
Blush....
Pipi Alex memerah setalah di cium Vira untuk pertama kalinya, tanpa paksaan tanpa dia yang harus meminta dahulu. Tak lama setelah ciuman itu, Vira langsung bergegas pergi karena malu.
"Kau! Apa yang kau lakukan!" teriak Alex saat sadar dia tak bisa menahan saat Vira berlari.
"Tak apa paman aku hanya-"
BRUK.... Teriak Vira terhenti saat sadar menabrak seseorang.
"Kau tak apa-apa?" tanya laki-laki tersebut dengan suara baritonya.
"Tidak, maaf sudah menabrak anda" jawab Vira dengan senyuman manisnya, sambil menghadap ke arah laki-laki tersebut.
"Tunggu! Kau Vira kan?! Anak yang mengikuti pertukaran mahasiswa, dan hilang saat kebakaran! Benarkan!" ucap kembali laki-laki sambil memegang kedua tangan Vira. Seketika Vira diam membeku dia tidak tau mana yang lebih baik, antara kenyataan dia telah menerima Alex atau orang yang mengenalinya dan bisa membawanya pulang.
"Aku... Aku..." ucap Vira terbata tak tau harus mengatakan apa.
"Iya! Kau itu Vira! Kau tak mengenaliku? Aku Sammy teman Eriq saat kita outdoor" ucap Sammy makan menggnggam tangan Vira. Ekspresi Vira kini berubah saat Sammy mengucapkan kata Eriq dalam ucapannya.
"Benar! Kau pasti Vira, lama sekali kau pergi... Eriq mencari mu kemana-mana, apakah kau tau dia sam-"
"Kau siapa!" teriak Alex sambil menarik tangan Vira, dan memeluk Vira kuat.
"Ah... Tuan saya adalah Sammy, sepertinya dia itu-"
"Dia adalah istriku, kau anggap dia siapa sampai memegangi tangannya" sergah Alex dingin dan muka marahnya sambil terus memperlebar jarak antara mereka.
"Tuan sepertinya dia-"
"Sayang apalah kau mengenalinya? Tidak? Mari kita pergi saja, aku tak mau ada orang yang membawamu kabur dariku" lagi-lagi Alex memotong perkataan Sammy sebelum dia bisa melanjutkan perkataannya, sambil menarik Vira pergi dari tempat tersebut. Terlihat Vira masih menoleh ke arah Sammy saat Alex menariknya pergi.
__ADS_1
'Aku bahkan belum sempat mengatakan apa-apa' ucap Vira batin.
Tak lama berselang, Alex hanya membawa Vira untuk pulang tanpa bersenang-senang. Hanya keheningan diantara keduanya saat berada di dalam mobil. Terlihat jelas Alex sangat marah, membuat Vira tak berani berkata apa-apa.
Setibanya Alex dirumah, Langsung menarik tangan Vira kasar ke kamarnya. Bibi An dan para maid dan penjaga yang melihatnya, Langsung merasakan amarah yang Alex keluarkan.
BRUK....
Lagi-lagi Alex memperlakukan Vira dengan kasar, mendorong Vira hingga tersungkur ke lantai kamar.
"Dia! Dia! Dia siapa Vira!" teriak Alex sambil menarik rambut Vira.
"Paman... Sungguh aku tidak tau" rintihan Vira sambil memegangi tangan Alex yang menjambak rambutnya.
"Dia mengenalmu, bahkan mengetahui namamu kau bilang tak tau!" teriak Alex kembali sambil lebih menjambak Vira, kemudian mendorong kepala Vira hingga membentur lantai kamar.
"Dengar Vira, jika kau mengatakan yang sebenarnya mungkin aku tak akan memperlakukanmu lebih kasar selanjutnya" lanjut Alex sambil mencekam pipi Vira yang kini sudah lebam sebagian.
"Kenapa kau terus saja berbohong Vira!!!" Teriak Alex. Kini dia tak lagi hanya menarik dan menjambak, justru kini melemparkannya ke arah balkon kamar. Para maid yang melihatnya tak kuasa melihat Vira, khususnya bibi An sehingga dia memberanikan diri untuk mendekati Alex dan Vira.
"Tuan..." panggil bibi An lirih.
"Jangan sekarang bibi An jangan sekarang" teriak Alex sambil mendorong bibi An untuk keluar kamar dan mengunci pintunya. Suara gaduh benar-benar terdengar dari dalam, suara barang-barang jatuh dan pecah semuanya terdengar sangat nyaring di telinga. Tak lama kemudian bibi An yang tak sanggup mendengarnya, langsung turun kebawah dan menelfon Jesen untuk meminta bantuannya.
DI SISI LAIN....
Dalam sebuah ruangan, terlihat seorang pria yang bersandar pada kursinya sambil mengusap pelipisnya. Itu adalah Jesen, dimana sedang berfikir karena beberapa masalah perusahaan yang cukup sulit untuk dia dan Alex pecahkan. Tak lama kemudian terdengar suaranya dering telepon dari ponselnya.
"Ya, Jesen disini ada apa" ucap Jesen langsung saat mengangkat ponselnya.
"Tuan... Tuan Jesen, ini saya bibi An bisa tolong datang kemari segera, tuan dan nyonya sedang bertengkar hebat saya sudah mencoba tapi tidak bisa" ucap bibi An dengan nada yang gemetar dari balik telepon. Terdengar dari suara bibi An yang ketakutan, dan paham akan amarah Alex membuat Jesen Langung melajukan mobilnya.
__ADS_1
Saat sampai sampai di depan rumah Alex, terlihat jelas Alex dan Vira di balkon kamar dimana Alex mencekik Vira sambil bersiap untuk melepaskannya.
VIRA PROV....
senyumannya, sangat jelas dengan tatapan kemarahan. Aku hanya bisa tersenyum pasrah sambil terus mengeluarkan air mata.
"Cih! Senyuman mu itu membuat aku muak saja" kata Alex sambil melepaskan cekikannya. Aku tidak tau mana yang lebih buruk, antara mati karena cekikan atau mati karena dijatuhkan.
Deg....
Deg....
Deg....
Hanya itu yang aku dengar, ya suara detak jantung yang sangat memburu saat Alex benar-benar melepaskanku. Entah apa yang aku harapkan, saat aku sudah mempercayainya justru aku di bunuh dengan sengaja. Cinta? Apa yang kau harapkan, ini yang akan kau dapatkan jika terlalu mempercayainya.
BRUK....
Suara benturan antara aku dan halaman dengan pafing sebagai alasnya. Sangat sakit, hingga satu katapun tak dapat keluar. Sangat dingin, mungkin karena musim gugur yang romantis ini dinodai oleh darah yang terciprat ke daunnya. Tak lama kemudian aku merasakan perlahan-lahan darah dalam kelapaku keluar, itu adalah hal satu-satunya yang membuat kehangatan. Oh tidak, pengalihatan ku mulai buram mama... Bolehkah aku pulang sekarang?
VIRA PROV END....
.
.
.
.
.
__ADS_1
Waktumu masih panjang sayang, kita akan bertemu waktumu benar-benar sudah datang....