Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 113


__ADS_3

Sebulan sudah Alexa dan Saga hidup terpisah. Namun, belum juga ada kabar berita dari pria itu, sehingga membuat kondisi Alexa semakin hari semakin menurun.


Dua puluh orang anggota mafia yang bertugas menjaga keamanan Alexa dan seluruh keluarganya, hilir mudik melakukan penjagaan di sekitar pesantren.


Seperti biasa, semenjak berpisah dengan Saga, Alexa lebih banyak mengurung diri didalam kamar yang dulunya ditempati oleh Saga. Seakan tidak pernah bosan Alexa memandangi foto Saga yang terpajang di dinding kamar.


"Kapan kau pulang? Disini aku merindukan dirimu," bisik Alexa dengan lirih.


Perlahan air matanya jatuh berderai mengalir di pipinya. Macam orang tidak waras saja Alexa mengajak bicara foto Saga bahkan, sesekali ia memeluknya.


TOK


TOK


TOK


Bunyi pintu diketuk tiga kali.


"Masuk!" seru Alexa tanpa bergeming dari tempatnya. Ia meletakkan foto Saga pada tempatnya semula.


Tampaklah Ibu Lalika setelah pintu terbuka dengan membawa sebuah nampan berisi nasi dan lauk-pauknya, ibu Lalika sangat perhatian kepada Alexa. Apalagi semenjak kepergian Saga, Alexa lebih banyak menyendiri.


Urusan kantor pun ia wakilkan kepada Ricard dan Septi sementara perusahaan yang dikelola Saga, diserahkan kembali kepada Pak Hendra yang dibantu oleh Raffi.


"Makanlah, sejak tadi pagi kau belum makan," ucap Bu Lalika seraya menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauknya.


Namun, bukannya menerima, Alexa justru pergi menjauh dari piring tersebut. Lalu berlari ke dalam kamar mandi.


Terdengar suara Alexa muntah-muntah disana. Dengan segera Bu Lalika meletakkan piring itu kemudian bergegas menemui menantunya.

__ADS_1


"Kau kenapa?" Bu Lalika memijat tengkuk leher Alexa dengan lembut.


Alexa terus saja memuntahkan isi di dalam perutnya, walaupun hanya cairan berwarna kekuningan. Karena memang di dalam perutnya belum terisi makanan walau sedikit pun.


"Aku juga tidak tahu Ma," jawab Alexa dengan suara lemah. Mungkin karena terlalu banyak energi yang ia keluarkan karena muntah-muntah.


"Ayo, Mama bantu!" Bu Lalika memapah Alexa menuju ke arah ranjangnya.


"Sekarang tiduran dulu, agar rasa pusing di kepalamu sedikit berkurang," saran Bu Lalika.


Alexa pun menurut, karena memang saat ini yang dirasakan hanyalah rasa pusing yang kemudian menimbulkan mual.


Baru sesaat Alexa merebahkan diri, aroma makanan yang dibawa oleh Bu Lalika yang diletakkan di atas nakas samping ranjangnya kembali mengaduk-aduk perut Alexa yang membuatnya sontak berlari ke arah kamar mandi kembali.


Seperti sebelumnya kali ini Alexa pun muntah-muntah di sana, sehingga seluruh tubuhnya menjadi lemas. Wajahnya pun berubah pucat pasi seputih kapas.


Melihat semua itu, respek Ibu Lalika mengira kalau rasa mual yang dialami oleh menantunya itu disebabkan oleh aroma masakan yang dibawanya. Oleh karena itu dengan segera Ibu Lalika membawa makanan itu keluar dan meletakkannya kembali di dapur.


Rupanya Alexa masih berada di kamar mandi dengan rasa mual yang masih melanda dirinya.


Ibu Lalika meraih minyak kayu putih kemudian mengoleskan nya di tengkuk leher serta di kedua pelipis Alexa.


"Apakah masih terasa pusing?" tanya Bu Lalika kepada Alexa yang menyandarkan kepalanya di pelukannya.


"Sudah mending ma," jawab Alexa dengan suara yang semakin lemah.


Kembali Bu Lalika memapah Alexa menuju ke ranjangnya ketika dirasanya menantunya itu tidak lagi mual.


"Mungkin kau masuk angin, atau Jangan- jangan–," Bu Lalika memijat-mijat tangan dan kaki Alexa yang telah terbaring di ranjangnya.

__ADS_1


"Jangan-jangan kenapa Ma?" tanya Alexa memotong pembicaraan Ibu mertuanya.


"Kamu hamil." Seketika pemikiran itu terlintas di dalam benaknya.


Mengingat ketika dulu dirinya yang sedang hamil Rian selalu mengalami gejala itu.


"Apa? Aku hamil?" Alexa membelalakkan kedua matanya dengan mulut yang menganga lebar.


"Bagaimana mungkin, kami hanya–," Alexa menghentikan perkataan nya ketika ia menyadari apa arti dari ucapannya tersebut.


"Apanya yang tidak mungkin?" Bu Lalika menghentikan pijatan tangannya lalu menatap intens ke arah wajah menantunya.


Dengan malu-malu Alexa berkata, "Setelah menikah kami hanya menghabiskan waktu bersama satu malam saja ma. Apa mungkin bisa jadi?"


Mendengar ucapan konyol dari menantunya itu, membuat Bu Lalika tersenyum.


"Jika saat itu kalian tidak menggunakan pengaman, maka bisa saja jadi," ucap Bu Lalika seraya terus tersenyum.


Alexa hanya terdiam mengingat kembali malam itu, sebuah malam yang indah. Namun, siapa sangka justru malam itu menjadi malam perpisahan bagi mereka.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan." Bu Lalika membuyarkan lamunan Alexa.


"Aku hanya memikirkan bagaimana jika Saga tidak pulang sampai anak ini lahir." Alexa mulai mengelus perutnya yang datar.


"Untuk memastikan mama akan membeli test pack untukmu," ucap Bu Lalika, mengingat tidak mungkin bagi Alexa pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya.


"Oh, ya, Jaga diri baik-baik jika perlu sesuatu panggil saja Tiara atau anak santriwati," saran Bu Lalika sebelum pergi.


"Baik, ma, Terimakasih," sahut Alexa.

__ADS_1


Sepeninggal Bu Lalika, Alexa kembali menangis. Ia merasa khawatir menghadapi masa-masa sulit saat hamil, apalagi saat ini Saga tidak berada disisinya.


__ADS_2