Vira ingin jadi anak yang kuat, tapi entah kenapa justru dia menangis dalam diam.
" I can't" ucapnya lirih sambil terus menahan air matanya meski akhirnya air matanya jatuh juga karena sudah tidak bisa dibendung.
"Kau tidak apa-apa" tanya laki-laki tersebut.
Vira hanya diam, tak bisa berkata apa-apa meskipun dalam hati ini sekali mencekiknya.
Vira terus diam tanpa kata. Vira terus saja mencoba baik-baik saja. tapi dia harus apakan laki-laki yang tak tau diuntung ini.
"Maafkan aku..., tadi ada tamu tak diundang datang" ucap laki-laki itu.
"Sama sepertimu juga tidak diundang" ucap Vira spontan.
"Kau yang membawaku"
"Ya sekarang aku mengusir mu!" kata Vira tegas sambil memegang tangan laki-laki itu dan berniat membawanya keluar.
"Kau tak bisa mengusirku aku sedang terluka!" tahan laki-laki itu saat sadar dia akan dibawa pergi.
"Ya tentu saja aku bisa. sepertinya anda sudah cukup pulih sehingga bisa cukup merusak apartemen orang" tegas Vira sambil terus mencoba menarik tangannya.
"Tidak bisa!!!" teriak laki-laki tersebut dan menarik kembali tangannya dengan kuat sehingga Vira terbawa.
Vira hanya memandang diam. Dia sadar tidak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya dia berlari ke kamarnya dan menangis meratapi nasibnya.
__ADS_1
Vira di dalam kamar diam-diam tanpa kata apa-apa. hanya bisa menangis. Dia hanya berniat menolong, tapi apalah daya ternyata orang yang dia tolong adalah orang yang tak tau diri.
Dari luar kamar terdengar suara ketukan pintu dengan keras. Vira tau itu pasti hanya laki-laki yang tak tau diri dan tak tau diuntung.
Ketukan pintu semakin lama semakin keras. tapi Vira tetap saja diam di kasurnya. Dia hanya ingin sendiri dulu untuk saat ini.
brak........
Pintu kamarnya di dobrak paksa oleh laki-laki itu hanya sekali paksa. Vira bahkan langsung tersentak dan turun dari tempat tidurnya karena merasa kaget sekaligus takut.
"Mengapa kau mengunci pintunya" ujar laki-laki tersebut dengan dingin.
Vira diam, laki-laki tersebut terus maju sedangkan Vira terus saja mundur. Vira benar-benar takut saat ini, tak tau harus berbuat apa. Hingga dia berpikir untuk berteriak meminta bantuan saja.
Deru nafas Vira semakin kencang, nafasnya tidak teratur dan mulai membuka mulutnya bersiap untuk berteriak. Vira benar-benar panik, dirinya sudah menempel di dinding kamarnya sedangkan laki-laki tersebut masih maju untuk memangkas jarak di antara mereka.
"Jangan maju kumohon jangan!!!" teriak Vira kencang pada laki-laki tersebut.
Vira mulai membuka mulutnya dan akan berteriak, namun, belum sampai dia mengeluarkan suaranya, laki-laki tersebut justru sudah memeluk Vira dan mencium bibir Vira.
seketika kecupan tersebut menjadi ciuman yang dalam. Laki-laki tersebut justru tambah memperdalam ciumannya dengan memegang tengkuk Vira. Dia benar-benar ahli dalam urusan berciuman. Vira bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan laki-laki tersebut. Bahkan Vira tak bisa mengelak, dia kalah tenaga dan kemampuannya.
Semakin lama laki-laki tersebut justru semakin rakus dalam mencium bibir Vira. Bahkan dia bermain sangat kasar pada bibir mungil itu. Dia memainkan lidahnya liar meskipun tak ada balasan, hingga Vira merasa sangat sesak.
Laki-laki tersebut mulai melepaskan ciuman dan pelukannya. Seketika Vira merasa bebas, dia jatuh duduk di lantai kemudian memegangi mulutnya yang terasa perih akibat ciuman tadi.
Mata Vira mulai berbinar Kembali. Dia teringat atas ucapan mamanya yang mengatakan bahwa harga diri keluarga terdapat pada putri di rumah mereka.
Jika putri keluarga dapat menjaga harga diri dan martabatnya maka harga diri keluarga nya juga akan terjaga juga. Begitupun sebaliknya, lalu... Apa yang akan Vira Katakana nanti pada mamanya ketika pulang?. haruskah dia bersembunyi atau jujur?.
Vira terus memegangi mulutnya hingga tangan kekar menahan tangan Vira untuk tidak memegang mulutnya selalu.
"Jangan terus dipegang atau akan tambah sakit" ucap laki-laki tersebut dengan santai dan menahan tangan Vira agar tidak memegang mulutnya.
Vira kaget seketika dan spontan menampar pipi laki-laki tersebut dengan tangan yang satunya.
Laki-laki hanya diam tanpa kata, kemudian dia mulai memandang Vira serius dan mulai membuka pembicaraan atas mereka.
" Alex..., namaku adalah Alex bukan tuan. Kau hanya perlu memanggilku dengan sebutan Alex bukan tuan, kecuali kau mau jadi pembantuku kau boleh memanggilku dengan sebutan tuan itu"
__ADS_1