
Dengan ragu, Alexa mulai membuka mulutnya. Satu suapan dari Saga berhasil mendarat di lidahnya.
'Andai saja ini sikapmu yang sebenarnya tuan, aku pasti akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya,' bisik hati Alexa.
Sesuai yang tertera di kertas tugas yang diberikan Saga kepadanya. Alexa mengantarkan Saga hingga ke depan pintu mansion. Kemudian Alexa menyalami Saga dan mencium punggung tangannya, sekilas Saga merasakan debaran aneh pada dirinya. Namun, sebisa mungkin ia menekan rasa itu.
'Ah, tidak! Aku tidak boleh memiliki rasa kepada perempuan ini! dia hanyalah sebuah tameng, untuk mencapai semua impianku!' Saga membatin serta menolak adanya getaran di dalam hatinya.
Saga memang terkesan dingin dan angkuh, selama ini belum ada seorang wanita pun yang mampu memikat hati nya. Oleh karena itu, berita pernikahannya kemarin sangat mengejutkan untuk semua orang, terlebih Maudy yang memang telah lama menaruh hati padanya.
Hari ini Saga merasakan ada yang berbeda dengan sapaan salam serta senyuman dari para karyawannya. Membuat Saga merasa malas untuk kembali menyapa mereka.
"Selamat pagi tuan," sapa salah satu karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Hm!" sahut Saga hanyalah berdeham.
Kemudian, dengan langkah tegap Saga berjalan menuju keruangan nya, ruangan seorang CEO.
"Permisi tuan!" ucap Raffi seraya memasuki ruangan bosnya. Saat itu Saga sedang duduk di meja kerjanya seraya memeriksa beberapa laporan yang telah menumpuk di atas meja nya.
"Ada informasi penting?" tanya Saga kepada Raffi, yang ditugaskan untuk meninjau desa Ciganjur serta menyelidiki tanah milik Mbok Mirah.
"Ada beberapa warga desa yang bersedia menjual tanah mereka. Namun, sebelum kita mendapatkan tanah milik Mbok Mirah, maka tanah-tanah itu tidak bisa kita pakai untuk pembangunan pabrik, karena hanya tanah milik Mbok Mirah Satu-satunya lahan tanah yang berhubung langsung dengan jalan.
" Baiklah siang ini kita akan berangkat ke desa! Apa ada jadwal meeting hari ini?"
"Tidak ada tuan!"
"Bagus, kalau begitu, sekarang kau jemput Alexa, kita ke desa ciganjur sama-sama.
"Baik, tuan!" ucap Raffi seraya melangkah keluar dari ruangan bosnya.
Sepeninggalnya Raffi, beberapa menit kemudian, Maudy pun masuk dengan membawa setumpuk berkas-berkas yang harus diperiksa oleh Saga.
"Ini, berkas-berkas nya tuan," suara Maudy terdengar lembut dan manja.
Penampilannya semakin hari, semakin seksi, dengan perpaduan rok mini setinggi paha, dengan robekan kecil di bagian samping dipadukan dengan atasan yang tidak kalah ketatnya, hingga membuat dia buah dadanya semakin menonjol.
__ADS_1
Maudy bukannya berdiri didepan meja Saga, malah ia berdiri di samping, ya, tepat disamping Saga. Maudy meletakkan berkas-berkas itu dengan gaya yang menggoda.
Namun, Saga masih tetap saja tidak menghiraukan sekretarisnya itu, ia masih tampak sibuk dengan berkas-berkas itu. Karena tidak mendapat respon dari bosnya, akhirnya membuat Maudy semakin ingin menggoda Saga.
"Tuan, Saya… Saya pusing," ucap Maudy seraya berpura-pura lemas disamping Saga.
Reflek membuat Saga segera berdiri menangkap tubuh Maudy yang hampir terjatuh karena terhuyung-huyung.
Begitu tangan Saga menyentuh pinggang wanita itu, membuat Maudy segera mengalungkan kedua tangannya dileher Saga. Posisi keduanya benar-benar dekat, hingga tubuh mereka saling menempel.
"Duduklah!" seru Saga, tanpa merasa tergoda sedikitpun.
Sontak Membuat Maudy tersadar dari lamunannya. Kemudian, Maudy duduk dengan perlahan di kursi kebesaran Saga.
Tak lama kemudian, datanglah seorang security, rupanya Saga telah memanggil security.
"Cepat, antarkan nona Maudy pulang, dia sedang tidak enak badan!" perintah Saga.
"Baik, tuan, perintah siap dilaksanakan!" seru security itu dengan hendak memegang tangan Maudy.
Sontak membuat Maudy menolak dan dengan perasaan kecewa karena lagi-lagi gagal untuk menggoda Saga, Maudy segera beranjak dari tempat duduknya.
Saga hanya menggelengkan kepala melihat perilaku sekretarisnya.
Pada saat Maudy membuka pintu, ia berpapasan dengan seorang gadis cantik yang masih lugu dan polos.
Siapa lagi kalau bukan Alexa. Dengan dandanan simpel, serta make up ala kadarnya, membuat Alexa terlihat semakin cantik.
"Cantik sekali istrimu tuan, pantas saja kau tidak pernah tergoda olehku," bisik Maudy hampir tidak terdengar.
Alexa hanya membalas dengan tersenyum.
Alexa memasuki ruangan suaminya, ia masih terlihat bingung dengan dipanggilnya dirinya.
"Ada apa tuan?" tanya Alexa ketika saling berhadapan dengan Saga.
"Hari ini kita akan ke desa ciganjur," jawab Saga.
__ADS_1
"Kita? Untuk apa?" Alexa yang polos belum mengerti dengan ucapan Saga.
"Aku ingin kita menemui Mbok Mirah, bukankah dia tidak tahu dengan pernikahan ini?"
Alexa mengangguk, membenarkan ucapan Saga. Kemudian, mereka berangkat saat itu juga menuju ka desa ciganjur.
Selama perjalanan ke desa itu, Alexa hanya diam saja, ia tidak ingin melakukan kesalahan apapun yang akan membuat Saga marah padanya.
"Kenapa diam saja?" tanya Saga.
"Tidak apa-apa tuan." jawab Alexa singkat saja.
Saat itu mereka duduk di belakang kemudi, sedangkan Raffi bertugas mengemudikan mobil dengan baik.
Kemudian, keduanya sama-sama terdiam hingga tiba di desa ciganjur.
Rumah kecil yang usang, masih terlihat sama seperti dulu saat ia masih menempatinya. Kenangan masa lalu bersama ibunya kembali menari-nari di dalam benaknya. Hingga tanpa terasa air mata telah jatuh bergulir-gulir di kedua pipinya.
Saga yang melihat semua itu, hatinya terenyuh. Hingga tanpa ia sadari, ia telah membawa Alexa ke dalam pelukannya. Membiarkan gadisnya itu menumpahkan semua rasa sedih dihatinya.
Entah mengapa Saga merasakan sesuatu yang berbeda ketika ia memeluk tubuh kecil mungil itu. Suatu ketenangan mulai merasuk ke dalam jiwanya.
"Sekarang kita temui Mbok Mirah, dia pasti sangat merindukan mu." bujuk Saga setelah melerai pelukannya, lalu mengusap titik-air mata yang masih membasahi di kedua pipinya.
Alexa mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Kemudian, tangannya mengetuk pintu dengan perlahan.
Terdengar suara orang membuka pintu dengan perlahan. Setelah pintu terbuka tampak lah seorang wanita tua sedang berdiri di ambang pintu.
"Kau… Alexa… !" seru Mbok Mirah dengan rasa tidak percaya.
Alexa mengangguk seraya berkata,
"Iya Mbok, ini Lexa!" jawab Alexa seraya berhambur ke dalam pelukan Mbok Mirah.
Untuk beberapa saat keduanya saling berpelukan, air mata menjadi saksi mereka berdua. Saling menangis, saling melepas rindu.
"Apa kabarmu Lexa? kamu semakin cantik sekarang? dan mengapa kamu bisa bersama orang ini? dimana Ayahmu?" pertanyaan bertubi-tubi diberikan oleh Mbok Mirah, seraya melirik ke arah Saga yang berdiri di belakang Alexa.
__ADS_1
"Ceritanya panjang Mbok." jawab Alexa yang kemudian dipersilahkan masuk oleh Mbok Mirah.
Mereka bertiga pun duduk di ruang depan rumah kecil itu, Saga memandang sekeliling mulai dari atap, dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan lantai alami. Ya, disebut alami karena memang masih tanah.