In Your World

In Your World
PENYERANGAN....


__ADS_3

Lagi-lagi dengan senyuman nya, bibi An memaksa Vira untuk meminumnya. Vira merasa sangat senang, dia seperti merasakan kembali kasih sayang mamanya yang sudah lama dia tidak rasa.


Kini waktu malam kembali, seperti biasa Vira tertidur dengan pulsanya. Hanya saja kini dia merasakan ada seseorang yang menggoyangkan tubuhnya, saat dia tengah tertidur pulas.


"Nyonya... Nyonya anda harus pergi sekarang!" teriak bibi An dengan wajah paniknya.


Seketika Vira bangun, dan sekilas terdengar suara gemuruh dari bawah.


"Bibi An ada apa?!" tanya Vira juga ketakutan.


"Sekelompok orang menyerang rumah ini nyonya, pasti pesaing bisnis tuan yang melakukannya" kata bibi An sambil memegang tangan Vira kuat, dan mencoba keluar dari rumahnya.


"Bagaimana dengan paman?! Apakah dia tidak menolong kita!" kata Vira.


"Tuan ada di luar kota sekarang, sepertinya mereka sudah mengencangkan semuanya. Kita harus bergegas nyonya!" kata bibi An terus berjalan keluar.


"Bibi An... Jangan bilang Alex meninggalkanku untuk kedua kalinya, dia meninggalkanku lagi saat aku percaya kembali padanya" kata Vira mulai menangis.


...DORRR...


Terdengar suara peluru yang di tembakkan. Semua maid berlari, dan beberapa penjaga memulai balasan mereka. Sudah ada beberapa yang berceceran darah, bahkan ada yang sudah tergeletak entah itu penjaga atau orang yang menyerang.


Dengan cepat bibi An terus membawa Vira. Dengan hati-hati, dan cepat bibi An mulai membawa Vira di basement rumah.

__ADS_1


"Bibi An tempat apa ini" tanya Vira saat belum pernah melihatnya sebelumnya.


"Dengar nyonya, anda masuklah makan akan ada jalan keluar. Teruslah berlari sampai menemukan jalan, minta bantuan pada orang yang lewat disana. Cepat nyonya cepat!" teriak bibi An sambil mendorong Vira masuk dalam sebuah lubang kecil di dinding basement.


"Bagaimana denganmu! Jangan biarkan aku keluar sendiri bibi An" kata Vira masih menarik tangan bibi An untuk ikut dengannya.


"Harus ada yang menghambat mereka disini nyonya, setidaknya dapat mengulur waktu agar anda bisa berlari jauh" kata bibi An dengan terus mendorong Vira.


"Jangan biarkan aku sendiri bibi An, kumohon sudah cukup banyak orang yang meninggalkanku saat ini" ucap Vira hingga tangisannya pecah seketika.


Melihat tangisan Vira, membuat bibi An terdiam seketika. Itu memang bukanlah hal yang biasa Vira alami, membuat bibi An mengelus pipi Vira pelan.


"Anakku sayang aku sudah melakukan ini bahkan sejak tuan Alex masih sangat kecil, aku dulu menyelamatkan penerus keluarga Decolix sekarang aku juga akan melakukannya" ucap bibi An.


"Jagalah cucuku dengan baik, berjanjilah anda akan merawatnya setidaknya kalian akan baik-baik saja" lanjut bibi An.


Perkataan bibi An justru membuat Vira tambah menangis. Dia takut, sudah cukup dia merasakan kehilangan saat mamanya meninggal jangan hal yang sama terulang lagi padanya.


"Bibi An kumohon ikutlah-"


...BRAK!!!...


Hantaman pintu basement tanda di didobrak masuk.

__ADS_1


"Tak ada waktu lagi nyonya keluarlah sekarang!" teriak bibi An benar-benar mendorong Vira pergi melalui lubang yang kecil.


VIRA PROV....


Aku mulai berlari kencang, saat berhasil keluar dari lubang tersebut. Hanya terdapat pepohonan di mana-mana. Keadaannya juga gelap gulita. Aku berlari tak tentu arah, hingga aku melihat seberkas cahaya dan bunyi kendaraan dari ujung sana.


Dengan cepat aku mulai berlari, dengan air mata yang masih aku keluarkan. Aku terus berlari, meski terpingkal karena tidak memakai alas kaki. Aku sadar sampai di tengah jalan raya. Melihat ke sana, kemari seperti orang kebingungan.


...CIT.... ...


Suara decitan mobil tanda mengerem dengan mendadak. Di dalamnya terlihat seorang wanita muda, dengan wajah cantiknya.


"Nyonya! Tolong aku nyonya atau mereka akan membunuhku!" teriakku sambil mengetuk pintu mobilnya kuat.


Rasa panik terlihat dari wajah wanita tersebut. Ragu harus membantuku atau tidak.


"Nyonya ku mohon buka pintu nya! Aku mohon atau mereka dapat mengejarku!" teruskan sekali lagi sambil lebih mengetuk pintu dengan keras.


"Nyonya kumohon! Selamatkan aku dan anakku!" teriakku kembali dengan sedikit frustasi.


Seketika pintu mobil terbuka. Aku langsung saja masuk dan menutup pintu nya. Dengan nafas terengah-engah, aku mengucapkan terimakasih.


Aku mulai berfikir aku kini baik-baik saja, tapi bagaimana dengan bibi An dan orang-orang disana. Belum tentu mereka akan selamat. Dan paman... Sama seperti sebelumnya, dia meninggalkanku bahkan saat aku mengandung anaknya.

__ADS_1


__ADS_2