Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 86


__ADS_3

Jumpa Dara jelita


Riyanti Wijaya


Di tempat.


Dear Rianti,


Apa kabar? Aku harap kamu dalam keadaan baik, tidak kurang satu apapun dan senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Amiin.


Maaf sebelumnya, Kalau Apa yang kulakukan ini, kau anggap suatu kelancangan. Namun bagaimana juga aku tidak akan mungkin terus-menerus berdiam diri, sementara hatiku setiap waktu terus tersiksa. Maka Setelah sekian lama Aku terbelenggu dalam ketidakpastian yang teramat menyiksa jiwa dan pikiranku, akhirnya aku memutuskan untuk memberanikan diri, mencurahkan segenap rasa yang ada kepadamu lewat surat ini.


Riyanti yang baik,


Kau tahu Sejak malam itu, di mana kita bertemu di pesta ulang tahun Lusi, hampir tidak pernah sekejap mata pun aku bisa melupakan bayanganmu. Aku senantiasa teringat kepadamu. Pada senyummu, pada kelembutan tutur katamu, dan pada semua yang ada pada dirimu.


Semenjak kita bertemu, Riyanti, sungguh, aku benar-benar tidak mampu merupakan bayangan dirimu walau sekejap mata pun. Berulang kali aku mencoba untuk menyadari dan meyakinkan diri, bahwa tidak pantas bagiku yang hina ini berkhayal dan berharap menjadi teman seorang putri Jelita penuh pesona sepertimu. Namun, rupanya jiwaku tidak mau mengerti. Jiwaku yang sudah tersentuh oleh belaian-rasa cinta lewat pandangan pertama, terus memberontak, terus mencerca Nurani, yang membuatku Kian tersiksa dan menderita.


Riyanti yang cantik,


Aku tidak tahu pasti Siapa dirimu. Apakah kau masih sendiri atau sudah ada yang mendampingi selama ini. Aku juga tidak tahu apakah di taman hatimu masih kosong, sehingga aku bisa menanam sekuntum bunga cinta ku, atau justru di taman hatimu sudah tumbuh Bunga Cinta Yang Lain. Karena itu, bila Ternyata apa yang aku lakukan ini kau anggap kepanjangan dan kesalahan serta bila Menurutmu aku ini terlalu bermimpi karena berharap yang berlebihan tanpa mau berkaca diri sekali lagi maafkanlah aku.


Rasa cinta, memang terkadang membuat orang jadi buta hatinya. Dan kini aku baru mengalaminya. Tiap saat, tiap waktu, tiap menit, tiap detik jiwaku terus menggelora. Sehingga aku pun bertanya, beginikah Rasanya jatuh cinta? Ah, kiranya aku tidak terlalu mulu-muluk melambungkan khayal, yang Jika jatuh akan membuat hatiku hancur berkeping-keping, bahkan mungkin akan menjadi serpihan-serpihan tajam, yang kian menusuk perih Sanubari.


Riyanti yang baik,


Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tuturkan dan aku sampaikan, namun mengingat keterbatasan tempat dan waktu aku rasa untuk hari ini Cukup Sekian dulu.


Sekali lagi, jika memang Apa yang dilakukan ini kau anggap merupakan suatu kesalahan dan kebodohan kiranya kau berkenan memaafkan kesalahan dan kebodohanku. Namun jika Ternyata kau pun merasakan hal yang sama, sebagaimana yang kurasakan Aku harap kau mau memberitahukannya sehingga aku tidak akan terus-menerus menunggu dengan jiwa yang tersiksa. Doaku hanya satu semoga kau sukses selalu.


Dari yang memujamu


Hendra Setiawan.


Berbunga-bunga seketika hati Rianti setelah membaca isi surat dari Hendra. Dengan mata berkaca-kaca dan bibir menggurat senyum bahagia, ia mendekap surat itu di dadanya. Seakan Riyanti tengah mendekap Hendra yang telah diterimanya untuk kemudian dia resapkan di dalam hatinya agar tidak lepas lagi.


Ah, sungguh ia tidak menyangka kalau ternyata lelaki yang semenjak bertemu di mention-nya telah membuatnya sering gelisah dan termenung, ternyata juga memiliki perasaan yang sama sebagaimana yang dirinya rasakan.

__ADS_1


"Hendra… Seandainya saja kau tahu, betapa selama ini aku pun tersiksa karena menunggu dan memikirkan dirimu. Oh Hendra, kini aku merasa bahagia dan senang sekali setelah tahu kalau kau juga mencintaiku," Rianti dengan mata berkaca-kaca bahagia.


Lalu ia baca sekali lagi surat itu, kemudian ia mendekap kembali kertas surat itu ke dadanya, seakan berusaha meresapkan semua isi surat itu ke dalam lubuk hatinya.


Bel tanda masuk berbunyi. Bergegas Rianti melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Lalu dengan hati yang berbunga-bunga dia mengantongi surat itu. Barulah ia kemudian melangkah meninggalkan buritan sekolah, menuju ke kelas untuk mengikuti pelajaran.


Pemberitahuan cinta Hendra kepadanya lewat surat yang telah dibacanya rupanya memacu semangat Rianti. Sehingga dia pun tampil dengan segenap pesona yang dimilikinya.


Semua mata pelajaran yang diterangkan oleh guru, ia menangkap dan ia menyerap dengan cepat. Sehingga ketika Pak Ferdi memberikan soal matematikanya, Rianti dengan tenang dan mudah menjawabnya.


Sampai-sampai Pak Ferdi harus kembali dibuat bingung. Betapa tidak? Pak Ferdi memang tahu di kelasnya Wulan lah yang paling menonjol dalam segala hal, disusul kemudian oleh Lusi di kelas yang berbeda. Namun Pak Ferdi tidak menyangka kalau hari ini Rianti akan jauh lebih menonjol dibanding yang lain.


"Wah, wah, wah…hari ini kamu sungguh luar biasa, Rianti. Ramuan apa yang kamu pakai, sehingga kamu bisa sehebat ini? Padahal, teman-temanmu yang lain yang selama ini menjadi sainganmu tidak seperti kamu, " Puji Pak Ferdi jujur mengakui.


"Tidak ada Pak. Kebetulan, di rumah saya sudah mempelajarinya," jawab Rianti memberi alasan.


"Oh ya?" rumah Pak Ferdi dengan wajah masih menunjukkan rasa kagum sembari memandang ke arah siswi tercantik dan juga paling cerdas di kelas itu.


Pak Ferdi mengagumi serta memuji Riyanti yang merupakan siswi terpopuler di sekolah itu. Pak Ferdi berharap Rianti


akan lulus dengan nilai tertinggi. Karena selama dua semester ini tidak ada yang mampu menandingi kecerdasan Riyanti.


Begitu jam istirahat datang, sebagaimana janjinya, Rianti pun mengajak Lusi ke kantin sebagaimana biasanya. Namun hari ini, sungguh sangat jauh berbeda Roman muka kedua kakak beradik yang sekaligus juga Rival dalam segala hal. Wajah Rianti yang telah menerima surat dari Hendra dan telah mengetahui bagaimana perasaan lelaki itu kepadanya, tampak berseri-seri.


Senyum manis pun senantiasa berkembang di bibirnya. Sebaliknya, Lusi yang sebenarnya diam-diam di dalam hati tidak suka atas menyatunya Hendra dan Rianti, karena dengan begitu maka harapannya untuk bisa mendapatkan cinta Hendra bertambah kecil kemungkinan, hari ini tampak lebih banyak diam. Bahkan, jika biasanya Lusi yang membalas godaan lelaki yang menggoda mereka, kini ia dengan wajah menunjukkan rasa tidak suka membentak.


"Hei! Apa sih mau kalian?! Apa kalian belum pernah melihat kami sebelumnya hai, sehingga kalian tidak bosan-bosannya mengganggu kami! "


Teman lelakinya itu pun terkejut dengan mulut terbungkam diam, karena tidak menduga kalau manusia yang selalu mengiringi senantiasa mengikuti candaan mereka, kini tampak marah. Rianti pun turut kaget, tidak menyangka adiknya akan bisa semarah itu.


"Ada apa denganmu lusi?" tanya Rianti.


"Sesekali, mereka memang perlu dikerasin agar tidak melunjak!"Sungut Lusi.


"Tapi kamu tidak perlu sampai sewot dan ngotot begitu kan? " kata Rianti mengingatkan.


"Bagaimana kalau sampai mereka sakit hati? Bisa runyam akibatnya," lanjut Riyanti khawatir.

__ADS_1


"Biarkan saja, aku tidak takut!" sahut Lusi.


Kening Rianti mengerut. Dengan lekat ditatapnya wajah adiknya, berusaha untuk mengetahui apa sebenarnya yang membuat adiknya itu jadi berubah sikap seperti itu.


"Kamu marah lusi?"


Lusi tidak menyahut.


"Kamu tidak suka aku berhubungan dengan Hendra?" tanya Rianti kemudian.


"Ah, kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Karena sebagai kakakmu aku belum pernah melihat kamu seperti ini. Katakanlah padaku Apakah kau merasa tidak suka karena aku berhubungan dengan Hendra? Apakah kamu juga mencintainya?"


"Ah, jangan ngawur kamu Kak! " Lusi menyangkal.


"Aku tidak ngawur. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sama kamu. Jika benar kamu tidak suka aku berhubungan dengan Hendra, Katakan Saja. Dan jika memang kamu punya perasaan kepada Hendra maka aku akan berusaha mengalah. Karena bagaimanapun juga aku lebih mengutamakan persaudaraan kita daripada cinta." jelas Rianti.


"Sudahlah, jangan bicara yang tidak-tidak. Bagaimana mungkin aku tidak suka kalau kakakku tersayang ini bisa menyatu dalam ikatan cinta? Percayalah, Aku ikut senang jika Kakak dan Hendra bersatu dalam cinta. Dan kalaupun benar aku juga punya perasaan kepada Hendra, maka akulah yang harus mengalah, sebab cinta Hendra bukan Untukku tapi untukmu." ucap Lusi.


"Dan cinta tidak mungkin dipaksakan bukan? Aku sama Hendra memang saling mencintai, tetapi bukan sebagai kekasih, melainkan sebagai sahabat bahkan mungkin sebagai saudara." Tutur Lusi sambil berusaha tersenyum, berusaha meyakinkan hati kakaknya, Kalau tidak ada perasaan apa-apa di dalam hatinya kepada Hendra, selain dari perasaan cinta seorang sahabat atau saudara.


"Sungguh? "


"ya."


"Kamu tidak sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dariku karena kau tidak enak sama aku kan?"


"Tidak! Dan seperti yang kau tahu Kakak, Pernahkah selama ini aku berbohong dan berusaha menutupi sesuatu yang ada pada diriku sama kamu?"


Rianti menggelengkan kepalanya.


"Nah, jadi, Apakah kau meragukan kesungguhanku?"


"Tidak! Tidak pernah aku menaruh keraguan terhadapmu."


"Syukurlah," desah Lusi.

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Keburu waktu istirahat berakhir nanti kau malah tidak jadi mentraktirku!" Lusi tersenyum, kemudian menggandeng lengan Rianti dan mengajaknya mempercepat langkah menuju ke kantin. Mau tidak mau, Rianti pun turut tersenyum, bahkan kemudian keduanya sama-sama tertawa riang. Seakan-akan mereka sama-sama merasakan kebahagiaan.


__ADS_2