Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 96


__ADS_3

Hendra menyampaikan maksud kedatangannya ke mansion itu, ia menceritakan semua hal yang menyangkut tentang hubungannya dengan Rianti yang telah berjalan hampir dua minggu. Namun, baru kali ini ia bisa mengatakan hal yang sebenarnya.


"Apa? Kalian pacaran?" tanya Pak Wijaya yang langsung terkejut ketika mendengar


bahwa Hendra telah menjalin hubungan dengan putri pertamanya yaitu, Rianti.


"Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Rianti telah aku jodohkan sejak kecil dengan Robert putra dari Ibu Rima pengusaha kaya raya di Dubai!" Pak Wijaya meneruskan perkataan nya.


Mendengar hal itu membuat hati Hendra yang telah bersusah-payah mengumpulkan segenap keberanian, sontak menciut seketika.


Bahkan Hendra juga menunduk ketika Ibu Netty juga berbicara kepadanya.


"Nak Hendra, selama ini kami memang sangat baik kepadamu, tapi kamu jangan salah sangka, karena kami menganggap mu sebagai putra Kami, karena rasa kasihan, tidak lebih. Dan, untuk masalah jodohnya Rianti kami telah mempersiapkannya jauh-jauh hari, semenjak dia masih bayi." Ibu Netty menarik nafas, sebenarnya ia tidak tega untuk mengatakan semua itu kepada Hendra, namun, apa daya ia harus mengatakannya.


"Nak, Hendra bukankah selama ini kamu selalu dekat dengan Lusi?" tanya Ibu Netty kemudian.

__ADS_1


"Benar Tante, tapi… aku hanya menganggapnya sebagai adikku saja, jujur aku menyukai Rianti ketika kami bertemu diulang tahunnya Lusi." jawab Hendra berusaha untuk tetap tenang, meski di dalam hatinya ia telah merasa insecure.


"Maaf nak Hendra, kami akui dan kami mengagumi atas keberanian mu, tapi maaf kami tidak bisa merestui hubungan kalian!" ucap Pak Wijaya dengan tegas.


Mendengar pernyataan dari kedua orang tuanya membuat Rianti semakin mempererat cengkraman tangannya yang memegang tangan Hendra.


Hendra yang masih menunduk, tiba-tiba mendongakkan kepalanya menatap wajah Rianti yang juga menatapnya dengan sejuta harapan.


"Kau dengarkan apa kata orang tuamu? Mulai saat ini kita–,"


"Tidak! Jangan katakan apapun kepadaku, aku hanya ingin selalu bersamamu," Rianti memotong perkataan Hendra, sebelum pemuda itu mengatakan hal yang tidak ingin ia dengar.


"Aku tidak peduli, toh selama ini juga tidak dibesarkan oleh mereka!" Rianti menatap tajam kearah kedua orang tuanya.


"Tapi, Rianti,"

__ADS_1


"Bawa aku bersamamu, aku rela meninggalkan semua kemewahan ini asal kita selalu bersama." Rianti tetap berusaha meyakinkan Hendra akan keseriusannya.


"Rianti!!" bentak Pak Wijaya, dan baru pertama kalinya ini ia membentak putrinya.


Bukannya takut, malah Rianti membalas menatap Ayahnya dengan beringas.


"Apa Ayah? Ayah ingin memisahkan kami berdua? Jangan mimpi! Sampai matipun aku akan tetap bersama dengan Mas Hendra." Rianti sengaja menambahkan kata 'Mas' di depan nama Hendra agar terlihat serius di depan mata kedua orangtuanya.


"Rianti! Berani sekali kamu bicara seperti itu kepada Ayahmu, dia orang tuamu!" teriak Ibu Netty yang juga ikut Emosi melihat tingkah putrinya.


"Maaf Ma, Pa, sepertinya aku tidak bisa lagi tinggal disini, kami permisi!"


"Rianti!!" panggil kedua orang tuanya bersamaan.


Namun, Rianti yang telah digandrungi oleh cinta membuat dirinya terlihat egois dan hanya ingin mengedepankan keinginannya sendiri.

__ADS_1


Rianti terus saja melangkah meninggalkan mansion itu tanpa menoleh sekalipun kebelakang. Yang dimana disana telah terjadi sesuatu kepada Ayahnya. Pak Wijaya jatuh pingsan dengan memegang sebelah dadanya. Semua orang termasuk para pembantu dan security, semuanya lebih memilih untuk menyelamatkan Pak Wijaya daripada menghentikan Rianti yang telah pergi meninggalkan mansion itu.


Akibat terlalu memuja yang namanya Cinta membuat Rianti dan Hendra berbuat nekat, bahkan mereka berniat untuk segera menikah tanpa adanya persiapan terlebih dahulu, pada saat itu seusia Rianti dan Hendra masih diperbolehkan untuk menikah. Walaupun mereka sedang tahap belajar.


__ADS_2