
"jadi kalian berdua Dateng kesini hanya ingin izin untuk pulang karena ingin menikah?..."indah memastikan klau yg iya denger tadi tidak salah.
"benar nyonya muda..."kompak Erick dan Cici dengan senyuman lebar,indah memutarkan bola matanya dengan malas karena dia berulang kali menegur mereka agar tak memanggilnya nyonya tpi sama sekali tak di dengarkan,katanya sebagai tanda hormat.
"pulanglah... Nanti aku kirim uangmu,karena kalian berdua tak lagi bawahanku..., hidup lah seperti manusia hidup semestinya..."ujar Bastian dengan memegang tangan indah.
"emang selama ini,kami hidup bukan seperti manusia?..."pertanyaan bodoh langsung keluar di fikiran mereka Tampa berani berucap.
"baik..tuan,terima kasih untuk selama ini,..."hormat Erick dengan di ikuti Cici,mereka mengakui Tampa ada Bastian mereka bukanlah siapa².
"harusnya aku yg berterima kasih,atas jasa kalian, terima kasih..."ucap Bastian dengan senyuman kaku,di blm terbiasa dengan ini semua,dia tak pernah senyum dengan orang asing sekalipun bawahan nya, apalagi mengucapkan terimakasih,tentu keduanya Tampa shok dan tak percaya.
"hmm,ya..iya tuan,kami permisi..."pamit mereka dengan canggung,masih tak percaya bos kejam mereka perlahan semakin berubah.
"maaf y,kami gk bisa datang ke acara pernikahan kalian,tpi tenang nanti kadonya nyusul kok..."ucap indah dengan senyum lembut di balik cadarnya.
"terima kasih nyonya..."jawab Cici dengan hormat,dan di balas anggukan oleh indah.
setelah kedua pasangan baru itu pergi,barulah Bastian dan indah masuk mobil dan keluar mansion dengan beberapa pengawal.
pagi ini saat Bastian dan indah ingin pergi tiba-tiba Erick dan Cici berpamitan akan pulang kerumah orang tua Cici yg di kampung, apalagi mengingat mereka sudah tak bekerja lagi dengan Bastian,yg berarti mereka bebas dengan perintah Bastian,tpi mereka sangat menghormati Bastian walaupun nanti jumpa di luar mereka sudah bukan berstatus bawahan dan atasan.
Risa sudah lebih dahulu pergi,bahkan pagi², Bastian dan indah tak tau dia mau kemana,tpi sebelumnya indah menyarankan agar bekerja di perusahaan suaminya tpi seperti Risa ingin mencari pengalaman baru, sehingga dia pamit pergi terlebih dahulu.
Bayu?..dia engk kemana² tetap sama, masih bawahan Bastian tpi tidak di dunia gelap melainkan sebagai asisten di perusahaan shander.
Oky kembali lagi..
__ADS_1
mobil Bastian tiba di rumah Anggara,yg sudah di sambut oleh mereka,bahkan Oma dan opa juga keluar menyambut cucunya itu.
"apa kabar sayang?..."Oma langsung memeluk indah sayang,sedangkan opa memeluk cucu dari anak pertamanya itu.
"apa kabar Bastian?..."tanya opa.
"Alhamdulillah baik opa,.."Bastian seberusaha mungkin agar berkata lembut dan tidak datar.
opa tersenyum,dia tau cucunya ini sudah beda agama dengnnya.
"aduh,knp di sini ayok masuk,mom,dad..ayok masuk,ayok nak..."tiba-tiba ana datang.
"assalamualaikum...Tante"indah Salim pada ana.
"waalaikumsalam sayang.."jawab ana,karena dia Islam,bisa di bilang di mualaf karena mengikuti suaminya yg berasal dari Indonesia dan Islam.
"kamu mau apa sayang,biar Oma buatkan..."tawar Oma pada Bastian,si cucu kesayangannya sekarang.
"hm,engk perlu Oma, Bastian masih kenyang.."tolak halus Bastian, apalagi saat ini Omanya menempel padanya,benar² sangat sayang pada dirinya mungkin karena baru berjumpa ya kek gini.
"gk usah malu-malu,sini Oma suap buah apel aja y,ini sehat untuk mu,biar bisa jaga istri mu dan anak mu.."Oma menyodorkan sepotong apel pada mulut Bastian,rencananya Bastian ingin menolak karena ini sungguh tak pernah ada dlm hidup nya di suapi oleh Oma sendiri apalagi di depan keluarga Anggara, sungguh sangat memalukan.
"iya Oma,suap aja Abi,biar sehat dan jaga aku dan anak kami...."mendengar ucapan indah semakin membuat Oma bersemangat untuk menyuapi Bastian,sedangkan Bastian hanya menatap istrinya kesel,apa istri nya ini ingin mempermalukan dirinya di depan keluarga Anggara?..,tpi sebentar bukan itu maksud indah melainkan agar Bastian biasa merasakan kasih sayang seorang Oma sebelah mommy nya.
"udh Oma.."tolak Bastian,dengan susah payah menelan apel itu.
"buka lagi mulut kamu cucu Oma..ayok.."karena tak tega Bastian hanya pasrah membuka mulut dan memakan apel itu dengan perasaan sensara.
__ADS_1
"itulah yg kami rasakan!.."batin Dimas dan citia melihat kelakukan Omanya tak pernah berubah, dulu mereka seperti itu juga, sungguh memalukan,kalau masih kecil,oky² aja lah,ini mereka sudah dewasa ,ya ampun malunya.
indah hanya bisa menahan senyum melihat raut keterpaksaan suaminya itu, tiba-tiba dia teringat sama buk Jum dan uncle farel yg tidak ada di ruang keluarga ini.
"oh y Tan, uncle dan buk Jum kmn?.."
"uncle lagi di perusahaan karena ada sedikit masalah di sana,klau buk Jum mungkin ada di kamar,.."jawab ana yg duduk di antara dua anaknya.
"hm,tumben buk Jum di kamar?.."indah menyerngitkan dahinya,karena ini masihlah pagi,tak biasanya buk Jum seperti ini.
"mungkin lagi istirahat, walaupun lukanya sudah kering..."sahut Dimas yg baru membuka suara.
"yaudah kalau gitu indah mau liat ibuk dulu,citia temenin kk yuk.."ucap indah yg sudah berdiri dari duduknya.
"ayok kk,biar citia tunjukkan kamarnya..."nanas citia.
sebelum pergi indah berpamitan pada Bastian yg benar-benar di perlakukan seperti anak kecil olah Oma.
"bi,umi pergi sebentar y ke kamar buk jum,Abi di sini aja...by.."Tampa menunggu jawaban Bastian yg seperti meminta tolong di lepaskan oleh jeratan Oma,indah lebih dulu pergi,dia sengaja agar Bastian terbiasa dengan keluarga barunya itu.
"kk,kesian tuh kk Bastian.."ujar citia dengan berjalan menuju ke kamar buk Jum dengan beriringan dengan indah.
"biarkan saja,biar dia merasakan kasih sayang keluarga.."
"emang selama ini kk Bastian blm merasakan kasih sayang keluarga?.."sontak pertanyaan citia membuat indah diam,tpi dengan cepat dia beralih pembicaraan,karena bingung mau jawab apa.
"eh,yg mana nih kamar ibuk..."
__ADS_1
"oh iya,lupa kk,belok kanan dan tak jauh dari situ nanti jumpa kamar buk Jum..."ujar citia dengan menepuk kepalanya karena hampir saja lupa tujuannya tadi,sedang indah bernafas lega karena citia tak bnyk nnyk.