
Savira prov...
Sudah beberapa minggu aku sudah di Amrik menjalankan program pertukaran mahasiswaku. Aku cukup bingung mengapa aku dan Ariq bisa satu kelompok padahal kami itu bukan satu jurusan.
Tapi ya sudahlah yang penting tidak ada masalah berkaitan makalah kami tentang program pertukaran mahasiswa. Eriq hari ini bilang akan pergi mengikuti studi outdoor satu jurusannya. mungkin sekitar satu Minggu lebih dia pergi.
Aku dan Eriq memang tidak satu kamar tapi aku kemana- mana selalu dengan eriq mulai dari makan belanja dan mengerjakan tugas. Aku berniat mulai mengerjakan tugas makalah kami, ya karena aku cukup senggang hari ini.
Jam menunjukkan pukul 9 malam waktu setempat. Aku mulai merasa lapar karena belum makan dari sore. Pagi tadi Eriq sudah menyiapkan makanan untuk pagi dan siang bukan untuk malam.
Akhirnya aku memutuskan untuk keluar rumah dan mencari sesuatu untuk bisa dimakan. Aku menemukan sebuah toko 24 jam, dan mulai masukinya mencari makanan yang bisa aku makan. Aku memutuskan membeli mie cup instan banyak sekali kira-kira buat persediaan satu Minggu kedepan sampai Eriq pulang dari kelasnya.
Aku hanya bisa pasrah.
Aku tak tau harus berbuat apa? Perutku sudah lapar tapi makanan yang bisa aku makan hanya sebuah mie instan. Tapi ya sudahlah daripada tidak sama sekali yakan?.
Aku pulang dengan jalan yang sama saat aku pergi tadi, hanya yang membedakan saat ini adalah suasana di jalan yang aku lewati. Pertama aku mendengar sebuah perkelahian hebat antara satu orang dengan beberapa lawan mainnya.
Bukankah itu tidak adil, tapi apalah daya aku hanya bisa menonton dan melihat. Seorang laki-laki dewasa yang hanya bermain sendiri mulai kelelahan saat melawan sekitar 5 orang laki-laki dewasa sebayanya. Hingga dia mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam yang ditodongkan ke 5 orang tersebut bergantian.
dor....
dor...
dor....
Suara tembakan peluru terdengar nyaring di telingaku.
semuanya tergeletak di jalanan aspal, hanya tersisa satu orang yang bermain sendirian.
Tapi badannya mulai lemah dan tersungkur ke jalanan aspal pula. Aku merasa takut tanganku bergetar memegang paper bag yang aku bawa untuk wadah mie uang aku beli tadi.
Aku ingin pulang tapi aku tak tau jalan lain.
__ADS_1
Ya gitulah aku hanya anak nolep yang keluar ke kampus saja. Hingga aku memberanikan diri untuk jalan tanpa menghiraukan apa yang terjadi.
Saat aku melewati mayat-mayat yang tergeletak tersebut aku mencium bau amis khas darah segar. Aku tambah bergetar dan mulai mempercepat langkah hingga sebuah suara minta tolong datang dari seorang pria yang setengah sadar dengan luka di bahu lengan dan sekitar perutnya.
help me...
help me....
please........
Suara serak rintihan laki-laki tersebut.
aku hanya diam membeku aku ingin tak peduli tapi aku tak bisa. Hingga aku menghampirinya, aku membuka syalku untuk aku pakaikan di perut tempat luka tadi. Dan aku bantu dia berdiri dan ku tuntun menuju apartemen milik ku.
Aku memang selalu diajari untuk selalu berbuat baik. tapi siapa sangka perbuatan baik ini akan aku selalu pada akhirnya.
Setelah aku sampai apartemen ku, aku langsung merebahkan laki-laki tersebut di kamarku.
Aku mulai mengambil kotak p3k dan mencari antiseptik dan perban disana.
Maka aku langsung mengambil air hangat dan mengelap nya ke bagian luka. Syukurlah lukanya sepertinya tidak dalam. Kemudian setelah selesai membasuh lukanya aku langsung mengoleskan antiseptik, dilihatnya dengan muka yang menahan rasa sakit dan perih maybe, lalu ku olehkan obat merah dan memperban lukanya.
Dia hanya diam tanpa ada perlawanan mungkin karena sudah lelah atau tidak tau mau apa. Tidak lama kemudian dia tertidur dengan telanjang bagian atas.
tubuhku juga rasa lelah. Tasa lapar yang semula membuatku keluar pun sekarang tidak aku rasakan.
Mula-mula aku duduk di sofa depan tv, tapi lama-lama mulai merasakan kantuk langsung tertidur di sofa tersebut dengan membiarkan orang asing tidur di tempat tidurku dengan nyaman.
Pagi-pagi sekali aku terbangun karena sudah merasa tidak nyaman atas tempat yang aku gunakan untuk tidur, ya mana lagu kalau bukan sofa.
Pertama aku meregangkan tulang-tulang ku yang benar-benar tidak merasa nyaman. Kemudian aku melihat laki-laki yang tidur di kamarku. ' sepertinya aman-aman saja' gumamku.
Setelah aku bersiap dengan mandi dan memakai bajuku, di kamar mandi tentunya ya. Aku bersiap pergi ke market terdekat dengan bantuan google maps.
__ADS_1
untung ada kalau gk ya kan bahaya.
Entah mengapa aku ingin memasak sup yang biasanya mama masak untuk saat kau sakit. Aku tidak tau akan enak atau gak tapi.... semoga saja.
Setelah aku belanja aku masuk apartemen dan melihat laki-laki yang masih tertidur di kasurku. Aku hanya menghela nafas dan mulai bersiap untuk memasak.
Setelah selesai memasak, aku masuk ke kamarku lagi dengan membawa sup yang sudah aku masak. Aku membangunkan laki-laki itu pelan sangat pelan. Lama-kelamaan dia membuka matanya dan mulai kaget pada awalnya kemudian biasa saja.
"Morning sir" itulah kata yang aku ucapkan pertama kali untuk mencairkan suasana, dengan senyum tulus sebisaku.
Dia hanya mengangguk pelan dan mencoba untuk duduk. Aku membantunya duduk kemudian menyenderkan tubuhnya. Aku mulai mengambil nampan yang berisi sup tersebut dan menyerahkannya.
"Maaf jika kurang sedap tuan" kataku sambil meletakkan nampan berisi sup tersebut.
Dia hanya mengangguk pelan dan mulai memakan sup ya tersebut. Setelah itu aku membuka lemariku, mencari baju Eriq yang sering aku cuci karena dia sering sekali mandi di kamarku. Katanya sih punya dia rusak tapi ya sudahlah.
Aku memilihkan kaos putih polos dengan jeans panjang milik Eriq. Kemudian aku menyiapkan air hangat dan mengambil kotak obat.
Selesai dia makan aku memberanikan diri untuk mendekatinya.
"Maaf tuan bolehkan aku membasuh luka anda?, Hanya akan mengganti perbanya" kataku ragu.
Dia hanya mengangguk singkat tanda dia setuju.
aku mulai duduk di depannya dan...
Deg...
Terpampang jelas tubuh yang sangat hebat dengan otot-otot yang kuat. Aku sekuat tenaga menahan diri dan menyakinkan agar semuanya baik-baik saja.
Lertama aku membuka perban di bagian tanganya. wow seperti pahatan yang sangat sempurna, kekar dan berotot. Tapi aku mulai menetralkan detak jantungku dan mulai mencoba membasuh luka dan mengoleskan antiseptik kemudian mulai memperban nya kembali.
Begitu juga untuk bagian lain seperti bahu dan sekitar perut. Aku sangat Canggung apalagi saat dia melihatku serius. Mungkin karena kita adalah orang baru jadi seperti ini.
__ADS_1
Aku mencoba biasa saja meskipun jantungku bertindak lain. Dia hanya diam mungkin karena canggung tapi aku juga biasanya sama seperti itu ke semua orang baru. Cuma baru kali ini dia berani sentuh tubuh laki-laki tersebut, mungkin karena rasa iba dan kasian, seperti alasan pertama aku membawa dia ke apartemen ku.
Savira prov end........