
Setelah kejadian malam itu, entah apa yang terjadi dengan Alex; semuanya berubah. Dimana dulu Alex sering berdiam saat makan, kini Alex senang mencium kening Vira saat sebelum dan selesai makan. Bahkan saat akan pergi bekerja, Alex akan mencari Vira hanya untuk mengatakan "Vira... Aku pergi bekerja dulu ya" sambil memeluk dan mencium Vira. Belum lagi ketika Vira tertidur; dulu Alex akan datang setelah Vira tertidur pulas dan pergi sebelum Vira terbangun, tapi sekarang Alex bahkan berani ke kamar Vira bahkan saat dia benar-benar terjaga.
Suasana rumah kini benar-benar berbeda; para maid dan penjaga di sana juga menyadari nya. Tapi tidak dengan Vira, dia masih ragu apakah Alex benar mencintainya atau hanya kesenangan semata.
"Frisca... Haruskah aku menerimanya?" tanya Vira saat berpikir di balkon kamarnya.
"Maksud anda?" tanya kembali Frisca dengan sopan.
"Apakah kau percaya seseorang bisa merubah perasaannya?" tanya Vira.
"Saya tidak bisa memastikan itu nyonya, tapi yang saya tau perasaan itu bisa berubah seiring dengan waktu" kata Frisca lembut sambil menepuk tangan Vira.
"Nyonya... Mungkin sekarang waktunya Anda masuk, sudah terlalu lama anda di luar, saya tak ingin anda demam karena kedinginan" lanjut Frisca sambil menunjuk masuk.
Vira hanya menuruti dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian bibi An masuk ke dalam kamar Vira, dimana terdapat Frisca dan Vira di dalam kamar.
"Nyonya... bisakah anda mengantarkan makan siang untuk tuan" kata bibi An sambil menyerahkan paper bag dengan warna navy.
Vira merasa bingung, tidak seperti biasanya bibi An menyuruhnya untuk mengantarkan makan siang untuk Alex. Wajah kebingungan Vira sangatlah jelas terlihat hingga bibi An hanya tersenyum simpul pada Vira.
"Nyonya biasanya tuan Jesen yang membawa bekalnya, tapi hari ini mungkin dia terlalu sibuk untuk mengambilnya" kata bibi An dengan lembut.
Vira hanya mengangguk paham, dan mengambil paper bag tersebut dari tangan bibi An. Vira kemudian pergi ke kantor Alex dengan bantuan paman Hans. Ya memang Alex kini lebih membolehkan Vira untuk bepergian, hanya saja dia harus selalu dengan paman Hans.
Sesampainya di kantor Alex, paman Hans hanya menunggu di luar dan Vira masuk sendiri ke dalam. Sampainya di dalam kantor Vira langsung saja menuju ke arah resepsionis, dimana terdapat dua reseptor disana.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Alex" kata Vira sambil tersenyum simpul kepada kedua reseptor tersebut.
Keduanya hanya mengangguk paham, dan salah satunya mulai mengambil telepon. Setelah teleponnya berakhir, salah satu reseptor yang mengangkat telepon tadi hanya menggeleng pelan pada reseptor yang lain.
__ADS_1
"Maaf nyonya seperti nya tuan Decolix sedang sibuk sekarang, bisakah anda menunggu sebentar?" tanya salah satu reseptor ke arah Vira.
"Tentu saja" kata Vira tak lupa dengan senyum manisnya.
"Ruang tunggu ada di sebelah sana nyonya" kata reseptor tersebut sambil menunjuk ke sebuah ruangan, dengan tembok kaca sebagai pembatasnya.
Vira hanya mengangguk paham dan berjalan ke arah ruangan tersebut.
"Vira..., apa yang kau lakukan disini?!" tanya Jesen tiba-tiba sebelum Vira masuk ruangan tunggu.
Vira kaget dan menoleh ke arah sumber suara, dilihatnya Jesen dengan pakaian rapinya. "Jesen aku mengantarkan makan siang" ucap Vira.
"Makan siang? Tumben sekali" kata Jesen sambil berjalan menghampirinya Vira agar lebih dekat.
"Kata bibi An kau selalu membawa makan siang, tapi hari ini kau sibuk jadi dia memintaku untuk mengantarnya"
Kata-kata yang di ucapkan Vira sedikit membuat Jesen terkekeh pelan, dia tidak pernah membawa makan siang tapi hari ini Vira bersikap seperti istrinya Alex.
"Jesen! kata reseptor tadi Alex sedang sibuk aku tak ingin menggangunya"
"Sesibuk apapun Alex pasti akan meluangkan waktunya untuk nyonya kecilnya" gumam Jesen pelan.
"Apa yang kau katakan?" tanya Vira karena tidak bisa mendengar apa yang Jesen katakan.
"Bukan apa-apa" jawab Jesen sambil sedikit tersenyum pelan.
Sampainya lantai ruangannya Alex, terdengar dering telepon dari dalam kantong celana Jesen.
"Oh Vira, aku minta maaf kamu masuklah dulu" ucap Jesen sambil menunjuk ke arah ruangan Alex.
__ADS_1
Vira mengangguk paham dan mulai menuju ke arah ruangannya Alex. Disana terdapat dua sekertaris, Vira hanya tersenyum pada mereka dan mulai membuka ruangan Alex secara perlahan.
Vira membukanya pelan, tak ada yang terjadi hingga dia melihat seorang wanita yang duduk di meja dengan bagian bawah pakaiannya telah terlepas. Belum lagi dia melihat lelaki di belakang wanita tersebut adalah Alex, yang sedang mencium ganas sambil perlahan membuka dan menyentuh area milik wanita tersebut. Vira terkejut, dan langsung menutup pintunya dengan cepat. Nafasnya mulai memburu tajam, dia masih tak menyangka akan melihat adegan yang begitu luar biasa di kantor Alex.
"Vira... mengapa kau hanya berdiri di depan pintu?" tanya Jesen setelah kembali.
"Jes! aku lupa aku ada perlu sekarang jadi aku harus pergi, ini makan siang mu dengan Alex" ucap Vira terburu-buru sambil menyerahkan makan siang dengan kasar, kemudian berlari keluar.
Jesen menatap Vira bingung, apakah sekertaris Alex yang melakukannya?. "Apa yang kalian lakukan kepadanya?" tanya Jesen menatap tajam kedua sekertaris tersebut.
"Ano... tuan Cledy ada di dalam" ujar salah satu sekertaris.
Jesen hanya menarik nafas dalam, paham situasi apa yang sedang di bicarakan sekretaris tersebut. Tak lama kemudian Jesen masuk ke dalam ruangan Alex dengan kasar. "Aku pikir apa yang membuatnya lari ketakutan, tapi aku sadar telah melihat kejadian yang besar" ucap Jesen sambil menatap ke arah Alex dan Cledy dimana sudah sama-sama setengah telanjang.
"Apa yang kau lakukan, kau datang saat aku akan memulai Nya" Kata Alex sambil menatap tajam Jesen kemudian duduk sambil memegang kepalanya.
"Ini dia, makan siang untukmu" kata Jesen sambil meletakkan paper bag tersebut di meja Alex yang berantakan.
"Tumben sekali kau membawakan ku makan siang, aku pikir kau sengaja melakukannya" ucap Jesen dingin sambil terus mengusap pelipis nya.
"Bukan aku, tapi Vira" kata Jesen seketika, membuat Alex yang pertamanya tidak memperdulikan Jesen kini justru menatap Jesen kuat, tak percaya apa yang di katakan oleh Jesen.
"Apa?! dia tadi sudah masuk tapi melihat kalian, mungkin aku tau alasan mengapa dia terburu-buru lari keluar" kata Jesen seolah-olah kecewa terhadap kelakuan Jesen.
"Kau bohong!" teriak Alex tidak percaya.
"Heh! kau bisa tanya reseptor dan sekertaris mu sekarang!" jawab Jesen lebih meninggi.
Melihat wajah Jesen yang serius membuat Alex segera berdiri dan merapikan bajunya, kemudian pergi keluar.
__ADS_1
"Alex kau akan kemana" tanya Cledy yang sedari tadi diam. Alex tak memperdulikan ucapan Cledy, dia terus berlari keluar kemudian pergi ke bawah.
"Dengarkanlah, dia sudah punya orang yang dia suka dia hanya memanfaatkan mu untuk kesenangannya saja" kata Jesen seperti menyepelekan dan pergi keluar mengikuti Alex.