
"Tempat yang bagus Mrs. Esten" kata Alex seraya meminum kopi miliknya.
"Terimakasih Mr. Decolix" kata Celyn seraya tersenyum pada Alex.
"Maafkan aku, aku terlambat" kata Jesen dengan terburu-buru, sambil sedikit merapikan bajunya.
Hanya tatapan tajam dari Alex, sedangkan Celyn hanya tersenyum dengan ramah.
"Mrs. Esten? Jesen" kata Jesen seketika sambil mengulurkan tangannya.
"Celyn" kata Celyn sambil menjaba tangan Jesen.
"Aku tidak percaya, Mr. Esten mempunyai asisten serta istri yang cantik" goda Jesen sebagai candaan.
Seperti biasa hanya senyuman dari Celyn, dan tatapan tajam dari Alex. Tak lama Jesen kemudian duduk, di samping Alex sambil mempersiapkan beberapa dokumen.
"Maafkan saya, Mr. Esten ada urusan sebentar, jadi saya yang akan menjelaskannya, dan untuk detilnya Mr. Esten yang akan menjelaskannya sendiri. Saya harap anda tidak keberatan akan hal itu" jelas Celyn mulai gugup.
"Wow, apakah anda juga memanggil suami anda dengan sebutan Mr.?" kata Jesen spontan.
__ADS_1
"Jes!" kata Alex sambil menatap tajam arah Jesen.
"Maaf atas ketidaknyamanannya Mrs. Esten" lanjut Alex.
Untuk beberapa saat mereka hanya berbicara masalah proyek yang akan mereka kerjakan. Di sini lain, Vira dengan Cindy dan Kyle masih sibuk dengan aktivitas mereka. Mereka saling kejar, dan bermain bersama benar-benar layaknya seorang kakak beradik.
"Mama... Mama..." kata Kyle tertatih sambil berlari kearahnya.
Saat sampai Kyle Langung saja menunjuk ke arah sebuah pegangan eskrim, dengan mobilnya. Vira hanya tersenyum kemudian pergi ke arah mobil tersebut.
"Cindy kamu ingin rasa apa sayang?" ucap Vira sambil menggandeng Cindy.
"Coklat stroberi tante" ucapnya sambil menunjuk ke arah daftar menu.
Hal sama juga di lakukan Kyle, dengan memegang menu yang sama. Dengan sigap Vira memesan 2 escream dengan rasa yang sama.
Tapi hal tidak terduga terjadi saat dia akan menerima escream nya, justru Cindy berlari dengan cepat saat melihat Eriq masuk dalam kafe.
"Papa!" teriak Cindy sambil berlari ke arah kafe.
__ADS_1
Vira terkejut dibuatnya. Langsung saja Vira mengejar Cindy, dengan Kyle yang masih di bopongnya.
"Cindy jangan lari! Bahaya!" teriak Vira karena tidak bisa menyeimbangkan larinya dengan Cindy.
Syukurlah Cindy masuk kafe dengan selamat, tapi dia melihat Eriq. Vira takut Cindy akan menggangu meeting penting mereka.
"Apa yang kau lakukan Vira!" ujar Vira pada dirinya sendiri.
Saat masuk kafe, Vira langsung saja pergi ke arah meja tempat Eriq menjelankan meeting nya.
"Permisi, maafkan saya... Dia berlari dengan cepat hingga aku tidak bisa mengejarnya" ucap Vira sambil sedikit menormalkan detak jantungnya.
"Tidak apa Vira, lagipula kita memang hampir selesai" ucap Cindy.
"Benar tidak apa-apa" terdengar suara bariton yang sangat Vira kenal.
Vira langsung saja menoleh ke arah suara tersebut, melihat Alex disana juga dengan Jesen tentunya. Wajah Vira menjadi pucat seketika, tapi dia harus tenang jangan sampai Cindy dan Eriq tau. Dengan cepat Vira mengeratkan pelukannya pada Kyle, kemudian menggandeng Cindy untuk pergi.
"Kemarilah sayang, masih ada escream yang belum kita ambil" kata Vira sambil tetap bersikap tenang, dan menggandeng Cindy keluar. Untung saja Cindy menurut dengan cepat, membuat Vira sedikit bernafas lega. Karena tidak perlu berlama-lama melihat Alex.
__ADS_1
Tapi kecemasan Vira mulai muncul. Alex melihat dirinya, dan juga Kyle. Sambil melamun Vira terus saja menggendong Kyle kuat, detak jantungnya masih sama saat bertemu kembali dengan Alex.