
Jesen hanya tertawa pelan melihat ekspresi Vira. Dimana dulu dia selalu terlihat murung, sekarang lebih bisa bersikap ekspresif.
"Kau akan mengetahuinya besok" kata Jesen berdiri dan melenggang pergi keluar dari kamar Vira. Vira hanya melihat heran Jesen saat keluar penuh dengan tanda tanya.
________________
____________________
Keesokan harinya, Vira diminta untuk pergi ke ruang belajar milik Alex.
"Apa yang ingin dia lakukan sekarang" kata Vira sat sudah berada di depan ruangan.
Tok...tok....
Suara ketukan pintu dari Vira.
"Masuklah" terdengar suara Alex dari balik pintu. Vira tak ingin mendapatkan banyak masalah, sehingga dia langsung masuk saat sudah di ijinkan.
__ADS_1
Dalam ruangan Vira merasa sangat terkejut. Bukan hanya Alex dan Jesen yang ada di ruangan ini, tapi juga ada satu laki-laki yang terlihat lebih tua dari Alex.
"Mrs. Decolix ini dia hadiahmu" kata Jesen sambil menunjuk ke arah laki-laki tua tersebut.
Itu tambah membuat Vira bingung dan heran. ' Hadiah?! Dengan menyerahkan ku pada orang tua?!' kata Vira batin sambil menatap bingung ke arah Alex.
Melihat ekspresi Vira yang takut dan bingung, membuat Jesen terkekeh pelan. Tapi itu tak berlangsung lama, karena Alex menatap Jesen lekat hingga dia harus berpura-pura batuk agar tidak terlihat jelas.
"Vira...dia adalah Mr. Harold, dia yang akan mengajarimu menejemen dan akutansi, agar kau bisa bekerja di perusahaan ku lagi" kata Alex sambil menunjuk ke arah Harold.
"Salam kenal nyonya" kata Harold sambil membungkuk kepada Vira.
Sudah tiga bulan sejak Harold mengajari Vira menejemen dan akutansi. Semua materi Vira sangat lambat dalam memproses nya. Bahkan kadang dia lupa materi yang sedang di ajarkan.
"Nyonya... sepertinya anda-"
"Tidak berbakat dalam menghitung" potong Vira karena sedikit marah dengan materi yang diajarkan.
__ADS_1
Semuanya Vira tak bisa memahaminya. Dia bingung harus mulai dari mana. Dia bahkan belajar tujuh hari dalam seminggu, itu juga kadang banyak tugas yang membuatnya harus lembur.
Tak seperti biasanya, Alex tidak membantu nya memecahkan rumus. Vira hanya menghela nafas saat melihat Alex dan Jesen pergi ke kantor. Wajah Alex datar sering melihat Vira, tapi itu tak bertahan lama karena di gantikan dengan wajah ejekan milik Jesen ke Vira.
Vira terus berusaha mencoba mengerti semua materi, tapi... dia memang benar-benar tidak paham. "Apa yang harus aku lakukan?" kata Vira sambil terus membolak-balik lembaran buku.
Sore ini, Alex pulang lebih cepat dari biasanya. Saat dia pulang langsung pergi ke kamar Vira. Dia memang pulang untuk Vira, tapi bukan untuk menjenguknya. Melainkan dia datang sambil membawa dokumen kantor untuk Vira kerjakan.
"Lakukan apa yang kau bisa dengan itu. Dan saat kau sudah selesai, aku ada di kamarku" kata Alex
"Paman seperti aku..."
"Tak ada bantahan" potong Alex kemudian pergi dari kamar Vira.
Vira hanya menghela nafas pelan, dan mulai membuka dokumen yang di berikan Alex. Vira langsung saja mengerjakannya, tidak peduli jika itu salah atau tidak.
Vira mengerjakannya dengan serius hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
__ADS_1
Dengan cepat Vira keluar kamarnya, dan pergi ke kamar Alex. Saat masuk kamar Alex, Vira melihat Alex memakai kaos putih polos dengan laptop yang masih menyala di depannya.
"Paman...." kata Vira pelan, karena takut mengganggu.