Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 52


__ADS_3

DUAAARRR


DUAAARRR


Anggota mafia kembali menembakkan peluru-pelurunya ke arah musuh dan tepat mengenai sasaran. Banyak diantara mereka yang tewas mengenaskan. Gurun tandus itu dalam sekejap telah berubah menjadi lautan darah, dimana-mana darah mengalir dari tubuh manusia yang tewas terkena tembakan peluru senjata milik geng mafia the red Rooster yang dikenal dengan kecakapannya dalam membantai musuh. Kini anggota musuh telah mulai berkurang.


Saga mulai turun dari helikopter yang mulai merendah dengan menggunakan sebuah tali. Dengan cekatan Saga segera meluncurkan dirinya, dan dalam sekejap saja ia telah berada di atas permukaan tanah diikuti oleh anggota mafia lainnya.


Mereka berjalan mengendap-endap melewati para anak buah Irwan yang telah tewas mengenaskan. Tanda pendeteksi di layar ponselnya semakin jelas, menandakan bahwa keberadaan Alexa semakin dekat dengannya.


DUAAARRRGGGHHH


DUAAARRRGGGHHH


Bunyi meriam kembali membahana, mereka segera bertiarap untuk menghindari peluru hantaman meriam itu. Irwan yang mulai panik karena jumlah pasukannya banyak berkurang, menembakkan seluruh peluru meriam nya dengan membabi buta tanpa satupun mengenai sasarannya.


Peluru shrapnel telah kosong, meriam raksasa itu kini tanpa satupun peluru di dalamnya. Dan, ini membuat Saga dan anggota lainnya merasa senang dan mempercepat langkah mereka mengepung Irwan dan beberapa anak buahnya.


"Kakak ipar!" seru Saga, sontak membuat Irwan terkejut.


"S-Saga?" suara Irwan tersendat.


"Aku tidak pernah menyangka kakak lah dalang dari semua ini, orang yang sangat aku percaya tega mengkhianatiku!" sentak Saga dengan penuh amarah.


"Menyerahlah! Mungkin dengan begitu aku bisa meringankan hukuman mu nanti." lanjut Saga dengan berapi-api.


"Hahaha… hahaha… hahaha… kau ingin menghukumku anak ingusan! Jangan mimpi!" seru Irwan dengan sombongnya.


"Lepaskan Alexa, maka aku akan mengampunimu!"


"Kau kira aku takut padamu anak ingusan! Kau mengancamku? Kau ingin aku menyerah? Jangan mimpi!"


"Sudah cukup dustamu selama ini, sekarang aku tidak akan membiarkan dirimu lolos!"


Saga melangkah maju dan terjadilah pertarungan sengit antara adik ipar dan kakak ipar. Diikuti dengan para anggota yang lainnya, mereka pun bertarung demi mempertahankan diri masing-masing.


ZRAAASHH.


Sebuah sayatan senjata tajam milik Irwan berhasil menggores lengan Saga, mengalir lah darah segar dari lengan nya yang terluka.


"Aaaaakh!" pekik Saga seraya memegangi lengannya. Saga mengerang menahan rasa sakit. Dan, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Irwan untuk melarikan diri.

__ADS_1


Namun, dengan sekuat tenaga Saga tetap berusaha mengejarnya, rasa sakit pada lengannya yang terluka tidak dipedulikan.


"Irwan, berhenti!" teriak Saga, saat itu mereka telah berada di ruang bawah tanah.


DORR.


DORR.


DORR.


Saga melepaskan tembakannya dan mengenai tepat pada kaki Irwan, membuat Irwan mengerang kesakitan.


BUGH.


BUGH.


BUGH.


BUGH.


BUGH.


BUGH.


Sekali lagi pukulan tangan Saga mendarat tepat di wajah pria itu. Karena tidak tahan menahan rasa sakit Irwan berkata, " Bunuh saja diriku Saga, dan kau kau tidak akan pernah tahu siapa yang telah membunuh papa mu,"


Seketika membuat Saga menghentikan pukulannya yang hampir mengenai kepala Irwan.


"Apa maksudmu Papa dibunuh? Papa meninggal karena serangan jantung!" tegas Saga.


Saga masih mengingat betul penyebab kematian Ayahnya karena serangan jantung, setidaknya itulah yang dikatakan Dokter waktu itu kepadanya.


"Serangan jantung? Hahaha… . Hahaha… yakin serangan jantung? Saga… saga. Ternyata dibalik otak cerdas mu tersimpan sebuah kebodohan." cibir Irwan dengan tersenyum sinis.


"Katakan saja apa yang ingin kau katakan, jangan bertele-tele," sergah Saga dengan geram.


Kemarahannya semakin memuncak, tanpa memperdulikan lagi rasa sakitnya. Tangan Saga meraih leher Irwan, hampir saja ia melupakan pria itu sebagai kakak iparnya.


"Andai saja kau bukan suami dari kakak ku, sudah kupastikan kau telah meregang nyawa saat ini juga!" teriak Saga dengan segala kemarahannya.


"Oh, kakak ku yang malang, mengapa kau harus memiliki suami pria brengsek seperti dia," gumam Saga ketika teringat tentang kakaknya, Raisya.

__ADS_1


"Hahaha…. Hahaha… Istriku tidak malang, istrimu adalah wanita cerdas dan jenius. Oleh karena itu rahasia nya masih tersimpan dengan aman sampai sekarang." Irwan mulai membuka rahasia.


"Rahasia apa yang telah kalian sembunyikan dari ku selama bertahun-tahun lamanya, ayo cepat jawab!" Saga benar-benar kehilangan kendali, sekarang kedua tangannya mulai menekan leher Irwan hendak mencekiknya.


"Nak Saga, jangan lakukan itu, jangan kotori tanganmu hanya dengan nyawa orang jahat seperti dia!" tiba-tiba saja terdengar sebuah suara dari arah bawah.


Ya, Suara Bu Lalika yang cukup mengenali Saga sebagai anak tirinya. Walaupun hanya seorang Ibu tiri, Bu Lalika sangat baik merawat dan membesarkan Saga sejak kecil, sejak Ibu kandungnya meninggal. Ibu Lalika masuk kedalam keluarga Saga dengan membawa seorang anak laki-laki, yaitu, Rian.


Suara Bu Lalika sontak membuat Saga tersentak dan menghentikan cekikan tangannya di leher Irwan. Serta menghempaskan tubuh pria itu hingga membentur tanah. Irwan yang memang tidak bisa berkutik lagi karena beberapa peluru bersarang di kakinya, hanya bisa meringis kesakitan tanpa bisa bergerak sedikitpun, disebabkan kedua kakinya telah dilumpuhkan.


Saga berjalan menuruni tangga, tampak tanda grafik semakin jelas di layar ponsel nya. Membuat Saga yakin kalau Alexa disekap di tempat itu.


"Alexa!" teriak Saga tanpa memperdulikan Bu Lalika yang menatap ke arahnya mengharapkan bantuan.


"Saga! Kau kah itu? Saga tolong lepaskan aku Saga," Alexa menjawab panggilan Saga yang berteriak memanggil dirinya.


"Alexa, benarkah ini kau Alexa?" Saga hampir tidak percaya dengan apa yang dilihat nya, ketika kedua indra penglihatannya menangkap sosok wanita yang sangat dirindukannya selama bertahun-tahun.


"Cepat keluarkan aku dari sini," pinta Alexa dengan mengiba.


"Pasti!"


Saga mulai mencari-cari sesuatu untuk menghancurkan rantai pengikat pintu itu.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Alexa segera berlari keluar dari ruangan tempat ia disekap. Berlari ke arah Saga dan langsung menghambur kedalam pelukan Saga, pria yang masih bertahta didalam hatinya.


"Saga, aku merindukanmu," lirih Alexa dengan tangisan bahagia.


"Aku juga," bisik Saga, terdengar merdu di telinga Alexa.


Mereka saling berpelukan, saling melepas rindu Masing-masing. Airmata kebahagiaan sama-sama mengalir dari sudut mata masing-masing. Sebuah pemandangan yang sangat mengharukan.


Tentu saja mereka lakukan semua itu, tanpa kesadaran.


Lama mereka saling berpelukan, Saga meraih dagu Alexa dan hampir saja ia mendaratkan sebuah kecupan dibibir manja Alexa, seperti yang sering ia lakukan dulu, saat mereka masih berstatus suami istri.


Namun, tiba-tiba saja Alexa melerai pelukannya saat ia mulai tersadar akan notabene nya saat ini.


"Maaf," ucap Saga setelah menyadari akan apa yang hendak diperbuat nya.


Alexa hanya terdiam tersipu malu, jujur jauh didalam hatinya ia merasa sangat bahagia, walaupun hanya sesaat ia memeluk Saga, setidaknya mampu mengobati rasa rindunya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2