
"indah!!!...."teriak Bastian yg tersentak bangun, Bastian mengusap wajahnya ternyata dia ketiduran setelah selesai sholat,lalu melirik jam yg ternyata jam tiga lewat,seketika Bastian teringat indah pernah mengajarkan dia sholat ,atau sebagainya yg menyangkut agama.
dengan langkah besar Bastian masuk ke kamar mandi , setelah itu dia sholat tahajud,selesai dari situ dia tak langsung beranjak tapi membaca Al-Qur'an dengan lancar bahkan merdu.
.
"jelaskan!!... " tatapan tuan farel serius diikuti ana di sampingnya, sedangkan opa, oma dan citia yg tampak bingung karena blm tau situasi sekarang.
hah...
Dimas menghela nafasnya,baru saja iya dan keluarganya sarapan pagi tapi dia langsung di tarik ke ruang keluarga karena meminta penjelasan siapa kedua wanita itu yg kini masih blm sadar.
" dimas akan jelaskan!.."Dimas memandang keluarganya yg tampak penasaran.
"wanita muda itu yg sebaya sama Dimas itu teman Dimas saat kuliah di Spanyol,kalau wanita tua itu Dimas engk tau..."
"tolong dengerin dulu sampai selesai,kalau sudah selesai baru boleh bertanya.."ujar Dimas saat mama ana ingin mengatakan sesuatu.
mereka diam, Dan mendengarkan Dimas yg lanjut bercerita.
"jadi kemarin itu,dimaskan mau jemput adex dan opa Oma,tapi karena takut telat ya udah,Dimas lewat jalan potong,yg memang sunyi tapi lebih cepat nyampenya...tapi pas lewat jalan itu,Dimas dengar ada suara orang berteriak,jadi dimas berhenti..dan liat apa itu...saat Dimas masuk kehutan yg memang engk jauh dari jalan,Dimas nampak wanita yg ternyata teman Dimas yg sedang menangis dengan seorang wanita tua yg perutnya sudah bersimbah darah..." Dimas menghentikan ceritanya sejenak karena ingin melihat ekspresi keluarganya yg tampak terkejut dan tak percaya.
"jadi tanpa banyak bicara Dimas membawa mereka ke mobil...dan putar balik ke rumah..."
"dan begitu lah ceritanya...dan ada lagi,yg buat Dimas engk percaya!!.."ucapan Dimas membuat mereka yg fokus semakin penasaran apa itu.
"apa emang?.."tanya citia yg ternyata ikut mendengarkan dari tadi, walaupun dia masih kesel dengan kknya karena telat jemput,tapi setelah mendengar cerita itu membuat ia tau kknya tak sengaja telat karena masalah ini.
"setelah kk pergi lagi, menjemput citia dan Oma opa,Dimas lewat di situ lagi,sampai di jalan yg sama tidak terlalu jauh dari sama Dimas melihat...."Dimas menggantung ucapannya,saat mendengar suara yg ia kenal,bahkan mereka semua sontak melihat kearah tangga lantai atas.
"ibukkkk..."
teriakan indah terdengar sampai lantai bawah.
__ADS_1
"sepertinya dia sudah sadar!..Dimas panggil Dea,.."perintah ana pada Dimas yg mau ikut naik.
Dimas terpaksa menelepon Dea sedangkan yg lain naik kecuali opa dan farel menunggu di bawah bersama Dimas.
"ma,apakah itu suara wanita yg kk dimas bilang?.."citia bertanya penasaran.
"iya!.. "jawab singkat ana yg masih berada di anak tangga.
"sayang kamu kenapa?.."ana yg baru masuk ke kamar langsung mendekati indah yg terduduk di lantai dengan menangis.
indah yg tadi menangis karena mencari buk Jum kini mendongak menatap 3 wanita yg sama sekali tak ia kenal.
"si.. siapa kalian?.."indah bertanya dengan takut,takut pria² jahat itu berhasil menangkapnya.
"kamu tenang,kami orang baik kok.."perlahan mendekat pada indah dan mendekap indah,Hana bahkan menepuk punggung indah agar tenang.
indah yg tiba² di peluk terkejut tapi dia langsung tenang,dia seperti merasakan pelukan seorang ibu yg sayang pada anaknya,membuat ia semakin menangis.
"eh..knp semakin nangis..."Hana khawatir mencoba menenangkan indah.
"maaf Tan,apakah melihat ibuk saya?..dan siapa yg bawa saya kesini?..dan dimana ini?..."berbagai pertanyaan indah lontarkan seolah lupa siapa yg membawanya.
"Tante akan jelaskan,ayok berdiri,kita duduk di sini.."Hana menuntut indah duduk di sofa kamar,sedangkan citia dan Oma hanya membuntuti tanpa bicara karena mereka sangat penasaran sama wanita yg dimas bawa ini.
"baiklah,Tante akan jelaskan,ibuk kamu ada di sebelah kamar ini..."
"apakah dia baik² saja Tan?.."indah cemas akan hal itu,
"dia sudah baikan hanya saja masih blm sadar, seperti nya perutnya terluka lumayan parah tapi masih bisa selamat..karena tepat waktu membawanya kesini.."mendengar penjelasan Hana membuat indah lega,karena dia bermimpi buk Jum menembak jantungnya sendiri karena merasa bersalah padanya.
"berarti itu hanya mimpi.."batin indah merasa lega.
tiba² indah teringat kalau yg membawanya kesini adalah Dimas.
__ADS_1
"apakah benar Dimas yg membawa saya kesini Tan?.."
"iya..dia anak sulung Tante.."jawab Hana sambil tersenyum lembut.
"benarkah?.."seolah tak percaya,karena selama berteman saat kuliah emang indah tak tau siapa orang tua Dimas.
"hmm.."Hana mengangguk sambil tersenyum.
"dan.."indah melihat kearah citia dan Oma.
"oh,kalau ini mommy Tante,dan ini anak bungsu kesayangan Tante ,citia namanya..."Hana langsung memperkenalkan mereka berdua.
"Hay..kk,aku citia"citia menyapa dengan sedikit canggung,karena baru kenal,citia langsung merasa kalau indah ini sangat cantik,entah kenapa tiba-tiba dia ingin menjadikan wanita muda di depannya ini sebagai kk iparnya.
"pasti mereka iri..." batin citia menghayal memamerkan kakak iparnya yg cantik pada teman-temannya.
"Hay..juga,nama kk,indah.."indah menyapa dengan senyumannya,lalu beralih ke Oma,dan menyalaminya.
"halo Oma.."
Oma tersenyum sambil menepuk kepala indah pelan,karena merasa sayang,melihat anak muda jaman sekarang yg sopan pada orang yg lebih tua.
"nama Tante,Hana.. Tante ingin bertanya apakah indah sudah menikah?..."mendengar itu sontak indah langsung teringat Bastian yg saat ini mungkin mencarinya.
citia yg mendengar mamanya bertanya seperti itu entah knp ia langsung kepikiran kalau mamanya mau menjodohkan indah pada Dimas itu.
"iya kk,apakah kk sudah menikah,kalau blm sama abng citia aja,dia ganteng kok,baik juga..."citia langsung tertanya dengan cepat.
"sayang!.."tegur Hana karena tak ingin citia akan kecewa karena sudah tau arah pembicaraan citia yg akan menjodohkan kk laki² nya itu.
indah tersenyum dengan mengelus perutnya,lalu menjawab.
"saya sudah menikah,dan mengandung anak pertama..."
__ADS_1
seketika citia yg tadinya antusias langsung lesu,Hana hanya bisa menghela nafas pasti anaknya kecewa.