
GBRAAKKK.
Suara meja dipukul.
Ricard dengan tangan yang gemetar dan nafas yang memburu naik turun serta kedua matanya yang memerah, menggebrak meja di depannya dengan sangat keras.
'Lihatlah, calon istrimu dia sedang mencari kesenangan dengan pria lain, apa kau tidak bisa memuaskannya?' Suara Tiara terus saja terngiang-ngiang di telinganya, membuat Ricard semakin emosi.
Saat ini Ricard sedang mondar-mandir tak tentu, duduk lagi, berdiri lagi, duduk lagi dan berdiri lagi begitulah seterusnya.
Perasaannya berkecamuk marah, cemas dan cemburu berbaur menjadi satu. Setelah sebelumnya ia bertemu dengan Tiara yang sengaja datang ke kantor Alexa hanya untuk memprovokasi Ricard agar merasa cemburu dengan kedekatan Alexa dan Saga.
Bahkan Tiara tidak tanggung-tanggung memfitnah Alexa dengan mengatakan bahwa Alexa lebih menyayangi keluarga Saga dari pada keluarganya.
"Jika sampai benar apa yang dikatakan Tiara, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu Saga, beraninya kau mendekati calon istriku!" geram Ricard dalam kemarahannya.
Dan pada saat itulah Alexa kembali ke kantor setelah sebelumnya mengantarkan Saga kembali ke kantornya. Karena memang mereka mengendarai mobil Milik Alexa.
"Dari mana saja kau? Jam segini baru balik!" sentak Ricard dengan berapi-api, dan saat itu Alexa baru saja membuka pintu telah mendapatkan semprot dari Ricard yang seperti petasan.
Alexa yang terkejut hanya mengernyitkan dahi mendengar suara Ricard yang membahana memenuhi ruangan.
Dan kebetulan saat itu Septi datang menghampiri Alexa karena memang ada sesuatu yang ingin disampaikan seputar pekerjaan mereka.
"Mbak Sep, si Ricard kenapa? Salah makan dia?" Alexa bertanya kepada Septi, seraya melirik kearah Ricard yang sedang menatapnya dengan penuh amarah.
"Aku tidak tahu," Septi hanya menggelengkan kepala, karena ia memang tidak tahu-menahu tentang Ricard.
"Loh, kok tidak tahu, tadi kan Mbak Septi yang kembali bersama Ricard ke kantor ini."
"Ya, memang tapi tadi baik-baik saja, ketika sampai disini dia masih tetap baik-baik saja, ketika aku tinggal dia juga baik-baik saja, tapi kenapa sekarang jadi begini ya?" Septi merasa heran.
Merasa dirinya sedang diperbincangkan oleh kedua wanita cantik di depannya, Ricard segera menghampiri Alexa dan memperlihatkan sebuah foto Alexa saat sedang bersama dengan Saga, saat mereka sedang makan dengan Suap-suapan.
"Apa ini? Jelaskan padaku apa yang sedang kalian berdua lakukan?" Ricard memperlihatkan foto di ponselnya yang ia dapat dari Tiara.
Ya, wanita itu memang sempat mengambil foto Alexa dan Saga. Dan ingin menghancurkan hubungan Alexa dan Ricadr dengan menggunakan Foto itu sebagai umpannya.
"Dari mana kau mendapatkannya Ric?" tanya Alexa yang merasa aneh dengan semua itu.
'Siapa yang telah berani mengambil fotoku dan Saga? Apa ada orang yang mengikuti kami sebagai mata-mata?' pikir Alexa menerka-nerka.
"Tidak perlu kau tahu dari mana aku mendapatkan foto ini, yang jelas aku mendapatkan nya dari sumber yang terpercaya!" Jawab Ricard dengan geram.
"Memangnya kenapa Ric, bukankah kita bebas melakukan apapun semau kita?" Alexa kembali mengingatkan keputusan antara keluarga mereka.
"Lagi pula aku merasa nyaman dengannya." Alexa melanjutkan kembali kata-katanya dan semakin membuat Ricard bertambah geram.
Melihat kemarahan Ricard yang mulai memuncak, Alexa merasa akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, oleh karena itu cepat-cepat ia menarik lengan Septi dan pergi ke ruang kerja sahabatnya itu. Meninggalkan Ricard dan kemarahannya.
"Sial! Dia sama sekali tidak menggubris ku! Atau memang benar dia tidak memiliki perasaan kepadaku?" umpat Ricard ditengah kemarahannya.
Sementara Alexa yang kini telah berada di ruang kerja Septi, segera merebahkan dirinya diatas sofa. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan perlahan.
"Hmmmmm, huuuuffff…..Lega rasanya." gumam Alexa.
"Lexa, kamu tidak takut dengan Ricard yang marahnya seperti itu?" Septi tiba-tiba bertanya.
Mendengar pertanyaan dari sahabatnya membuat Alexa mengerutkan dahinya.
"Kenapa aku harus takut? Dia kan marah-marah sendiri?" jawab Alexa seenaknya saja.
__ADS_1
"Jujur ya Lex, aku saja yang melihatnya jadi tidak enak hati, entah mengapa melihat dia sejarah itu membuat aku selalu kepikiran," ucap Septi sejujurnya.
"Apa? Benar Mbak merasakan hal itu?" Alexa bertanya dengan penuh semangat.
Septi menganggukkan kepala meyakinkan Alexa yang saat itu sedang tersenyum lebar.
"Kok kamu senyum-senyum, ada yang salah?"
"Kalau menurutku, Mbak Septi ada perasaan kepada Ricard," jawab Alexa dengan senyum sumringah.
"Apa kamu tidak cemburu? Kalau aku memiliki perasaan kepadanya?" Septi.
"Mengapa aku harus cemburu? Justru ini yang aku inginkan dari dulu!"
"Maksudnya?"
"Mbak Septi mau kan bantu aku?" tanya Alexa dengan memelas.
"Kalau Mbak Septi memang ada perasaan kepada Ricard, aku siap dukung Mbak Septi, setelah dipikir-pikir aku masih sangat mencintai Saga Mbak," lanjut Akexa.
"Maksudmu bagaimana? Aku tidak mengerti?"
"Mbak Septi sama Ricard dan aku sama Saga, gimana? Cocokkan?"
"Hmm, boleh juga,"
Lalu keduanya sama-sama tertawa senang membayangkan kebersamaan mereka dengan pasangan masing-masing. Ya, mungkin untuk saat ini Ricard masih belum menjadi pasangannya Septi, akan tetapi dengan seiring berjalannya waktu, Septi yakin kalau Ricard akan menerima cintanya.
"Hust, sudah hentikan tertawanya, aku jadi lupa mau ngomong apa sama kamu," ucap Septi sembari berusaha mengingat-ingat apa yang ingin ia katakan sebenarnya.
"Oh, iya ini, aku ingat," Septi menarik selembar kertas yang ia selipkan dibawah laptopnya.
"Apa ini?" Alexa tidak mengerti.
Maka tampaklah sebuah desain gaun pengantin yang sangat indah dengan nuansa beberapa kristal di bagian dada. Kedua mata Alexa membulat melihat hasil rancangan sketsa gaun pengantin yang dibuat oleh Septi.
"Waw! Indah sekali Mbak!"
"Iya dong, siapa dulu, Septi…!" ucap Septi membanggakan dirinya.
"Ini benar-benar hasil rancangan mu Mbak?" Alexa berpura-pura meragukan.
"Ya iyalah memangnya siapa lagi?" Septi mengerutkan hidungnya.
"Ternyata tidak sia-sia aku mengajakmu bekerja sama dalam perusahaan ku," ucap Alexa yang kemudian memeluk Septi dengan erat.
"Aku bangga sama dirimu Mbak,"
"Aku juga bangga sama kamu Alexa,"
Mereka sama-sama tertawa bahagia dengan posisi saling berpelukan. Sebuah persahabatan yang terjalin dengan sangat erat bahkan layaknya seperti saudara.
Alexa dan Septi yang sama-sama dibesarkan di sebuah desa terpencil, kini keduanya sama-sama ingin meraih kesuksesan yang hanya akan diciptakan oleh mereka sendiri.
"Sekarang mari kita lihat Ricard, aku takut terjadi sesuatu padanya," ucap Septi tiba-tiba.
Mendengar perkataan dari sahabatnya membuat Alexa mencibirkan bibirnya, menggoda Septi yang tengah bucin dengan Ricard, entah pria itu memiliki perasaan yang sama dengan nya atau tidak, Septi tidak peduli. Baginya yang jelas ia sangat mencintainya itu sudah cukup.
Kemudian keduanya melangkahkan kaki kembali menuju ke ruangan Alexa. Namun, ketika mereka sampai disana Ricard tidak terlihat lagi, hanya sebuah ruangan kosong dengan beberapa kertas berhamburan di lantai.
"Rupanya dia benar-benar marah," ujar Septi terlihat sedikit khawatir.
__ADS_1
"Hei! Memangnya kenapa kalau dia marah? Dia bukan anak kecil lagi, sudahlah," sahut Alexa.
"Aku takut dia bunuh diri, biasanya kan begitu kalau orang patah hati karena cintanya ditolak." Septi masih saja khawatir.
Alexa yang melihat Ricard dari jendela, langsung berseru kepada Septi yang masih asyik dengan segala kekhawatiran nya.
"Mbak, sini deh!" panggil Alexa yang saat itu sedang berdiri di depan jendela.
"Ada apa?" septi langsung menghampiri Alexa.
"Tuh lihat, Ricard mau apa dia? Mengapa dia memegang pisau di tangannya?" Alexa berpura-pura terkejut.
Sontak membuat Septi juga terkejut melihat Ricard yang sedang berdiri di taman kantor yang letaknya sangat dekat dengan ruangan Alexa. Saat itu Ricard sedang ingin memakan buah apel untuk meredakan kemarahannya, dan ini memang telah menjadi kebiasaan Ricard jika ia sedang marah, maka buah apel lah yang menjadi bahan pelampiasannya.
Tanpa menunggu apapun lagi, Septi langsung berlari dari ruang kerja Alexa menuju ke arah Ricard berada. Dan itu membuat Alexa tertawa geli karena telah berhasil membuat Septi menunjukkan perhatiannya kepada Ricard.
Benar saja apa yang telah dipikirkan oleh Alexa, Septi yang secara tiba-tiba datang langsung menghambur ke dalam pelukan Ricard. Hingga membuat pria itu menganga lebar, karena ia sendiri tidak menyangka Septi, wanita yang membuatnya tidak bisa memahami perasaannya sendiri, datang dan langsung memeluk dirinya.
"Apa-apaan ini?" Ricard melotot memandang Septi yang masih saja memeluknya.
Sedangkan Alexa tertawa cekikikan di ruangannya melihat tingkah absurd sahabatnya itu.
"Aku mohon jangan bunuh diri, jangan akhiri hidupmu hanya karena Alexa menolak cintamu, masih ada seorang wanita yang sedang menantikan pernyataan cintamu," ucap Septi panjang lebar dengan menutup kedua matanya, ia membenamkan kepalanya di dada bidang Ricard.
"Kau bicara apa? Siapa yang akan bunuh diri? Dan, mengapa kau peluk-peluk aku seperti ini?" tanya Ricard dengan pandangan mengintimidasi.
Mendengar pertanyaan dari Ricard, sontak membuat Septi melepaskan pelukannya, sebuah pelukan yang terjadi tanpa ia sadari sebelumnya.
"Jadi, kamu tidak ingin bunuh diri? Lalu pisau itu?" tanya Septi hampir tidak percaya bahwa dirinya telah salah mengira.
"Aku tidak ingin bunuh diri, aku hanya ingin makan buah-buahan ini," tunjuk Ricard ke arah buah apel yang berada di dalam kotak di atas meja disampingnya.
"Ha… apa… !! Septi langsung membelakangi Ricard, seketika wajahnya menjadi pucat karena merasa malu.
"Alexa awas kau, Berani-beraninya kau membuat ku malu seperti ini," bisik Septi lirih. Dan, beruntung Ricard tidak mendengarnya.
Septi membalikkan tubuhnya kembali menghadap Ricard.
"Maaf," Septi menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya. Kemudian berlari sekencang-kencangnya kembali menuju ke arah ruangan Alexa, yang hampir sakit perut menertawakan dirinya.
Saga yang merasa aneh dengan sikap Septi, Diam-diam tersenyum mengingat kembali perkataan wanita itu yang terdengar Absurd tapi menghanyutkan. Ricard tersenyum, entah mengapa ia merasakan suatu kesejukan didalam hatinya, ketika Septi memeluk dirinya walaupun hanya sekejap.
Berbeda saat ia bersama Alexa, ya Ricard akui Alexa memang lebih cantik dan menawan. Tetapi, Septi lah yang mampu memberikan kesejukan dan kenyaman didalam hatinya.
"Perasaan apa ini? Mengapa perasaan ku berubah seperti ini?" Ricard bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Sementara itu, Septi yang telah tiba di ruangan Alexa, menatap wanita itu dengan penuh rasa kesal apalagi saat itu ia mendapatkan Alexa yang sedang tertawa cekikikan menertawakan dirinya.
"Bagus! Sekarang berani ya, membuat Mbak mu ini merasa malu!" teriak Septi dengn kesalnya kepada Alexa.
"Aw! Sakit Mbak!" pekik Alexa ketika Septi menjewer telinganya dengan sedikit keras.
"Rasakan ini!" Septi semakin keras melintir telinga Alexa, hingga membuat Alexa mengaduh kesakitan.
"Ampun Mbak… ampun, aku janji tidak akan melakukan ini lagi," ucap Alexa dengan menyesal.
Sekesal-kesalnya Septi kepada Alexa, ia tidak akan tega melihat Alexa yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri merasa kesakitan terlalu lama.
Septi melepaskan pelintiran tangannya di telinga Alexa. Namun, tetap menatap Alexa dengan tatapan kekesalan. Alexa yang menyadari semua itu, langsung saja memegang kedua telinganya dengan memasang mimik wajah yang memelas.
Sontak membuat Septi tertawa tidak bisa menahan rasa geli didalam hatinya.
__ADS_1
"Kamu memang selalu bisa membuatku tertawa didalam kekesalan ku," ucap Septi kemudian keduanya saling berpelukan dengan penuh kasih sayang.