
Alexa tersenyum ketika melihat raut wajah Bu Lusi yang memerah karena merasa tidak nyaman dipanggil dengan sebutan Bibi oleh Alexa, baginya panggilan Bibi sama saja dengan menyamakan dirinya dengan pelayanan atau pembantu.
Akan tetapi tidak bagi Alexa, panggilan itu ia berikan karena Bi Lusi adalah adik dari ibunya, jadi wajarlah kalau Alexa memanggil Bibi.
'Kenapa harus dipanggil Bibi? Kenapa bukan Aunty?' pikir Bu Lusi dengan wajah masam.
Alexa segera meraih tangan kanan Bu Lusi lalu menciumnya, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya Alexa merasa benci kepada wanita itu. Namun, Alexa tetap bersikap sopan. Sungguh suatu sikap yang sangat bertolak belakang dengan Tiara yang semakin egois dan kurang ajar.
"Alexa, ayo makan bersama Ayah!" ajak Pak Hendra ketika ia teringat kalau dirinya sedang makan.
"Aku sudah kenyang Yah, tapi… jika untuk sekedar menemani boleh," sahut Alexa.
"Mama sudah makannya?" tanya Pak Hendra kepada istrinya.
"Sudah." jawab Bu Lusi ketus.
Akhirnya Pak Hendra kembali melanjutkan makannya dengan ditemani oleh Alexa yang tersenyum bahagia bisa menemani Ayahnya kembali setelah bertahun-tahun mereka terpisah untuk yang kedua kalinya.
Walaupun perpisahan itu disebabkan oleh Ayahnya sendiri.
Dan untuk bisa sampai kesana Alexa harus memohon kepada Eyang Netty yang enggan memberikan izin kepada nya untuk menemui Ayahnya, namun karena kesabaran Alexa akhirnya ia di izinkan oleh Eyang Netty untuk pergi menemui Ayah nya.
"Yah, dimana Tiara?" tanya Alexa karena ia tidak melihat adiknya itu.
"Dugem." jawab Pak Hendra singkat.
"Apa?" dan jawaban itu cukup membuat Alexa merasa terkejut.
"Mau bagaimana lagi, sebenarnya Ayah telah mencoba untuk melarangnya, tapi dia tidak pernah mendengarkan Ayah." jawab Pak Hendra setelah selesai mengunyah suapan terakhirnya.
"Yah, sebenarnya kedatangan Alexa kesini ingin mengajak Ayah menjenguk Sakti, kasihan dia Yah," ucap Alexa menuturkan maksud kedatangannya.
"Apakah Ayah bersedia?" Alexa menatap wajah Pak Hendra dengan penuh harap, kemudian sebuah senyum menghiasi wajahnya ketika mendengar jawaban dari Pak Hendra.
"Baiklah, nanti kita kesana."
"Tapi inikan sudah malam Pak, apa tidak ada hari besok untuk pergi kesana?" celetuk Bu Lusi secara tiba-tiba, rupanya ia menguping pembicaraan antara suaminya dan Alexa.
"Jika mau ikut, ayo dan jika tidak lebih baik diam saja, tidak usah ikut campur." sahut Pak Hendra yang merasa jengkel kepada istrinya.
Tiara saja yang akan pergi ke club malam ia tidak masalah dan mengapa Bu Lusi seperti nya keberatan mendengar suaminya akan pergi bersama Alexa, bukankah mereka hanya ingin menjenguk cucunya.
Setelah hampir satu jam mereka mengendarai mobil, mereka pun tiba di PONPES SULLAMUL HIDAYAH. Suasana malam di pondok Pesantren itu sangatlah ramai, para santri berlalu lalang hilir mudik dari asrama masing-masing menuju ke masjid dengan membawa beberapa kitab di tangannya.
"Inikan pesantren?" tanya Pak Hendra merasa heran, karena sebelumnya baik Tiara maupun Alexa tidak ada yang bercerita kalau Saga dan Sakti tinggal di pesantren itu.
"Iya Yah, mereka tinggal disini, dan Kakeknya Saga adalah pemilik pesantren ini." jawab Alexa.
Kemudian ia meraih sebuah hijab untuk menutupi bagian kepalanya.
"Cantiknya putri Ayah, siapapun akan pangling melihatmu seperti ini," Pak Hendra berdecak kagum melihat kecantikan Alexa setelah berhijab.
Kecantikan Alexa memang terlihat berbeda, ia sungguh mempesona dengan setelan gamis berwarna dusty.
"Ah, Ayah bisa saja," ucap Alexa yang tersipu malu karena dipuji oleh Ayahnya.
"Mari Yah!" Alexa mengajak Pak Hendra memasuki kawasan pesantren.
__ADS_1
Pak Hendra berdecak kagum melihat betapa luasnya kawasan pesantren itu, tidak henti-hentinya ia mengagumimu pesantren itu.
Tak lama kemudian Alexa pun sampai di teras rumah Ndalem. Suasana disana begitu sepi hanya tampak sseorang laki-laki sedang duduk di kursi di depan Ndalem.
"Assalamualaikum, permisi Pak Ustadz," sapa Alexa ketika tiba disana.
Sontak membuat Saga terkejut mendengar suara Alexa, seorang wanita yang sangat di rindukannya.
"Boleh Saya bertemu dengan Sakti?" Alexa melanjutkan ucapannya.
Rupanya Alexa belum mengenali Saga lantaran penampilannya yang jauh berbeda.
"Waalaikumsalam, Alexa," sahut Saga seraya menatap wajah ayu seorang Alexa.
Dan mendengar suara Saga, sontak membuat Alexa terperangah. Ia tidak pernah mengira kalau pria yang berpakaian Muslim itu adalah Saga.
Alexa seakan tidak berkedip memandang wajah tampan Saga yang berbeda dari biasanya, dan hal yang sama pun terjadi kepada Saga. Ia juga terpikat melihat kecantikan yang dipancarkan oleh Alexa.
"Hem.. Hem!" Pak Hendra berdeham melihat Alexa dan Saga yang saling menatap satu sama lain.
Sontak membuat Saga dan Alexa menarik tatapan mereka masing-masing.
"Boleh kami bertemu dengan Sakti?" tanya Pak Hendra mewakili Alexa yang masih tersenyum.
"Boleh Pak Hendra silahkan!" jawab Saga seraya membuka Pintu.
Begitu pintu terbuka, maka tampaklah seorang anak kecil sedang bermain di dalam ndalem tersebut.
"Sakti!" seru Alexa lalu berjalan mendekati Sakti.
"Tante, Mama mana?" tanya Sakti saat ia tidak bisa menjumpai Ibunya.
"Sakti kangen banget sama Mama," sahut Sakti dengan polos.
"Ya, sayang nanti kalau telah selesai mama Sakti pasti kesini kok," jawab Alexa sekedar menenangkan.
"Sebentar Ya, Sakti mau panggil Oma dulu!" seru Sakti yang kemudian pergi ke belakang.
"Maafkan Aku Pak Hendra atas semua perlakuanku selama ini kepada Anda dan Alexa," ucap Saga tiba-tiba membuat Pak Hendra dan juga Alexa menoleh ke arahnya.
"Harta yang aku peroleh dengan cara kelicikan, ternyata tidak berkah, semuanya hilang begitu saja," Saga melanjutkan ucapannya, kali ini ucapannya terdengar sedikit berwibawa tentu saja karena sering dinasehati oleh Kakek Syarifuddin.
"Tidak perlu meminta maaf Nak Saga, harta Nak Saga tidak hilang seluruhnya," sahut Pak Hendra dengan tersenyum.
"Maksud Anda?" tanya Saga masih tidak mengerti seraya mengernyitkan dahinya.
"Bukankah Nak Saga telah menaruh saham yang cukup besar di perusahaan Saya, maka dari itu Saya bilang kalau harta Nak Saga tidak hilang seluruhnya, dan, Saya sudah tua, Saya berencana untuk menyerahkan saham itu kembali kepada Nak Saga, tentunya dengan mengelola perusahaan Saya." jawab Pak Hendra panjang lebar.
Mendengar jawaban dari Pak Hendra yang tidak terduga, membuat Saga merasa bahagia sekali, tanpa ia sadari saat ini Saga telah memeluk Pak Hendra saking senangnya.
Alexa pun ikut merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh Saga, diam-diam ia tersenyum.
Saga merasa sangat beruntung, disaat dirinya sedang tidak berdaya, Tuhan mengirimkan bantuan kepadanya lewat Pak Hendra.
"Terimakasih Pak Hendra kebaikan Anda sangatlah berharga," ucap Saga seraya melepaskan pekukannya.
"Ternyata ada tamu," ucap Bu Lalika yang baru saja sampai di ruangan itu.
__ADS_1
"Alexa! Kapan datang?" Bu Lalika tersenyum senang bisa bertemu dengan Alexa kembali.
"Ya Bu, bagaimana kabar Ibu, sehatkan?" Alexa bertanya.
"Oma, oma Aunty ini cantik sekali, kayaknya cocok dengan Papa deh," dan ucapan Sakti membuat semua orang yang berada di sana tertawa karena mendengar celotehan Sakti.
"Sakti kau ini bicara apa? Pak Hendra dan Alexa maafkan dia…"
"Kan sebentar lagi Papa mau cerai dengan Mama, jadi tidak ada apa-apa dong," Sakti memotong ucapan Ayahnya.
Sontak membuat semua orang merasa geli mendengar celotehan Sakti, rupanya bocah kecil itu mendengarkan dan merekamnya apa yang telah ia dengar sebelumnya.
Kemudian Bu Lalika menyuguhkan dua gelas minuman dan diberikan kepada Pak Hendra dan Alexa.
"Tidak perlu repot-repot Bu," ucap Alexa ketika Bu Lalika meletakkan gelas itu di depannya.
"Hanya minuman saja Alexa," sahut Bu Lalika dengan senyuman.
"Silahkan diminum." ucapnya lagi.
"Terimakasih,"
"Terimakasih."
"Kakek, kakek maukah bermain denganku?" tanya Sakti ketika Pak Hendra selesai minum.
"Boleh," jawab Pak Hendra lalu mengikuti Sakti yang telah menuntun tangannya.
"Kita main disini Kek," Sakti menunjuk ke depan kamarnya yang berada di ruangan itu juga, tampaklah beberapa mainan seperti mobil-mobilan, pesawat dan truk oleng semua berserakan begitu saja dilantai.
Sementara itu Bu Lalika yang melirik ke arah Alexa dan Saga yang sama-sama terdiam, ia mengerti ada banyak hal yang ingin dikatakan oleh Saga kepada Alexa, hanya saja mungkin karena merasa tidak enak hati kepada Pak Hendra hingga membuat Saga lebih memilih untuk diam.
"Saga, lebih baik kau ajak Alexa melihat-lihat sekeliling pesantren, kasihan dia jika harus diam saja disini!" seru Bu Lalika seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Saga dan membuat pria itu pun mengerti.
Sedangkan Alexa hanya menurut saja ketika Saga mengajaknya berjalan-jalan di sekitar pondok pesantren.
"Pemilik pesantren ini dimana?" tanya Alexa karena tidak melihat pemilik pondok pesantren tersebut.
"Ada, Kakek sedang mengisi pengajian kitab kuning di masjid," ucap Saga dengan tangan yang menunjuk ke arah masjid.
Benar saja apa yang dikatakan Saga, dk masjid itu tampaklah puluhan santri sedang duduk dengan anteng di sana, rupanya mereka sedang mengartikan kitab kuning itu. Yang tentunya dengan dituntun oleh Kakek Syarifuddin.
Alexa terkagum-kagum melihat kawasan pondok pesantren yang luas, apalagi di malam hari gemerlapnya bintang-bintang di langit menambah keindahan pondok pesantren Sullamul Hidayah.
"Disebelah sana kawasan asrama santriwati!" seru Saga dengan menunjuk ke arah bangunan yang berderet di samping ndalem.
"Banyak juga ya para santri disini," ucap Alexa seraya melangkahkan kakinya mendahului Saga. Saat itu mereka berada agak jauh dari ndalem.
Saat Alexa sedang asyik menikmati keindahan langit yang penuh bertaburan bintang-bintang, tiba-tiba saja kakinya terkilir membuat Alexa hampir terjatuh.
"Awww!" pekik Alexa yang merasa terkejut.
Beruntung Saga dengan siaga segera menangkap tubuh Alexa hingga membuat tubuh itu tidak terjatuh dan menyentuh tanah.
Lama mereka dalam posisi itu, saling menatap satu sama lain, posisi yang sama-sama mereka rindukan untuk merajut kasih berdua.
"Kau cantik sekali," Kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir Saga yang terlihat seksi dimata Alexa.
__ADS_1
"Kau juga tampan, bahkan lebih tampan dengan pakaian seperti itu." balas Alexa yang juga memuji ketampanan Saga.
Setelah menyadari posisi masing-masing, akhirnya mereka berdua kembali ke posisi semula. Mereka berdua terlihat malu-malu ketika menyadari ucapan yang baru saja mereka lontarkan tanpa disengaja.