Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 56


__ADS_3

Saga duduk termenung dengan menundukkan kepalanya, hatinya terasa diiris. Pedih, sakit dan perih bercampur menjadi satu. Selama hidupnya Saga tidak pernah merasakan hal ini, hanya Sekali Ini saja ia merasa begitu kecewa dan sakit hati. Namun, apalah daya karena dirinya yang menyebabkan semua ini terjadi.


Bu Lalika menghampiri Saga menatap lekat ke dalam bola mata anak tirinya itu, Bu Lalika berusaha memahami apa yang sedang dirasakan oleh Saga hingga membuat dirinya begitu tidak berdaya.


"Saga, jujurlah pada mama apa sebenarnya yang kau sembunyikan?" tanya Bu Lalika.


"Tidak Ma, tidak ada yang aku sembunyikan darimu, aku hanya sedang memikirkan sesuatu dan itu tidak terlalu penting." Jawab Saga dengan berbohong.


Bu Lalika merasa ada yang disembunyikan oleh Saga, jauh di dalam manik mata anak tirinya itu ia melihat sebuah rasa kecewa yang teramat dalam yang mungkin tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.


Saat itu mereka masih berada di ruang bawah tanah, Saga terduduk dengan lemas tiada daya dan Bu Lalika hanya bisa menatap anak tirinya itu dengan rasa kasihan.


Setelah ibunya tiada, dialah yang mengasuhnya dari kecil hingga dewasa, dan saat usia Saga beranjak dewasa ayahnya pun meninggal, dan kini iya pun harus menerima kenyataan pahit bahwa kakaknya tercinta adalah orang yang telah menghianatinya selama ini.


Saga hanya dimanfaatkan karena kecerdasannya untuk mengelola perusahaan mendiang ayahnya yang hampir bangkrut, menjadi sukses kembali dikarenakan Raisa tidak memiliki keahlian dalam bidang bisnis.


Oleh karena itu Raisa sengaja memanfaatkan Saga dengan memeras otaknya demi perkembangan kemajuan perusahaan yang memang dari dulu atas namanya.


Sedikitpun ia tidak pernah ingin berbagi dengan Saga ataupun Rian, semua saham di perusahaan itu termasuk Mansion mewah yang mereka tempati semuanya atas nama Raisya Hawiranata Kusuma.

__ADS_1


"Saga, Mama mohon Jika kau memang menganggapku sebagai ibumu. Ceritakanlah apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan, sebagai seorang ibu aku akan mendengarkan semua keluh kesahmu," ucap Bu Lalika dengan rasa prihatin.


Saga terdiam, ingin rasanya ia menangis di pangkuan wanita itu, mengadukan semua rasa sakit di dalam hatinya. Rasa kecewa yang teramat dalam seolah mengobrak-abrik seluruh jiwanya.


Melihat anak tirinya tidak bergeming Bu Lalika berkata, "Menangislah nak, menangislah jika itu mampu membuatmu merasa lebih baik, tidak ada larangan bagi siapapun termasuk seorang anggota mafia jika memang merasa perlu dan butuh, maka menangislah untuk ketenangan hatimu dan juga jiwa mu" pinta Bu Lalika merasa tidak tega melihat keadaan Saga yang uring-uringan.


Sontak membuat Saga berhambur dalam pelukan Bu Lalika, ia menangis di sana melepaskan semua rasa kecewa, rasa perih, rasa sedih dan rasa sakit hati yang tengah ia rasakan saat ini.


"Apakah aku pantas untuk dicinta? Apakah aku pantas untuk mencinta? Sedangkan kesalahanku sangatlah banyak. Bahkan aku telah tega menyia-nyiakan wanita yang tulus mencintaiku tanpa iming-iming dari hartaku," keluh Saga dengan rasa kecewa sekaligus sebuah penyesalan yang tiada guna.


"Apa maksudnya? Apakah wanita yang kau maksud adalah Alexa?" tanya Bu Lalika seraya mengelus lembut rambut Saga.


"Jika kau memang masih sangat mencintainya saga, katakanlah kepadanya secara jujur, aku pun melihat masih ada cinta di dalam hatinya untukmu." Bu Lalika memberi saran kepada Saga.


"Andai saja, andai saja semudah itu Ma, namun kali ini berbeda, dia akan segera bertunangan dengan pria tadi yang membawanya pulang dan dia adalah sahabatku sendiri, Ricard tidak pernah mengetahui hubungan di antara kami yang pernah terjalin dalam sebuah pernikahan." ucap Saga di antara rasa sedihnya.


Bertunangan? Alexa akan bertunangan dengan Richard? Tapi aku tidak pernah melihat adanya rasa di antara mereka berdua, mereka seperti dua orang yang tidak saling mengenal." ucap Bu Lalika mengingat sebelumnya ia melihat Bagaimana sikap dingin Alexa terhadap Ricard, meskipun pria itu memberinya perhatian yang lebih."


"Aku tidak tahu pasti Ma, seperti Apa hubungan mereka, karena aku hanya mendengar mereka akan segera bertunangan dalam waktu dekat ini" jawab Saga masih tetap memeluk Bu Lalika, berharap mendapatkan ketenangan jiwa di dalam pelukan ibu tirinya.

__ADS_1


"Mama rasa masih ada waktu Saga, lebih baik kau utarakan semua perasaanmu tanpa terkecuali kepada Alexa, dan mama yakin Alexa juga memiliki perasaan yang sama kepadamu." ucap Bu Lalika dengan keyakinan bahwa Alexa masih memiliki perasaan yang sama terhadap Saga.


"Tidak, mungkin sudah seperti ini jalan takdirku, aku harus merelakan dia bahagia bersama dengan orang lain, biarlah cinta ini aku pendam sendirian, biarlah hati ini yang merasakan sakit demi kebahagiaannya, aku telah Rela!" Jelas Saga meskipun di dalam hatinya ia sendiri merasa berat melepaskan Alexa bersama pria lain.


"Kau memang baik saga kau memang berbudi luhur" ucap Bu Lalika menghibur Saga,


kemudian Bu Lalika bertanya kembali,"Lalu bagaimana dengan pernikahanmu bersama Tiara? Apa kau akan segera menceraikannya?" Saga tidak segera menjawab, untuk saat ini ia tidak mampu mengambil keputusan apapun karena perasaan dan pikirannya benar-benar kacau.


"Jika kamu memang membenci Rian dan Tiara, aku mohon padamu jangan pernah membenci Sakti, walau bagaimanapun dia tidak pernah bersalah dan dia tidak pernah meminta untuk berada dalam situasi seperti ini, Aku mohon Saga, aku mohon padamu sayangi Sakti seperti dulu, Jangan pernah kau benci anak itu," pintar Bu Lalika dengan berderai air mata.


Melihat Bu lalika menangis, Saga merasa tidak tega dan Ia pun segera berkata,


"Tidak, Aku tidak akan pernah membenci Sakti, karena dia juga korban kesalahan kedua orang tuanya, aku berjanji padamu akan tetap menyayanginya seperti dulu karena dia adalah anak yang tidak berdosa."


Mendengar ucapan Saga, membuat Bu Lalika merasa lega, seulas senyum terbit di bibirnya yang pucat. Tubuh kurus keringnya bergetar menahan rasa kebahagiaan karena Saga tidak ingin menyangkut pautkan Sakti dalam hal itu.


"Mari Ma, mari ku antar kau pulang, kau harus banyak istirahat dan banyak makan juga, agar kondisimu kembali pulih seperti dulu, seperti mama yang kukenal dulu, cantik parasnya dan manis senyumnya," bujuk Saga merayu ibu tirinya yang terlihat sangat berbeda dengan waktu dulu saat mereka masih bersama.


Wanita yang dulunya cantik dengan tubuh segar bugar serta senyum yang mempesona kini telah berubah menjadi kurus kering berwajah pucat tanpa senyum di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2