
"Ah... Vira masuklah" kata Alex yang semula bersandar pada ranjang kini membenarkan posisinya ke keadaan duduk.
Lambat... Vira masuk dan berjalan ke arah Alex. Tak ingin mengatakan apapun lagi, dengan cepat Vira menyerah map yang tadi sore Alex berikan padanya.
"Paman... ini dia, aku sudah selesai mengerjakan nya" kata Vira pelan.
Alex dengan cepat menerima map tersebut dan mulai membuka setiap lembarannya.
"Apa ini?!" kata Alex tegas sambil menatap Vira dingin.
"Ah, itu-" kata Vira tertahan.
"Aku bilang untuk menyelesaikannya! bukan malah merusaknya-!" kata Alex dengan nada yang semakin meninggi.
Alex kini mulai bergerak, dimana dia duduk sekarang dia berdiri dan mendekati Vira. Vira lelah... dia tidak ingin berdebat dengan Alex, lagipula dia sudah berusaha semampunya.
__ADS_1
"A-Apa yang salah" kata Vira sedikit ragu karena takut.
"Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan!" kata Alex sambil mengangkat dagu Vira agar melihat ke arahnya.
"Ano... a-aku sudah berusaha paman, aku... aku memang susah dalam hitungan" jelas Vira membuang muka.
"Dengarkan!... aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk memberimu guru yang hebat, jika kamu dalam waktu 3 bulan saja tidak bisa memanjangkan hal semudah ini, apa saya yang kau pelajari ha?!" kata Alex dengan muka yang didekatkan ke arah Vira, hingga kening mereka bersentuhan.
"Bukankah kau salah satu anak yang masuk dalam jalur beasiswa?, kenapa hal mudah seperti ini saja kau tidak bisa?, apakah kau memang masuk dari jalur beasiswa atau jalur lainya" lanjut Alex menyepelekan, sambil berbalik dan berbicara membelakanginya Vira.
Tangan Vira mengepal kuat, tentu saja karena dia paham apa yang di katakan Alex sebelum nya.
"Menjijikkan! Aku tak ingin anda membuang uang anda untukku tuan Decolix, saya juga tidak perlu guru itu. Anda hanya perlu mengantarku pulang, itu yang selalu aku katakan. Tapi anda tetap tidak mau melakukannya, dan terus mendorongku ke dalam dunia anda dimana sangat tidak nyaman untukku. Anda bilang aku menghancurkannya? Setidaknya aku telah berusaha. Selamat malam" lanjut Vira kemudian memgungkuk dan keluar dari kamar Alex tanpa kata apapun lagi.
Vira pergi dari kamar Alex dengan tergesa-gesa. Vira menahan malu, sedih, bahkan amarahnya. Dia tak tau apa yang dia rasakan. Terus berjalan dengan cepat, hingga sampainya di kamarnya Vira merebahkan diri dengan kasar.
__ADS_1
Vira menutupi dirinya sendiri dengan selimut. Seluruh tubuhnya, karena hawa dingin kini mulai masuk ke dalam tubuh Vira.
"Hacho...." bersin Vira.
"Kenapa akhir-akhir ini rasanya dingin sekali" gumam Vira sambil menutup dirinya dengan selimut kemudian mencoba untuk tidur.
Pada keesokan harinya, Vira mulai merenggang badannya kemudian perlahan membuka mata.
"Aneh... kenapa rasanya badanku sakit semua" ucap Vira sambil meregangkan badan dan berjalan ke balkon kamar.
"Rasanya... aku bahkan tak bisa bergerak" lanjut Vira saat sampai di balkon.
Mata Vira terbuka kagum. Dia melihat sesuatu yang belum pernah lihat. Pergantian warna hijau daun, berubah menjadi berbagai warna. Meskipun hanya sebagian kecil yang berubah warna menjadi merah, kuning, ataupun oranye itu tetaplah pemandangan yang mengagumkan. Ada beberapa daun yang mulai jatuh ke dalam kolam. di sana juga ada beberapa orang yang sibuk membersihkan kolam.
"Wow... memang aku yang jarang keluar, atau rumah ini benar-benar terlihat menenangkan" ucap Vira menikmati sekeliling.
__ADS_1
Vira mulai menghirup dalam udara yang terasa sangat segar "Hacho...." bersin Vira di tengah aktivitasnya.
"Tapi kenapa rasanya dingin sekali" ucap Vira sambil memeluk dirinya yang bergetar karena kedinginan.