Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 89


__ADS_3

Dan semua yang terjadi kepada Lusi juga pernah terjadi kepada ayahnya sewaktu dulu, sewaktu ia masih berpacaran dengan istrinya yaitu ibu Netty.


Melihat apa yang terjadi dengan putrinya mengingatkan Ibu Netty tentang peristiwa beberapa tahun yang lalu di saat ia masih berstatus sebagai kekasih Pak Wijaya. Dan semua itu membuat Ibu Netty tersenyum-senyum sendirian, membuat Pak Wijaya yang melihatnya merasa heran dan bertanya-tanya.


Ya hal yang seperti kini dialami oleh Lusi adalah hal yang perlu dialami oleh dirinya, bukan istrinya. Pak Wijaya pernah mogok makan selama sehari semalam, lantaran dia cemburu berat ketika melihat ibu Netty jalan berdua dengan seorang cowok. Ayah dan ibunya sampai kebingungan. Dan kemudian menanyakan pada kedua orang tua Ibu Netty Kenapa anak mereka melakukan mogok makan.


Mendengar Pak Wijaya ngambek dan mogok makan, Besok harinya Bu Netty menemuinya dan menanyakan kebenaran berita itu. Pak Wijaya pun mengakui.


"Kenapa kau lakukan itu? " tanya ibu Netty Waktu itu.


"Siapa yang tidak kesal, melihat kau jalan dengan cowok lain? daripada aku dikhianati mending aku mati saja! "


Ibu Nantyi bukannya menyesal, tapi dia malah tertawa. Dan semua itu membuat Pak Wijaya menjadi mengorbankan genin dan bertambah kesal. Dia menyangka Ibu Netyi Emang tertawakan dan mencemoohnya.


"Kenapa kau tertawa? " sungut Pak Wijaya waktu itu.


"Habisnya kau lucu! " jawab ibu Netty masih dengan tertawa.


"Lucu kenapa? " membuat Pak Wijaya tambah heran.


"Cemburu sih Boleh, Mas. Tapi lihat-lihat, dong. Masa kakakku sendiri kau cemburui? Wah, bisa bahaya kalau begitu."


"Kakakmu? " Pak Wijaya kaget mendengar laki-laki yang bersama dengan Ibu nanti adalah kakaknya.


"Ya, Yang kemarin malam jalan sama aku kan? "


"Ya!"


"Itu Mas Imron. "


"Mas Imron yang Marinir dan dinas di Jakarta? " tanya Pak Wijaya ia pernah mendengar cerita tentang kakak dari kekasihnya itu.


"Ya."


"Benarkah? " Pak Wijaya Hampir tak percaya.


"Masa aku bohong sama kamu Mas ayo, kalau kau tidak percaya, aku ajak kau ke rumah. Kebetulan Mas Imron masih di rumah, belum kembali ke Jakarta. Nanti akan ku beritahu dia, agar kau ditembak karena telah mencemburui dia jalan dengan Adiknya sendiri! " seluruh Ibu Neti dengan tertawa geli.


Melihat suaminya tersenyum senyum sendiri, membuat kening bu Netty pun mengerut.


"Hei, hei, Ada apa pa?"tegurnya.


"Oh eh, tidak. " Pak Wijaya salah tingkah.


"Kok senyum-senyum sendiri? Membayangkan wanita lain, ya? "


"Kalo Kamu. mana mungkin Itu kulakukan? "


"Kenapa memangnya? "

__ADS_1


"Kurasa, di dunia ini tidak ada wanita sepertimu, Ma. Jadi, untuk apa aku neko-neko yang tidak ada artinya? "


"Lalu, kenapa papa senyum-senyum sendiri? "


"Aku sedang Ingat masa lalu Ma, kupikir, Lusi kok jadi sepertiku. Kalau sedang kesal, ngambek, pakai acara mogok makan segala. " ucapan Wijaya mengenang masa lalunya Seraya tersenyum.


Ibu Netty pun tiba-tiba tertawa, begitu teringat masa lalu mereka. Masa lalu yang sangat lucu sekali.


"Iya, Pa. Gara-gara kamu mencemburui Mas Imron, kamu ngambek dan mogok makan. Sampai-sampai ibumu datang ke rumah dan menanyakannya pada bapak dan ibuku. "


"Kamu tahu Ma? Sampai sekarang, Kalau Mas Imron ketemu aku, Dia sering menggodaku dengan bertanya, apa aku masih suka ngambek dan cemburu buta? " Pak Wijaya tertawa terkekeh.


"Ya, Mas Imron juga Kalau bertemu denganku sering bertanya apakah kamu masih cemburuan dan ngambek? " bu Neti juga ikut tertawa terkekeh


"Lalu, apa jawabanmu? " Pak Wijaya ingin tahu.


"Ku bilang saja masih. " Ibu Neti menggoda Pak Wijaya.


"Wah, celaka! Nanti kalau ketemu Mas Imron lagi, bisa-biasa Aku semakin diledek."


"Tiidaklah, apa. Wong kukatakan, apa nggak begitu jika tidak Mama service, kok."


"Lalu, apa kata Mas Imron? "


"Cuma tersenyum sambil geleng-geleng kepala."


Suami istri yang harmonis dan penuh kebahagiaan itu kembali tertawa. Seakan mereka merupakan Putri Tunggal mereka yang masih ngambek dan melakukan aksi mogok makan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh ayahnya dulu, waktu masih muda.


Hendra dan ibunya yang baru saja selesai menjalankan sholati magrib, Tengah duduk-duduk ngobrol di ruang tamu rumah mereka yang sederhana terkejut dan heran melihat kedatangan mang Ucup ke rumah mereka dengan menunjukkan kegelisahan.


Tidak biasanya sendiri karena mereka. Biasanya, mang Ucup cuma mengantar Lusi. Hendra pun jadi bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan sehingga mengutip datang ke rumahnya.


"Assalamualaikum!" sapa mang Ucup.


"Waalaikumsalam. Eh, mang Ucup. Masuk Mang," ajak Hendra.


Mang Ucup pun menurut masuk.


"Apa kabar, Mang? "


"Alhamdulillah, baik. Mas Hendra dan ibu sendiri bagaimana? "


"Atas doa Mamang, Alhamdulillah kami baik-baik saja," Jawab ibunya Hendra.


" Mang Ucup sengaja kemari? " tanya Hendra menatap wajah mang Ucup.


"Begitulah."


"Ada perlu?"

__ADS_1


"Ya begitulah."


"Katakanlah, siapa tahu kami bisa membantu." ucap Hendra.


"Mas Hendra Disuruh bapak dan ibu ke sana." ucap mang Ucup mengutarakan maksud kedatangannya.


"Ada apa memangnya Mang? "


"Non Lusi uring-uringan lagi. Tidak seorangpun yang bisa membujuknya Bapak dan Ibu pun tidak bisa. Makanya Bapak dan Ibu memutuskan untuk memanggil mas Hendra. Siapa tahu Mas Hendra bisa membujuknya. Karena menurut penilaian Bapak dan Ibu, selama ini non Lusi mau terbuka pada mas Hendra." tutur mang Ucup.


"Baiklah, Mang. Ayo kita pergi. Bu, Hendra pergi dulu." Hendra berpamitan kepada ibunya.


"Tidak minum dulu, Mang?" tanya ibu Hendra.


"Makasih, Bu Lain kali saja. Ini soalnya sangat mendesak." Tolak mang Ucup.


"Ya sudah titik hati-hati Hendra."


"Ya, Bu. "


"Bujuk adikmu agar jangan uring-uringan terus, Kasihan bapak dan ibu Wijaya." Pesan Ibu Hendra.


"Ya, Bu. Hendra akan berusaha membujuk Lusi Ayo Mang. "


"Bu, saya permisi dulu, " kata mang Ucup.


"Ya,mang. "


" Assalamualaikum! "


" Waalaikumsalam," ibunya Hendra.


Mang Ucup dan Hendra pun segera menuju ke jalan yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah Hendra di mana mobil di parkir.


"Kenapa Lusi uring-uringan sih Mang?" tanya Hendra sembari melangkah.


"Tidak tahu, Mas. Kalau kami tahu, tidak mungkin kami bingung wong non Lusi nya tidak mau ngomong, kok."


"Apa Ibu sudah berusaha?"


"Sudah."


"Lalu?"


"Yaitu, non Lusi tidak mau ngomong sama siapapun termasuk sembah apa dan ibu. Makanya Bapak dan Ibu menyuruh Mama memanggil mas Hendra titik kalau non non Lusi uring-uringan bikin kami bingung."


"Kenapa memangnya?"


"Habis, pakai acara mogok bicara dan mogok makan. Kalau mau kau bicara sih tidak jadi soal. Nah ini ditambah mogok makan kalau didiamkan bisa sakit nanti." tutur mang Ucup.

__ADS_1


"Ada apa sih dia? Sudah kelas 1 SMA masih seperti anak kecil saja," gumam Hendra sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Keduanya pun sampai di mobil. Segera keduanya masuk ke dalam mobil dan tidak lama kemudian mobil sedan Daihatsu Taruna biru metalik itu pun meluncur, membawa keduanya pergi.


__ADS_2