In Your World

In Your World
BANTAL...


__ADS_3

Setelah mengatakan itu semua, Alex kemudian pergi tanpa mengucapkan apapun. Dengan tegang Vira membersihkan sisa-sisa pecahan piring dan gelas serta membersihkan lantai, tak lama kemudian bibi An datang untuk membantunya.


"Nyonya, apa yang anda bicarakan hingga tuan marah begitu besar?" tanya bibi An sambil membereskan pecahan piring.


"Tidak, bukan apa-apa aku hanya berbicara tentang apa yang ingin aku bicarakan saja☺️" kata Vira dengan senyum lembutnya, sambil terus membereskan piring-piring pecah yang ada di lantai.


Entah mengapa, sekarang Vira tidak menangis karena di bentak Alex, mungkin karena dia sudah mulai terbiasa dengan perilaku kasarnya. Vira tak mengeluh, dia paham pasti ini yang akan terjadi, jadi dia hanya menghela nafas sambil terus memikirkan apa yang harus dia lakukan kembali.


Selesai membersihkan dapur yang tadi berantakan, Vira kembali ke kamarnya sambil melihat ponsel yang ada di kasur. Dia mulai memegang dagunya kemudian melihat sekitarnya.


"Apa yang anda lihat nyonya?" kata Frisca tiba-tiba memecah lamunan Vira.


"Frisca, sudah aku bilang panggil aku Vira saja. Aku bukanlah nyonya di rumah ini dan tak akan pernah" lanjutnya kembali dengan nada yang sedikit pelan.

__ADS_1


Tak ada jawaban lagi dari Frisca, hanya senyum kecil tanda dia menolaknya. Vira mulai berfikir kembali, dimana dia bisa keluar. Tapi Vira benar-benar sadar, dia tak bisa keluar kecuali jika ada keajaiban.


Skip...


Hari hampir mulai larut, tapi tak ada tanda-tanda Alex juga pulang. Bukanya Vira menunggu tapi, hanya saja dia mulai tak merasa enak.


"Nyonya kapan anda akan tidur?" tanya Frisca berada di luar kamarnya.


"Frisca, bisakah membantuku?" kata Vira sambil bersandar di ranjang.


"Hari ini malam yang menyeramkan bukan?, lampunya terlalu terang untuk aku nyalakan, tapi...aku terlalu takut sendirian, jadi.. bisakah kau menemaniku?" tanya vira.


"Tentu saja nyonya, biarkan aku berganti pakaian dahulu" kata Frisca sambil pergi keluar kamar.

__ADS_1


Setelah kepergian Frisca, Vira mulai membuka ponsel miliknya agar tidak merasa kesepian. Hal yang biasanya dia lakukan.


Tapi, kamar miliknya tak seperti tempat kosnya dulu. Kamar ini terlalu sepi dan dingin di malam hari padahal AC kamar sudah di matikan. Vira hanya terus memeluk bantal erat sambil terus menatap ponselnya.


Vira terus menunggu Frisca datang, sudah sekitar lebih dari 10 Vidio YouTube yang Vira tonton tapi tak ada tanda-tanda kedatangan Frisca.


"Mengapa Frisca tak datang juga?" kata Vira sambil melihat pintu kamar yang masih terbuka.


Sudah terlalu mengantuk untuk menunggu, hingga Vira tak sadar tertidur dengan posisi memeluk bantal kuat sambil layar ponsel yang masih menyala.


Mama...., dimana? dingin sekali andai saja kau disini.


Pada pagi hari yang cerah, Vira mulai mengumpulkan nyawanya yang hilang. Saat sudah sedikit terkumpul, Vira mulai mengeratkan pelukannya, dia masih ingat bahwa tadi malam dia tengah memeluk bantal sampai ketiduran.

__ADS_1


Tapi, hal yang membuat Vira janggal bantal yang dia peluk kini lebih besar dan keras meskipun hangat dan nyaman. Tak lama kemudian Vira mulai kembali membenamkan mukanya ke bantal tersebut karena masih mengantuk. Vira mulai kembali bergerak, lebih mendekatkan badanya sambil sesekali menggerakkan badannya yang sedikit kaku dan sakit.


"Bisakah kau berhenti?, apakah kau tak tau pagi hari adalah waktu yang paling rawan bagi pria kehilangan kesabarannya" kata Alex pelan sambil memeluk Vira kuat agar menghentikannya bergerak.


__ADS_2