
Sebelum Saga dan Bu Lalika meninggalkan mention itu, mereka dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang berpakaian serba hitam dan rapi.
"Ada apa ini? Mengapa kalian memberikan garis pembatas di mansion ini?" Tanya Saga saat melihat orang-orang itu merentangkan garis kuning di sekitar Mansion tersebut.
"Mention ini sudah resmi dijual dan kami diperintahkan untuk mengawasi Mansion ini!" Jawab salah seorang dari beberapa orang itu.
"Apa maksud kalian, Siapa yang menjual mention ini? Aku sebagai pemiliknya tidak pernah menjual mention ini kepada siapapun!" tegas Saga lagi karena saat itu dirinya masih merasa bingung dengan situasi yang sedang ia hadapi.
"Bos kami telah membeli mansion ini dari Nyonya Raisya Hawiranata Kusuma Dan itu telah dinyatakan resmi. Karena pada saat ini sertifikat mention ini sudah berada di tangan kami!" Jawab salah seorang dari mereka lagi.
"Boleh aku melihat akte jual belinya?" Saga meminta bukti untuk meyakinkan dirinya, apakah benar mention itu telah benar-benar dijual oleh kakaknya.
Kemudian seseorang dari mereka pergi menuju ke sebuah mobil lalu mengambil sesuatu di sana, kemudian kembali lagi menghampiri Saga, dan menyerahkan sebuah Map berwarna coklat kepada Saga.
Saga segera meraih map tersebut kemudian membukanya dan membaca dengan seksama tulisan yang tertera di atas kertas itu. Sontak kedua mata Saga terbelalak membulat sempurna, ketika ia melihat mansion itu telah resmi dijual dengan harga lima triliun dan dibayar secara Cash kepada Raisya.
"Bukan hanya Mansion ini saja tuan yang dijual oleh Nyonya Raisya, melainkan perusahaan Hawiranata Kusuma juga telah dijual kepada kami," ucap orang itu lagi.
Tidak dapat dielakkan Betapa terkejutnya Saga ketika mendengar semua informasi itu, ia tidak pernah menyangka kakaknya telah mengatasnamakan semua aset keluarganya atas nama dirinya sendiri sehingga mempermudah dalam proses penjualan. Hingga Raisya tidak membutuhkan persetujuan dari Saga.
"Jadi selama ini kak Raisya hanya memanfaatkan diriku saja, aku yang berjuang mati-matian agar perusahaan itu kembali bangkit dan sukses namun apa yang aku dapatkan. Kak Raisya telah menjual segalanya" gumam Saga hampir tidak terdengar.
Batinnya merintih Mengapa semua kenyataan pahit baru ia sadar,i andai saja selama ini Saga bisa lebih waspada dan tidak terlalu mempercayai Raisya tentu saja hal ini tidak akan terjadi. Namun, apalah daya semua sudah terlanjur.
__ADS_1
"Bagaimana tuan? Apakah anda sudah percaya?" Tanya orang itu lagi.
"Ya, aku pernah percaya, maaf," suara Saga lebih pelan dari sebelumnya.
Bu Lalika menggelengkan kepalanya melihat semua perlakuan Raisya yang sama sekali tidak peduli kepada saudara-saudaranya, yang dipikirkan oleh Raisya hanyalah kesenangan hidupnya Semata, tanpa memikirkan orang lain.
"Raisa benar-benar keterlaluan, tega-teganya dia melakukan semua ini, apa dia tidak pernah memikirkan nasib saudara-saudaranya?" Bu Lalika menggerutu, ia merasa sangat jengkel terhadap Raisya yang hanya berbuat semaunya sendiri.
"Sudahlah Ma, tidak perlu dirisaukan. Biarkan saja kak Raisya saat ini menikmati semua kemewahan dalam hidupnya dan memuaskan kesenangan dirinya sendiri, aku masih ada sedikit tabungan untuk kita melangsungkan hidup. Sementara Mama akan ku antar ke rumah kakek Syarifudin.
"Siapa kakek Syarifudin? Mama baru sekali ini mendengar namanya?" tanya Bu Lalika yang merasa tidak mengenal kakek Syarifudin.
"Mari kuantarkan dulu Nanti Mama juga tahu," ucap Saga dengan senyum yang dipaksakan hanya karena ingin menyemangati ibu tirinya agar tidak terlalu risau dengan keadaan itu.
Saga dan Bu Lalika terpaksa menyetop sebuah angkot, karena seluruh aset termasuk mobil milik Saga telah dijual oleh Raisya.
Dengan menaiki angkot tersebut akhirnya Mereka pun tiba di sebuah tempat yang memiliki suasana aman tentram. Bu Lalika melemparkan pandangannya ke segala arah mengamati satu persatu setiap sudut tempat tersebut.
"Apakah ini sebuah pesantren?" Tanya Bu Lalika kepada Saga yang juga sedang menikmati ketenangan suasana di tempat itu. Ketenangan yang hampir tidak pernah ia rasakan selama beberapa tahun terakhir, karena ini baru pertama kalinya ia menginjakkan kaki kembali setelah ibunya meninggal dunia.
"Iya Ma, benar ini pesantren. Kakek Syarifudin adalah pengasuh Pesantren ini," jawab saga mengingat kembali sosok kakeknya yang baik dan ramah dan juga berwibawa.
"Wah pantas, suasananya begitu menenangkan berbeda sekali dengan keadaan di kota semua orang sibuk dengan urusan dunia, tapi di sini mereka semua sibuk beribadah mengharapkan Ridho Ilahi," Bu Lalima berdecak kagum melihat para santri hilir mudik berbondong-bondong menuju ke arah Masjid untuk melakukan salat ashar.
__ADS_1
Ya, waktu itu telah memasuki waktu sholat ashar. Kemudian salah seorang dari para santri itu berjalan tergopoh-gopoh menuju ke arah Saga yang sedang berdiri di depan pintu gerbang bersama Bu Lalika.
"Assalamualaikum Aden, Mari masuk Aden Pak Kyai sedang berada di masjid karena sebentar lagi waktu sholat ashar akan segera tiba," ucap santri itu yang ternyata bernama Asep.
"Waalaikumsalam." Jawab Saga, ucapan yang tidak pernah ia katakan selama bertahun-tahun.
Ya, sejak ibunya meninggal dunia ayahnya tidak pernah mengajak Saga ataupun Raisya berkunjung ke pesantren itu walau hanya sekedar mengunjungii kakek Syarifudin.
Kakek Syarifudin adalah ayah dari almarhumah ibunya, kakek Syarifudin orangnya baik dan sangat perhatian. Dulu sebelum Ibunya ikut ayahnya ke kota mereka pernah tinggal di pesantren itu juga, tapi hanya beberapa bulan saja setelah itu kedua orang tua Saga menetap di kota karena ayahnya memiliki bisnis besar di sana yaitu perusahaan Hawiranata Kusuma.
" Mari Aden saya antarkan ke ruangan dalem," ajak Asep dengan sopan. Pemuda itu membungkukkan badan di depan Saga dan Bu Lalika.
"Baik, terima kasih," ucap Saga dan Bu Lalika bersamaan.
"Luas sekali Saga halaman Pesantren ini, Semua yang tinggal di sini pasti merasa betah apalagi suasananya damai sekali di hati," kagum Bu Lalika tanpa henti memandang halaman pesantren yang sangat luas.
"Iya Ma, Pesantren ini memang sangat luas karena memang lahan tanah milik kakek semuanya dibangun untuk tempat Pesantren ini karena kakek tidak memiliki siapapun lagi setelah almarhumah nenek dan almarhumah Mamaku meninggal." Sahut Saga.
"Kalau begitu, berarti beliau tinggal sendirian?" Tanya Bu Lalika ketika mendengar istri dan anaknya kakek Syarifudin telah meninggal. Kemudian ia berkata lagi" Kasihan sekali ya, "
"Ya, oleh karena itu, setelah nenek meninggal kakeki mendirikan Pesantren ini untuk mengisi hari-hari beliau yang sepi." Jawab Saga.
Mereka melangkah menuju sebuah bangunan yang lebih terlihat lawas dibanding bangunan yang lainnya, di bangunan itulah kakek Syarifudin tinggal seorang diri. Sedangkan para Santri dan santriwati tinggal di asrama masing-masing. Hanya ada beberapa orang yang setiap hari bergantian absen mengurusi setiap keperluan kakek Syarifudin sebagai pengasuh pesantren tersebut.
__ADS_1
Ada yang memasak, ada yang menyapu lantai dan ada juga yang mencuci alat-alat makan beliau. Namun tidak untuk mencuci pakaian, karena Pak Kyai Syarifudin lebih senang mencuci sendiri seluruh pakaian-