In Your World

In Your World
BALKON....


__ADS_3

"Dimana taman yang kamu bilang itu bibi An?" tanya Vira saat dirinya hanya melihat hamparan tanah kosong. Sesaat setelah dia bertanya tentang teh dandelion bikinan bibi An, membuat Vira penasaran dengan teh bunga yang bibi An tanam sendiri. Tapi sayangnya rasa antusias dari Vira pupus seketika, saat dia tidak melihat hamparan bunga dandelion yang dia harapkan.


"Nyona... Sekarang adalah musim dingin dimana bunga tidak akan tumbuh dengan baik, tapi jika kita menanam benihnya dan menunggu saat musim semi tiba, itu akan menjadi bunga yang indah pada akhirnya" jelas bibi An sambil jongkok dan sesekali menepuk-nepuk tanah di bawahnya.


"Apa tanahnya juga harus kita rawat dengan kasih sayang bibi An?" tanya Vira mengikuti bibi An berjongkok.


"Tentu saja" jawab bibi An dengan ramahnya. Melihat kelakuan Vira, membuat bibi An merasa sedang mengajari anaknya sendiri. Vira memang terlihat sudah dewasa, tapi pikiran dan perilakunya berubah menjadi seperti anak-anak saja.


"Tentu saja teh buatan bibi An sangatlah nikmat baik rasa ataupun aromanya, ternyata ini adalah rahasianya. Butuh waktu dan tenaga yang lama untuk menumbuhkan nya, serta kasih sayang juga" kata Vira cepat dimana langsung membuyarkan pikiran bibi An.


"Tentu nyonya" ucap bibi An seraya tersenyum lembut pada Vira.

__ADS_1


"Bibi An... Apakah aku selalu di panggil nyonya?" tanya Vira tiba-tiba.


"Tentu saja, apakah ada masalah?" tanya bibi An.


"Tidak ada... Hanya saja itu adalah panggilan yang risih buatku, bagaimana jika bibi An dan para maid disini panggil aku dengan Vira saja itu terdengar lebih baik untukku" ucap Vira. Jawaban dari Vira tersebut membuat bibi An bungkam tak ada jawaban. Hanya senyuman lembut dari bibi An tanpa jawaban.


Cukup lama Vira memerhatikan bibi An yang masih sibuk dengan tanah kosong tersenyum. Dimana dia mulai menebar beberapa pupuk, kemudian benih dengan sangat perlahan. Vira mulai bosan hanya memerhatikan bibi An sehingga dia ingin membantu, tapi jawabnya tetap sama Vira hanya diminta untuk duduk diam dan memerhatikan.


"Bibi An, itu kamar siapa?" tanya Vira sambil menunjuk arah balkon tersebut.


"Kenapa di pagar? Jika memang di buat balkon kenapa hati dipagar? Sayang sekali padahal jika musim semi akan menjadi pemandangan yang indah benarkan?" tanya Vira yang beruntun kepada bibi An. Sedangkan bibi An masih terdiam mencari jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan Vira.

__ADS_1


"Bibi An?... Kenapa? Seperti takut saja jika ada yang mencoba membunuh seseorang dengan melemparkannya dari atas sana" timpal Vira karena lama tidak mendapatkan jawaban dari bibi An.


Perkataan Vira sontak membuat bibi An terdiam dan merenung tambah lama. Kebingungan menyelimuti pikiran bibi An saat ini. Bukan hanya tidak tau menjawab semua pertanyaan Vira, tapi juga bingung dengan perkataan Vira yang seolah-olah tau akan kejadian sebelumnya.


'Entah dia ingat atau tidak, perkataannya adalah kebenarannya' kata bibi An dalam lamunannya.


Dengan wajah kebingungan bibi An mencoba mengganti topik pembicaraan.


"Nyonya... Sudah lama di luar sini sepertinya anda harus masuk kedalam, suhu dingin tidak terlalu baik untuk kesehatan anda" ucap bibi An sambil menggandeng Vira.


"Bibi An... Itu kamarku bukan?" kata Vira sambil menunduk saat di gandeng oleh bibi An.

__ADS_1


__ADS_2