
"Beginilah keadaan rumah kami sejak dulu tuan," ucap Alexa ketika mendapati Saga yang seolah bingung berada di dalam rumah itu.
Sedangkan Mbok Mirah pergi ke dapur untuk membuatkan minuman, Saga dan Alexa mulai terasa lebih akrab. Sesekali terdengar suara tawa renyah dari keduanya.
"Berapa lama kau tinggal disini?" tanya Saga merasa penasaran, bagaimana mungkin gadis cantik seperti Alexa bisa tinggal berlama-lama di rumah itu.
"Sejak masih berada di dalam kandungan!" suara itu terdengar di balik tirai pemisah antara ruang depan dan dapur.
Tampak asap mengepul dari arah dapur, sontak membuat Saga terkejut dan berteriak.
"Kebakaran… kebakaran… !!"
Raffi yang sedang berada di dalam mobil segera turun dan berlari menuju ke arah rumah Mbok Mirah.
"Ada apa tuan?" tanya Raffi begitu ia sampai di rumah kecil milik Mbok Mirah.
Alexa tertawa lepas melihat tingkah lucu dua pria gagah di depannya.
"Mengapa tertawa? ada yang lucu?" Saga menekuk wajahnya karena ditertawakan oleh Alexa.
"Sebenarnya, itu bukan asap kebakaran tuan, melainkan asap tungku." jawab Alexa dengan menahan tawanya karena takut akan mendapatkan amarah dari suaminya.
"Tungku? untuk apa menyalakan tungku? Mau berkemah?" tanya Saga merasa heran, wajahnya sedikit cemberut karena merasa jengkel kepada Alexa.
Sekali lagi Alexa tertawa renyah, menampilkan suasana hatinya yang sedang bahagia. Kebahagiaan yang sempat hilang semenjak ia menikah dengan Saga.
Kemudian, Mbok Mirah keluar dari arah dapur dengan membawa dua buah gelas teh panas yang baru saja dibuatnya.
"Tungku banyak fungsinya tuan, bisa untuk memasak, merebus air untuk membuat teh ini juga bisa tuan." jawab Mbok Mirah seraya meletakkan dua gelas teh panas di depan Saga dan Alexa.
"Oh, jadi, kalian bertiga? Maaf ya tadi Mbok pikir cuma berdua." Mbok Mirah tersenyum.
"Tunggu ya, biar Mbok buatkan satu lagi," lanjut Mbok Mirah, seraya hendak pergi ke arah dapur.
"Mbok! Tidak usah! Ini buat Raffi saja!" seru Alexa menghentikan langkah Mbok Mirah. Kemudian kembali duduk di tempatnya.
Kemudian, Alexa menggeser gelas itu ke hadapan Raffi.
"Tidak perlu nyonya," ucap Raffi merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa, aku juga tidak suka minum teh." jawab Alexa, seraya tersenyum ke arah Raffi.
Mbok Mirah yang duduk bersebelahan dengan Mereka bertiga, merasa heran ketika mendengar Raffi menyebut Alexa dengan sebutan nyonya.
"Nyonya? sejak kapan kau menjadi nyonya Lexa?" tanya Mbok Mirah dalam kebingungannya.
Alexa terdiam, sebenarnya ia merasa malu untuk menjawabnya.
"Alexa adalah istri ku Mbok, baru kemarin kami menikah!" jawab Saga dengan tegas dan membuat Mbok Mirah terperanjat.
"Menikah? Jadi… kalian sudah menikah? Maksudku, kalian menjadi pasangan suami-istri sekarang?" tanya Mbok Mirah lagi, seolah ia masih belum percaya.
"Iya Mbok, kami memang telah menikah." dan barulah Mbok Mirah percaya ketika mendengar langsung dari Alexa.
"Selamat Alexa, ternyata darah biru mu, sangat kental." ucap Mbok Mirah merasa senang, akhirnya Alexa yang dianggap sebagai anak sendiri telah menjadi istri dari orang yang sangat kaya.
"Sebenarnya kami kesini untuk mengajak Mbok tinggal di mansion kami, agar Mbok tidak sendirian lagi, lagi pula disana Mbok bisa selalu bersama dengan Alexa, menemani Alexa disaat aku dikantor." pinta Saga dengan sungguh-sungguh.
Alexa sendiri terkejut mendengar perkataan suaminya, karena sedari tadi Saga tidak pernah memberitahunya bahwa ia akan mengajak serta Mbok Mirah bersamanya.
Saga menganggukkan kepala, sebagai isyarat Alexa harus ikut membujuk Mbok Mirah, dan Alexa pun mengangguk, menyetujui.
Mbok Mirah tampak sedang berpikir untuk memberikan jawaban yang tepat.
"Tapi Lexa, dirumah ini begitu banyak kenangan keluarga kita, mendiang suamiku, anakku dan juga ibumu." ucap Mbok Mirah berniat untuk menolak.
Namun, pada akhirnya setelah di bujuk oleh Alexa berkali-kali, Mbok Mirah pun menyerah.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, Mbok ikut saja," Mbok Mirah memberikan jawaban yang diinginkan oleh Saga dan Alexa.
Setelah berbincang-bincang agak lama, Mbok Mirah pergi ke dapur, dan tak lama kemudian, ia pun kembali dengan membawa sebakul nasi beserta lauk-pauknya.
Mbok Mirah menyajikan makanan itu di atas meja. Membuat kedua mata Saga melotot, melihat menu makanan di depannya.
"Apa ini?" Saga bertanya, karena ia memang tidak tahu-menahu tentang menu makanan kampung.
Mbok Mirah dan Alexa tersenyum melihat Saga yang terkejut.
"Ini adalah menu makanan di kampung tuan." ucap Raffi menjawab pertanyaan bosnya.
__ADS_1
Ya, Raffi yang merupakan golongan dari kelas menengah ke bawah, pastinya pernah merasakan lezatnya menu makanan kampung.
"Ya, nak Raffi benar, ini adalah menu makanan kampung, namun rasanya sangat lezat, di kota kalian tidak akan pernah menjumpai menu ini." sahut Mbok Mirah.
"Ini makanan kesukaan ku," celetuk Alexa.
Ya, nasi jagung, yang lebih banyak beras jagungnya, ikan asin dan sayur daun kelor. Adalah menu favorit Alexa sejak ia masih kecil.
Bahkan sampai sekarang Alexa masih suka memakannya.
Saga meringis ketika melihat Alexa dengan mantap memakan menu itu, sungguh terbayang di wajahnya rasa yang tidak enak.
Lain halnya dengan Raffi yang langsung mengambil sepiring nasi, serta lauknya yang antik.
"Ayolah tuan, sekali-kali coba rasakan masakan kampung ini," ucap Raffi seraya mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Sudahlah, jangan terlalu dipaksakan, jika tidak pernah memakannya, maka lebih baik jangan coba-coba, atau nanti kau akan sakit perut." timpal Alexa dengan masih sibuk menyeruput kuah sayur daun kelor.
"AAHH…..," suara mulut Alexa setelah selesai menyeruput kuah sayur daun kelor, sungguh nikmat kelihatannya.
Justru itu membuat Saga tergiur untuk mencobanya.
Sedikit-sedikit Saga mulai mengambil nasi, ikan asin dan kuah sayur daun kelor.
Perlahan Saga memasukkan makanan itu ke dalam mulut nya. Sambil memicingkan mata, Saga mulai mengunyah suapan pertamanya.
Baru sekali kunyah, Saga merasakan sensasi yang tak biasa, rasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
"Ternyata enak!" seru Saga kemudian, dengan lahap ia menghabiskan makanan di piringnya.
Alexa, Mbok Mirah dan Raffi mengulum senyum melihat tingkah laku Saga yang seperti sedang kesetanan melahap habis makanannya.
"AAAAK!" Saga bersendawa setelah menghabiskan makanannya.
"Benar-benar nikmat Mbok!" Saga mengacungkan dua jempol nya ke arah Mbok Mirah.
"Syukurlah, Mbok senang jika nak Saga suka." sahut Mbok Mirah dengan senyum yang merona karena di puji oleh Saga.
Setelah semua selesai makan, Mbok Mirah kembali merapikan piring kotor dan wadah nasi serta wadah lauk-pauknya. Tentu saja dengan dibantu oleh Alexa.
__ADS_1
Setelah itu, mereka kembali berbincang-bincang di ruang depan.
"Maafkan Mbok ya nak Saga, karena Mbok pernah berbuat kasar kepada nak Saga tempo hari." Tiba-tiba Mbok Mirah meminta maaf.