Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 102


__ADS_3

"Ehhemmm…,ehhemm… ," Kakek Syarifudin berdehem.


Mengejutkan kedua insan yang sedang kasmaran. Cepat-cepat Ricard melerai pelukannya, dikarenakan merasa malu dengan Kakek si pemilik pesantren itu.


"Kakek… !" seru Ricard diantara rasa terkejutnya.


"Kakek sejak kapan ada disini?" tanya Septi dengan dengan sedikit malu-malu karena kepergok sedang berpelukan oleh Kakek Syarifudin.


"Baru saja, dan Saya melihat kalian sedang berpelukan." jawab Kakek Syarifudin datar saja.


"Apakah kalian memiliki perasaan yang sama kepada satu sama lain?" Kakek Syarifudin sedang ingin memastikan dugaannya.


Dengan sedikit malu-malu Ricard dan Septi menganggukkan kepala hampir bersamaan.


"Kalau begitu, buatlah satu ikatan yang benar-benar bisa membuat kalian bahagia, dan kau nak Ricard, jika sudah menemukan suatu ikatan maka lepaskan ikatan yang lain." ucap Kakek Syarifudin dengan serius.


Membuat kedua orang itu terdiam dengan kepala menunduk.


"Nak Ricard," panggil Kakek Syarifudin perlahan.


"Ya Kek," sahut Ricard dengan menatap wajah yang berwibawa itu.


"Jika memang sudah merasa yakin, segeralah melamar nak Septi dan secepatnya melanjutkan ke jenjang pernikahan agar kalian menjadi halal, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai hubungan yang tanpa ikatan pernikahan, karena itu haram hukumnya." jelas Kakek Syarifudin mengingatkan.


"Baik Kek, Secepatnya Aku dan keluargaku akan melamar Septi." sahut Ricard dengan penuh keyakinan.


"Bagus, jika begitu, sekarang lebih baik kalian jaga jarak dulu, apalagi bersentuhan." ucap Kakek Syarifudin.


"BAIK KEK," ucap keduanya kembali bersamaan.


Kakek Syarifudin kembali memasuki kamarnya, dan beristirahat sebentar karena jam telah menunjukkan pukul 01.25 dan pada jam 02.35 beliau harus terbangun untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang hamba sekaligus panutan bagi para santri.


"Sudah dini hari, ayo tidur!" ajak Septi yang telah menjaga jarak dari Ricard sejak teguran Kakek Syarifudin tadi.


"Ya, aku rasa begitu, apalagi besok kita harus bekerja," sahut Ricard menyetujui.


Akhirnya mereka pun melangkah memasuki kamar masing-masing.

__ADS_1


**********************************************


Suasana semakin larut, angin malam berhembus semakin kencang. Rasa dingin mulai menusuk membuat semua insan manusia semakin terlelap dalam buaian mimpi yang indah.


Jarum jam terus berdetak menemani malam tak pernah usai, waktu terus bergulir perlahan meninggalkan malam menjemput pagi hari ini.


Seluruh penghuni pesantren berbondong-bondong menuju masjid untuk melakukan ibadah, mendekatkan diri kepada sang Khalik.


Suara pujian kepada yang Maha Kuasa menggema memenuhi pesantren, suara yang selalu melantunkan syair memuji kebesaran-Nya.


Kakek Syarifudin, walaupun tubuhnya telah renta, tetapi semangatnya untuk tetap berjuang dalam islam dengan mendidik para santrinya dengan didikan agama. Sehingga menjadikan mereka sebagai manusia cerdas dan bermoral tinggi.


Di dalam rumah ndalem pun, suasana tidak kalah sibuknya, semua orang bergegas untuk melakukan ibadah tidak ada satupun diantara mereka yang berlama-lama di dalam tidurnya. 


Di ufuk timur sang jagad merah mulai menyala, menampakkan kegagahan nya. Suara burung murai ramai berkicau menyambut datangnya pagi ini. 


Setelah selesai memberikan wejangan di masjid, Kakek segera beranjak dari duduknya melangkah menuju ke rumah Ndalem, yang diikuti oleh Saga, Ricard dan Pak Hendra. Hari ini ada sesuatu penting yang harus mereka diskusikan bersama. 


Semua orang duduk di sofa, mereka semua menantikan apa yang akan dikatakan oleh Kakek Syarifudin. 


"Baiklah, hari ini sebelum kita berpisah dan melakukan aktivitas masing-masing, Saya selaku Kakek dari Saga ingin mengatakan banyak-banyak terimakasih atas kehadiran semua keluarga dan sahabat." Kakek menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. 


Mendengar perintah dari Kakek Syarifudin, Ricard menghela nafas kemudian mulai berkata dengan penuh keyakinan. 


"Untuk Alexa, Aku minta maaf atas semua kesalahan ku yang pernah aku lakukan kepadamu, mulai saat ini Aku bebaskan Kau dari ikatan pertunangan yang mungkin cukup membuatmu merasa tidak nyaman." ucap Ricard. 


Dan itu membuat Alexa sempat terkejut mendengar pernyataan dari pria yang selama ini menjadi tunangannya.


"Apakah benar adanya yang aku dengar ini?" Alexa masih terlihat kebingungan. 


"Ya, aku serius, dan aku memutuskan untuk menjalani hubungan yang lebih serius dengan Septi." 


Sontak membuat Alexa memandang ke arah Septi yang tersenyum tersipu malu, karena Ricard ternyata dengan berani terang-terangan menyatakan hubungannya mereka. 


"Mbak, Septi! Benarkah itu?" senyum lebar terukir di wajah Alexa mendengar sahabatnya telah menemukan cintanya. 


Septi mengangguk seraya berkata, "Iya," 

__ADS_1


Alexa yang duduk disamping Septi, segera bangkit dari duduknya lalu memeluk Sahabatnya itu. 


"Selamat ya Mbak, semoga hubungan kalian langgeng sampai kakek-nenek." 


"Iya, terimakasih," jawab Septi dengan sangat bahagia. 


Alexa melerai pelukannya kemudian menoleh ke arah Ricard. 


"Ricard, Aku titipkan Kakakku, jaga dia jangan sampai dia merasa bersedih apalagi sampai menangis, dan jika sampai itu terjadi maka kau akan berurusan dengan Alexa Setiawan!" ucap Alexa dengan tegas dan itu membuat semua orang tertawa. 


"Lucu, benar-benar kau ini lucu," ucap Bu Lalika yang juga ikut merasakan kebahagiaan atas bersatunya Septi dan Ricard. Akan tetapi, bukan hal itu yang sebenarnya yang membuat ia bahagia melainkan Alexa dan Saga yang pastinya akan segera bersatu pula. 


"Kok, lucu?" Alexa merengut. 


"Ya, mimik wajah mu lucu, mengancam tapi imut," jawab Bu Lalika seraya tertawa terkekeh. 


Membuat suasana semakin hangat, melihat Ibu Lalika tertawa semua orang juga ikut tertawa tanpa mempedulikan Alexa yang masih merengut kesal. 


"Ah, sudahlah, apapun itu Aku sangat bersyukur karena dengan lepasnya ikatan itu berarti peluang ku untuk rujuk kembali dengan Alexa semakin besar. Bukankah begitu sobat?" Saga mengerlingkan matanya ke arah Ricard yang juga tersenyum membalas Saga. 


Ricard pun melangkah ke arah Saga, menghampiri sahabatnya yang pernah ia abaikan beberapa hari ini dikarenakan rasa cemburu yang tak beralasan. 


Ricard meraih tangan Saga dan membawanya mendekat ke arah Alexa, Ricard menyatukan tangan mantan pasangan suami istri itu. 


"Berjanjilah, kalian berdua akan segera bersatu dan tidak akan terpisahkan lagi." pinta Ricard dengan  sungguh-sungguh. 


"Aku berjanji, sobat. Aku tidak akan pernah menyakitinya lagi." ucap Saga. 


"Ketahuilah, bertahun-tahun dia ingin move on darimu, tapi tidak pernah berhasil. Sampai dengan ku pun dia masih belum bisa melupakan dirimu." Ricard. 


"Benarkah?"


"Ya, jadi jangan pernah menyakitinya lagi, bisa-bisa dia akan tersiksa seumur hidup." 


Kembali suara tawa kebahagiaan menghiasi suasana itu, kecuali Alexa. Ia tidak tertawa melainkan menyembunyikan senyumnya dengan malu-malu.


"Aku orang pertama yang akan memberikan restu ku kepada kalian, jika dulu Aku menikahkan kalian hanya karena sebuah hutang, maka sekarang aku akan menikahkan kalian kembali karena berjihad dijalan Allah. Maaf Pak Syarifudin, bisa kita lakukan ijab kabul sekarang? Karena aku tidak mau menundanya lagi." ucap Pak Hendra dengan penuh kesungguhan. 

__ADS_1


"Tentu saja, Pak. Biarkan mereka sah secara agama dulu, dan secara hukum bisa kita lanjutkan nanti." Pak Syarifudin pun menyetujui permintaan Pak Hendra. 


Sungguh sebuah hal yang tidak terduga sebelumnya, Saga dan Alexa menikah secara mendadak, tetapi justru membuat mereka sangat bahagia. 


__ADS_2