
Pagi ini Vira sangatlah sibuk. Selain harus menyelesaikan tugasnya dia juga harus mengurus Alex.
"Paman Alex, sudah aku bikinkan sarapan, makanlah. Dan untuk siang harinya aku sudah masakan, aku menaruhnya di kulkas, jika kamu ingin makan kamu bisa memanaskannya sendiri kan? Oh ya satu hal lagi, aku belum masak makan malam jadi, aku akan usahakan untuk pulang cepat" jelas Vira sambil mempersiapkan sarapan untuk Alex.
Alex merasa tidak enak kepada Vira. Sudah 2 hari dia disini, tapi sepertinya dia sangat sibuk karenanya. Seperti merawat lukanya, membuatkan sarapan, bahkan membelikan baju sekaligus pakaian dalam.
' ya mungkin memang benar, aku sudah banyak berhutang' kata Alex pada dirinya sendiri.
"Kau mau kemana?, kau bahkan belum makan" ucap Alex saat melihat Vira bersiap untuk keluar.
"Tak apa, aku sudah terlambat paman makanlah dengan tenang, dan satu hal lagi usahakan jangan hancurkan apartemen ku ya" ucap Vira dengan terburu-buru dan di akhiri dengan senyuman manis saat dia akan pergi.
Alex yang melihatnya hanya membalas senyumannya, saat Vira sudah pergi. "Aku pasti akan membayarnya" kata Alex sendiri, kemudian melanjutkan makannya.
_________________________________
______________________
Vira tak menyangka sekarang dia akan pulang sedikit terlambat. Selain jadwalnya berubah karena ada jadwal tambahan, juga Vira ingin mengikuti kelas malam karena ingin lebih mengajar materi.
Vira pulang dengan lungkai, hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan. Pikirannya seperti di forsir habis-habisan, tapi ya sudahlah namanya juga perjuangan.
Saat sampai di depan apartemennya, Vira malah merasa lebih sedih, dia tak menyangka dia akan berakhir dengan menyedihkan seperti ini.
SRAKKKKK............
Sebuah gunting berhenti tepat di depan wajahnya di antara matanya, itu adalah Alex yang melayangkan gunting tanpa alasan saat dia pulang.
"Mengapa kau tidak melanjutkannya?" tanya Vira saat sadar itu adalah Alex. Air mata Vira mulai turun, Vira menangis tapi tetap diam dengan diri yang masih terkejut.
Tnpa basa-basi Vira langsung ditarik oleh Alex ke dalam rumah.
"KEMANA SAJA KAU!!!, AKU SUDAH MENUNGGU LAMA" teriak Alex tepat di muka Vira.
" JANGAN BERTERIAK PADAKU!!!, SEKARANG AKU SUDAH PULANG KAN!!!" kata Vira tak kalah kencangnya.
"Diapa yang berteriak, ha!!!" kata Alex dengan nada yang lebih kecil, tapi masih berteriak.
"Maaf Mr Alex apakah aku tak mempunyai cermin" cakap Vira nyolot.
"Kau tau aku sudah sangat lapar!!!, kau bilang akan pulang cepat, tapi apa!!!"
"Ohh kamu lapar ya? Maaf saja tadi aku mengikuti kelas malam asal tau saja, aku disini karena kuliah kau pikir aku tidak lelah?" kata Vira sambil melangkahkan kakinya ke dapur.
"Aku akan memasaknya dengan cepat, duduklah dengan tenang" lanjut Vira sambil mempersiapkan peralatan untuk memasak.
Selesai masak Vira mempersiapkan makanan di meja dan mulai memakannya dengan Alex.
__ADS_1
Rasa canggung di antara mereka diam, tak ada satupun yang membuka pembicaraan dia antara mereka hingga selesai makan.
ALEX PROV............
Setelah selesai makan Vira langsung mencuci piring kemudian pergi ke kamarnya. Vira tampak murung, dan diam saja, sepertinya dia benar-benar marah.
Ya, mungkin dia memang benar-benar lelah dengan kuliahnya, dan aku justru membentaknya gara-gara tidak memberikanku makan. Sudahlah aku akan dapatkan apa yang aku inginkan.
Vira benar-benar sudah tidur dalam waktu yang sangat cepat. Dia bahkan tak sadar aku berada di kamarnya. Tentu saja yang tidak di kunci, karena sudah aku dobrak kemarin.
Aku melihat raut wajahnya, sepertinya ada yang salah. Dia merengkuh dalam selimutnya yang dia pakai sampai leher, mukanya berkeringat, dan sepertinya badanya sedikit menggigil.
Aku bertanya-tanya, apakah dia demam? Aku langsung menghampirinya dengan pelan, tapi sepertinya dengan langkah biasapun dia tak akan sadar.
Aku melihat dalam mukanya sekilas, kemudian aku ulurkan tangan ku, dan untuk memeriksa dahinya. Dan benar saja dahinya panas, sepertinya dia benar-benar demam.
Aku tak tau harus apa. ya aku bukan dokter, jadi mana aku tau.
" Vira apakah kamu baik-baik saja?" tanyaku padanya.
"Hmmm" balasan Vira.
Bahkan aku tak tau, Vira sadar atau sedang tertidur. Aku tak tega melihatnya, jadi aku putuskan untuk masuk ke dalam selimut bersama vira dan memeluknya dari belakang.
Tak ada perlawanan dari Vira, tak seperti biasanya. hanya lengkuhan-lengkuhan kecil yang keluar dari mulutnya. Tapi saat aku lihat matanya masih terpejam tenang.
Saat aku memeluknya, aku rasanya hawa panas di dalam badanya Vira. Tapi anehnya, dia sedikit menggigil seperti kedinginan. Aku hanya terus memeluknya hingga dia juga merasa nyaman untuk aku peluk.
Aku terbangun dengan pelan, agar Vira tak terbangun. Ku tarik pelan-pelan tanganku, kemudian aku pergi kee jendela. Aku buka sedikit tirai yang menutup jendelanya.
Dan benar saja, ada beberapa orang yang mondar mandir disana. Aku langsung curiga, mereka telah mencurigai tempat aku bersembunyi.
Jadi langsung kututup tirai kembali, dan melihat ke arah Vira. Aku kemudian mencium kening panasnya.
"Saat yang tidak tepat ya" ucapku lirih saat mencium keningnya.
Untuk berjaga-jaga saja, aku bersiap di depan pintu menunggu jika aku diserang. tapi sampai jam 3 dinihari, masih belum ada tanda-tanda ada langkah kaki yang mendekati pintu apartemen ini. Jadi aku putuskan untuk duduk di sofa, tetapi masih siaga mengawasi.
________________________________
____________________
Tak sadar akupun ketiduran di sofa. Aku terbangun dengan langsung mencium aroma makanan yang menandakan bahwa waktu kini sudah tidak malam lagi.
"Sudah bangun paman?" tanya lembut Vira padaku.
aku melihatnya khawatir, bukankah dia sedang demam? Mengapa dia tetap memasak? Bahkan aku lihat tanyanya butuh banyak perjuangan untuk memotong semua bahan.
__ADS_1
Aku merasa tak enak kepada Vira, dia tetap memasak meski sedang sakit. Tak lama kemudian Vira pergi keluar untuk mengikuti kuliahnya. Aku hanya mengiyakan saja, aku lupa bahwa tadi malam aku berjaga-jaga semalaman karena Vira sudah di curigai dari awal.
Hari semakin larut malam, tapi tak ada tanda-tanda Vira pulang. Jujur aku sedikit khawatir, jika saja dia terkena masalah siapa yang akan memasak untukku? Aku mondar-mandir di dalam apartemen Vira, hingga aku tak sabar dan bergegas untuk keluar mencarinya.
"Malam paman" sapa Vira saat aku membuka pintu apartemennya. Mata Vira sedikit sayu, suaranya tadi juga sangat lirih, jalanya lungkai saat masuk kamar, pasti ada yang tidak beres dengannya.
"Paman lapar ya, bisa masak mie instan kan? Masak sendiri dulu ya, hari ini aku sangat lelah. Seperti biasa aku harus mengikuti kelas malam dan tak lupa untuk membeli bahan makanan. Nah, sudah aku belikan" kata Vira sambil menyerahkan kantong belanjanya, dan berjalan pelan menuju kamarnya.
" Vira..." panggilku untuk mengajaknya makan, ya sepertinya dia belum makan.
"Paman... makanlah dengan tenang, aku akan tidur sebentar" ucap Vira tanpa memperdulikan ku dan terus berjalan ke kamarnya.
Apa ini? Aku berusaha baik malah dia kek gini, ya sudah jika dia mau sakit terusin aja, gerutuku dalam hati. Tapi aku rasa makanpun tak enak, aku sudah selesai memasak mie instan, tapi mengapa aku tetap memikirkan anak yang sedang di kamar, dasar aku_+.
Aku berfikir sejenak, apakah orang sdemam makan mie instan juga? Tapi kemarin pada saat aku terluka Vira memasak sup yang sangat lezat, apakah itu bisa juga buat orang demam? Pertanyaan-pertanyaan aneh ini mulai muncul di kepalaku.
Baiklah, jadi aku putuskan untuk memasakan sup untuknya. Aku membersihkan bahanya, memotong nya, kemudian memasukan nya dalam panci berisi air dan menunggunya sampai mendidih. Ternyata sangatlah mudah.
Setelah matang aku membawa satu mangkok untuk Vira, yang aku bawakan ke kamarnya. Aku melihat Vira dengan posisi yang sama seperti kemarin, merengkuh.
Aku menaruh mangkuk di nakas sebelah kasurnya, dan mulai mencari cara untuk membangunnya.
"Vira ayo makan, aku sudah memasakan sup untukmu" kataku.
Tapi Vira tak kunjung membuka matanya, aku bingung harus apa. Hingga aku melihat bibir kecil milik Vira, tak apa ya jika aku sedikit berpikir nakal.
Pertamanya aku hanya mengecupnya, tapi lama-lama aku merasa tidak rela untuk melepaskannya. Jadi aku putuskan untuk ********** sebentar sampai tau terbangun. Tapi ******* ini sungguh nikmat, bahkan aku ingin terus lagi dan lagi tanpa peduli Vira sudah bangun atau tidak.
"Aaahhh" lengkuh Vira dalam lumatanku, menandakan dia sudah terbangun. Aku tidak mempedulikannya, sampai Vira benar-benar terbangun dan menjambak rambutku, untuk menjauhkan wajah kami berdua, Wowo sensasi yang sangat luar biasa.
"Paman tidak sopan!" teriak Vira lirih padaku, aku hanya tersenyum sinis dan duduk di sampingnya.
"Makanlah sudah aku buatkan" kataku sambil menyerahkan mangkuknya, pada Vira.
Vira sedikit ragu untuk menerimanya, tapi dia tetap memakannya.
"Terimakasih paman, makanannya enak" ucap Vira dan langsung menaruhnya kembali. Padahal dia baru mencicipi beberapa suap saja.
Aku penasaran dengan rasanya, jadi aku juga mencicipinya. Wow baru kali ini aku merasakan, rasanya air cucian piring kotor.
Vira langsung tidur dengan posisi semula, sepertinya dia benar-benar sakit. Aku menyusul nya dengan ikut masuk ke dalam selimutnya dan memeluknya.
"Paman... ini tidak sopan" ucap Vira lirih.
"Tidurlah, ini akan nyaman" ucapku, entah kenapa mengucapkan itu.
"Paman..." panggil Vira kembali, tapi aku hanya menjawabnya dengan pelukan yang aku kencangkan.
__ADS_1
Vira akhirnya diam, dan mulai tertidur dalam pelukanku. Pada tengah malam untuk yang kedua kalinya aku mendengar suara berisik mobil. Aku kembali melihat ke jendela, dan benar saja banyak orang yang sudah bersiap dengan seragam lengkap di bawah sana.
'jesen aku harap kau cepat'