Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 99


__ADS_3

"Ibu… hiks… hiks… hiks… !" tangis Alexa seolah ia juga merasakan rasa sakit yang pernah dialami oleh mendiang Ibunya.


"Alexa, putriku, maafkan Ayah… , " melihat putrinya menangis, Pak Hendra pun ikut menangis kembali menyesali semua perbuatannya di masa lalu.


"Aku tidak menyalahkan Ayah, aku hanya membayangkan rasa sakit yang dialami Ibu," jawab Alexa dengan mengusap air matanya.


Melihat semua itu membuat Ricard benar-benar berpikir keras, siapakah yang sebenarnya wanita yang saat ini benar-benar dicintai dan disayangi olehnya? sebagai wanita spesial di dalam hidupnya.


Ricard menatap Alexa lalu menatap Septi secara bergantian dan ia melakukannya berulang kali. Berusaha memantapkan hatinya untuk memilih salah satu dari keduanya, siapa yang paling ia cinta?.


"Nak Ricard, lebih baik memikirkannya secara matang sebelum melangkah ke pelaminan. Aku hanya menyarankan agar apa yang sudah terjadi kepada Aku tidak terjadi juga kepada nak Ricard dan juga yang lain." saran Pak Hendra.


"Maaf Pak, Saya belum bisa memutuskan nya sekarang, biarkan Saya berpikir dulu." sahut Ricard.


"Baiklah, pikirkan secara matang," ucap Pak Hendra seraya menepuk pundak Ricard.


"Ayah, sudah malam, lebih baik kita bermalam disini saja," ucap Alexa seraya mengelus kepala Sakti yang telah tertidur nyenyak di pangkuannya.


"Baiklah,"

__ADS_1


Dan bersamaan dengan saat itu, Saga yang telah kembali dari masjid, melihat Sakti yang tertidur di pangkuan Alexa, segera menghampirinya dan berniat mengangkat bocah itu.


"Kau pasti lelah sekali," ucap Saga seraya mulai mengangkat tubuh mungil Sakti.


Namun, seperti tidak ingin dipisahkan bocah itu kembali meraih pakaian Alexa, dan memegangnya erat-erat.


"Sepertinya dia tidak ingin berpisah dengan ku," gumam Alexa yang langsung membuat Saga tersenyum.


Dan akhirnya mau tidak mau Alexa harus ikut berdiri bersama Saga dan berjalan beriringan mengantarkan Sakti ke kamarnya.


Pak Hendra yang melihat itu semua merasa sangat bahagia, ia berdoa agar semoga apa yang dilihatnya malam ini akan segera menjadi nyata.


Ia sudah tidak sabar ingin melihat Alexa bahagia bersama Saga dan memiliki keturunan dengannya.


Sedangkan Pak Hendra, ia telah pergi entah kemana.


Saga menidurkan Sakti di atas ranjangnya, karena memang mereka tinggal dalam satu kamar.


Dengan perlahan dan sangat hati-hati Saga melepaskan pegangan tangan nya dari tubuh anak kecil itu, namun Sakti tidak melepas pegangan tangannya di pakaian Alexa.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Jika ditarik terlalu keras dia pasti akan terbangun." ucap Alexa kepada Saga yang telah tersenyum kepadanya.


"Bukankah malam ini kau akan menginap?" bukannya menjawab Saga malah balik bertanya.


"Ya,"


"Kalau begitu, tidurlah dikamar ini bersamanya, dia juga masih merindukanmu," pinta Saga.


"Tapi… !"


"Aku akan tidur di masjid bersama dengan para santri, oh iya, untuk Septi, biar dia tidur di kamar Mama,"


"Baiklah."


Saga tersenyum kemudian beranjak dari duduknya, Alexa pun merebahkan tubuhnya di samping Sakti dan mulai memejamkan kedua matanya. Jujur ia pun merasa sangat mengantuk.


Baru beberapa langkah Saga meninggalkan Sakti dan Alexa, kemudian ia berbalik badan menatap kedua orang yang sedang tertidur di atas ranjangnya.


"Semoga saja kita masih berjodoh, aku memimpikan memiliki putra dan putri denganmu, Alexa." gumam Saga yang masih bisa didengar oleh Alexa walaupun hanya sayup-sayup.

__ADS_1


Membuat Alexa tersenyum, karena saat ini ia masih belum benar-benar tidur.


Saga kembali melanjutkan langkahnya menuju masjid, malam ini ia ingin memohon petunjuk dari Tuhan akan kelangsungan hubungannya dengan Alexa.


__ADS_2