
"Papa!!" sontak Tiara dan ibunya berseru setelah melihat Pak Hendra berdiri di belakang mereka.
"Inikah hasil didikan ku padamu? Inikah caramu membalas kasih sayangku? Aku kecewa padamu, aku kecewa pada kalian berdua!" sentak Pak Hendra setengah berteriak karena merasa di permalukan oleh istri dan putrinya sendiri.
"Apa salah Alexa kepada kalian? Sehingga kalian tega mempermainkan perasaan nya seperti ini!" kemarahan Pak Hendra semakin memuncak, dan itu membuat penyakit hipertensi yang dideritanya kambuh.
Baru saja selesai memarahi anak dan istrinya, tiba-tiba Pak Hendra merasa pusing. Wajahnya memerah, serta kedua matanya melotot. Pertanda hipertensi nya naik.
Tak dapat dielakkan lagi, tubuh Pak Hendra ambruk di depan anak dan istrinya yang sedang terkejut melihat kondisi Pak Hendra.
"Papa!!" teriak keduanya hampir bersamaan.
Bu Lusi dan Tiara segera bersimpuh di samping Pak Hendra. Bu Lusi memangku kepala suaminya. Sedangkan Tiara terlihat bingung.
"Tiara! Cepat cari bantuan!" teriak Bu Lusi karena melihat Tiara hanya diam saja.
Sontak membuat Tiara terkejut.
"I-iya Ma!" sahut Tiara gugup karena terkejut.
Kemudian, ia berlari ke arah depan halaman Mansion, dimana terdapat dua orang security sedang bertugas disana.
Tiara pun kembali dengan dua orang security di belakangnya.
Kedua security itu menggotong tubuh Pak Hendra masuk kedalam mobil yang telah disiapkan oleh seorang supir.
Mobil pun melaju cepat menuju rumah sakit terdekat. Membawa Pak Hendra yang ditemani oleh Bu Lusi di kursi belakang, sedangkan Tiara duduk di samping supir.
"Papa, bangun Pa, Papa harus sadar! Papa tidak boleh tinggalin Mama!" Bu Lusi berusaha menyadarkan suaminya.
Sedangkan Tiara masih terlihat bingung, sesekali ia menoleh kebelakang menatap wajah Ayahnya.
Kurang lebih tiga puluh lima menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Sebelum sampai di ruang IGD, mereka berpapasan dengan Alexa da Saga yang hendak pulang saat itu.
"Ayah! Ayah kenapa? Ayah…!" Alexa berteriak memanggil Ayahnya dengan sangat khawatir. Suaranya terdengar panik.
Alexa pun berlari mengikuti arah brankar yang membawa Ayahnya yang sedang tak sadarkan diri.
Setelah sampai di ruang IGD, dan selesai
Menjalani pemeriksaan, akhirnya Pak Hen£a dipindahkan ke ruang rawat inap. Menurut diagnosa dokter, Keadaan Pak Hendra sangatlah parah, dengan tekanan darah 180/120) mmhg.
"Ayah kenapa Bi?" Alexa bertanya kepada Bu Lusi yang sedang duduk disamping Pak Hendra.
"Hipertensi Ayahmu kambuh, mungkin karena terlalu banyak pikiran." jawab Bu Lusi seraya menatap tangan Alexa yang di perban.
__ADS_1
"Tanganmu kenapa?" tanya Bu Lusi kemudian.
Sebelum Alexa menjawab ia melanjutkan pertanyaannya kembali.
"Saga juga, kenapa kepalanya diperban?"
"Saga kecelakaan Bi, dan tanganku tergores kaca mobil." jawab Alexa apa adanya.
"Jadi, kalian kecelakaan?" Bu Lusi terkejut. Namun, kemudian ia memasang raut wajah tidak senang. Dalam hati ia berkata.
'Mengapa kau harus selamat Alexa, mengapa kau tidak mati saja!'
"Mobil Saga terbakar Bi, beruntung dia masih bisa keluar dari mobilnya, jika tidak…!" Alexa tidak meneruskan kata-katanya, membayangkannya saja Alexa tidak sanggup.
"Jadi, kalian tidak satu mobil?" tanya Bu Lusi ketika mendengar mobil Saga telah terbakar.
Alexa menggelengkan kepalanya, sedangkan Bu Lusi menghela napas berat, ternyata dugaannya salah.
"Sekarang kau pulang saja, Ayahmu, biar aku dan Tiara yang menjaga," ucap Bu Lusi kemudian.
"Baiklah, aku pulang dulu ya Bi, titip Ayah!" Alexa menyetujui usulan Bu Lusi, dikarenakan tangannya memang sangat sakit.
Sedangkan Saga yang berada diluar kamar tempat Pak Hendra dirawat, duduk bersandar dengan memegangi kepalanya yang mulai berdenyut, karena efek dari obatnya mulai berkurang.
Sebenarnya Tiara ingin mencari muka di depan Saga dengan berniat membantunya. Namun, Saga menolak, karena ia tidak ingin disentuh oleh Tiara yang suka nyosor duluan, menurut Saga.
"Ayo!" Saga segera beranjak dari duduknya.
"Tiara, aku titip Ayah, jaga dia baik-baik!" Alexa berpesan kepada Tiara yang memandang nya penuh kebencian.
Tiara semakin membenci Alexa, dikarenakan Saga sangat perhatian kepadanya, sedangkan kepada dirinya, Saga sangat dingin bahkan tidak segan-segan mengikat dan menyekapnya didalam kamar.
Tiara mengangguk lalu berkata, walau sedikit dipaksakan.
"Hati-hati!"
Alexa tersenyum sebelum menganggukkan kepalanya. Lalu pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Di mansion.
Oma Hesti tampak khawatir, karena tidak ada kabar sama sekali dari Tiara. Oma Hesti mengetahui tentang apa yang terjadi kepada Pak Hendra dari salah satu pelayan nya yang melihat peristiwa itu. Namun, pelayan itu tidak mendengar apa yang telah membuat Pak Hendra sampai pingsan.
Belum hilang kekhawatiran terhadap Pak Hendra, Oma semakin terkejut, ketika melihat cucu dan menantunya pulang dalam keadaan sama-sama di perban di bagian kepala dan juga tangannya.
"Kalian kenapa? Apa yang terjadi? Mengapa kalian di perban seperti ini?" berbagai pertanyaan dilontarkan begitu saja oleh Oma.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Oma, hanya cidera kecil," ucap Saga menyembunyikan sebenarnya yang terjadi, karena ia tidak ingin membuat Oma Hesti semakin Khawatir.
"Syukurlah jika begitu,"
Beruntung sebelum pergi kerumah sakit, Saga sempat meminta bantuan seorang polisi agar melarang wartawan untuk mengambil gambar mobilnya. Sehingga peristiwa itu, tidak di publish kan di publik.
Jika saja tidak, maka akan dapat dipastikan, semua peristiwa itu akan terkoar-koar hingga ke seluruh pelosok kota, dan pasti nya akan membuat seluruh keluarganya merasa khawatir, sedangkan Saga tidak ingin itu semua terjadi.
"Alexa, tadi Ayahmu kesini, kemudian ia pingsan dan dibawa kerumah sakit, Oma khawatir sekarang bagaimana keadaannya?" ucap Oma.
"Tadi kami bertemu di rumah sakit, Oma. Dan, Ayah masih tidak sadar kan diri." sahut Alexa.
"Oh, jadi kalian sudah bertemu?"
"Ya, Oma!"
"Syukurlah!"
"Kami istirahat dulu Oma, pusing!" celetuk Saga.
"Iya, Oma! Tanganku juga sakit!" sambung Alexa.
"Ya sudah, kalian istirahat saja, biar cepat sembuh!" jawab Oma seraya mengusap kepala cucu dan menantu nya.
Di dalam kamar.
Alexa yang telah menempati kamar tamu sejak beberapa hari yang lalu, merasa kesusahan untuk melepaskan pakaiannya.
"Tidak mungkin aku mandi dengan memakai baju seperti ini!" gerutu Alexa seorang diri.
"Ah! Kenapa tangan ini sangat sakit!" keluh Alexa dengan wajah yang meringis menahan rasa sakit dan perih pada kedua tangannya.
"Butuh bantuan?" tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah pintu yang sedikit terbuka.
Sontak membuat Alexa terkejut.
"Kau! Untuk apa kemari?" tanya Alexa dengan membelalakkan kedua matanya.
"Membantu mu, aku tahu kau pasti sangat kerepotan melakukan sesuatu." jawab Saga seraya menutup kembali pintunya.
"Termasuk melakukan ini." ucap Saga tangannya kini mulai menarik resleting dres Alexa yang memang berada di bagian belakang. Membuat dres itu perlahan merosot kebawah, menampilkan punggung Alexa yang putih mulus dan seksi.
GLEK.
Saga menelan salivanya, saat memandang punggung Alexa yang terekspos jelas didepan matanya. Lagi-lagi pertahanannya dipertaruhkan.
__ADS_1
Dengan segera Alexa menahan dengan kedua lengannya, sehingga dres itu tidak merosot seluruhnya ke bawah. Setidaknya masih ada pelindung dirinya.