
"Maaf," ucap Saga seraya melepaskan sentuhan tangannya yang memegang pinggang ramping milik Alexa.
"Tidak apa-apa," sahut Alexa yang juga melepaskan pegangan tangannya di punggung Saga, secara reflek ia memegang punggung Saga saat akan terjatuh, begitupun dengan Saga yang juga secara reflek menopang tubuh Alexa dengan memegang pinggangnya agar tidak terjatuh.
Mereka berdua sama-sama menyembunyikan senyum di wajah mereka, terlihat begitu malu-malu satu sama lain.
Sedangkan Kakek Syarifuddin yang telah selesai memberikan ilmunya kepada para santri dan santriwati, merasa bahagia ketika melihat Pak Hendra yang tengah asyik bermain bersama Sakti.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," Kakek Syarifuddin memberi salam saat akan memasuki ndalem nya.
"Wa'alaikumussalam," Pak Hendra menjawab salam Kakek Syarifuddin.
Kemudian Pak Hendra berdiri menyambut kedatangan Kakek Syarifuddin yang terlihat sangat berwibawa dan bijaksana, rasanya sangat sejuk ketika Pak Hendra menatap wajah yang berkerut karena dimakan usia, namun tampak bercahaya.
"Anda siapa?" tanya Kakek Syarifuddin yang memang belum pernah mengenal Pak Hendra sama sekali.
"Saya Hendra Ayahnya Tiara dan Alexa," jawab Pak Hendra memperkenalkan diri.
"Mbah Kung, ini Kakekku," tukas Sakti dengan menggandeng tangan Pak Hendra, bocah itu sepertinya bahagia sekali. Terbukti dengan senyum riang yang terbit dibibirnya.
"Ya, Kau senang sekali bermain dengan Kakekmu?"
"Iya dong,"
Setelah menjawab pertanyaan dari Kakek Syarifuddin Sakti pun langsung bermain kembali di tempatnya semula, meninggalkan Pak Hendra dan Kakek Syarifuddin yang telah duduk di sofa. Mereka berdua sedang berbincang-bincang saling mengenal satu sama lain.
"Saya mewakili putri Saya, Tiara, ingin meminta maaf atas semua perilakunya yang mungkin membuat Nak Saga dan Pak Kyai merasa kesal dan marah." ucap Pak Hendra dengan menahan rasa malu atas perilaku putrinya.
"Jangan panggil Saya Pak kyai, panggil saja Pak Syarifuddin," Kakek Syarifudin menolak dipanggil Pak Kyai.
Memang begitulah perangai Kakek Syarifuddin, beliau selalu saja merendahkan diri sendiri. Tidak pernah satupun di dalam perilakunya sehari-hari yang menunjukkan rasa sombong atau tinggi hati.
Dan seringkali dari para santri yang memanggilnya dengan sebutan 'Abah' dan ada juga beberapa diantara mereka yang tetap memanggilnya dengan sebutan Pak Kyai.
"Iya, Pak Syarifuddin," ujar Pak Hendra yang menurut saja dengan permintaan Kakek Syarifuddin.
"Menurut Saya tidak ada yang perlu meminta maaf ataupun dimaafkan, yang lalu biarlah berlalu, sekarang bagaimana caranya agar kita bisa tetap hidup rukun dan tetap saling menyayangi."
pak Hendra terdiam, ia berusaha meresapi seluruh ucapan Kakek Syarifuddin.
"Hanya satu yang Saya inginkan, yaitu, hidup penuh dalam kekeluargaan dan saling menyayangi." ucap Kakek Syarifuddin.
Pak Hendra mengangguk mengiyakan ucapan Kakek Syarifuddin.
Tak lama kemudian terdengar suara orang yang sedang bercanda dari arah luar, kedengarannya sangat asyik sekali. Rupanya Saga dan Alexa yang telah kembali dari halaman ndalem serta melihat-lihat kondisi pondok pesantren itu.
Saga dan Alexa mengucapkan salam yang kemudian dijawab oleh kakek Syarifuddin dan Pak Hendra.
"Apakah dia yang namanya Alexa?" tanya Kakek Syarifuddin seraya menunjuk ke arah Alexa yang sedang berdiri di belakang Saga.
__ADS_1
"Iya Kakek, Saya Alexa." jawab Alexa dengan mencium punggung tangan Kakek Syarifuddin.
"Kau wanita yang cantik," Kakek Syarifuddin memuji Alexa yang tersenyum manis. Semakin menambah kecantikannya.
"Kakek bisa saja," Alexa tersipu malu ketika Kakek Syarifuddin memujinya.
Mendengar hal itu membuat Saga mengulum senyum, ia merasa senang wanita pujaannya di puji oleh Kakeknya sendiri.
Kakek Syarifuddin sendiri sangat menyayangkan perceraian yang terjadi diantara mereka, karena menurut beliau mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi.
"Apakah kalian ada rencana untuk rujuk?" tiba-tiba saja Kakek Syarifuddin mengalihkan pembicaraan mengarah kepada hubungan Saga dan Alexa.
Mendengar pertanyaan dari Kakek Syarifuddin membuat Saga terperangah dan melirik ke arah Alexa yang juga melirik kepadanya, dan semua itu tidak lepas dari perhatian Kakek Syarifuddin.
"Saga?" Kakek Syarifuddin memanggil nama cucunya seolah ingin bertanya tetapi tidak diucapkan.
"Alexa, Saga, jika memang kalian ingin rujuk Ayah akan mendukung kalian." ucap Pak Hendra mengimbuhi ucapan Kakek Syarifuddin.
"Tetapi Ayah–," Alexa tidak bisa meneruskan kata-katanya dikarenakan pada saat pertunangannya dengan Ricard, Ayahnya itu tidak diundang.
Alexa merasakan lidahnya seakan kelu, jika ia mengatakannya, Alexa khawatir akan membuat perasaan Ayahnya yang merupakan satu-satunya orang tua yang ia miliki di dunia ini, menjadi tersakiti.
"Tidak Kek! Kami tidak mungkin rujuk kembali!" dan ucapan Saga ini sungguh benar-benar membuat Pak Hendra maupun Kakek Syarifuddin terkejut.
"Kakek perhatikan kalian masih memiliki perasaan yang sama, kalian masih sama-sama saling mencintai,"
"Kenapa?"
Saga melirik Alexa sekilas, seolah ia ingin meminta izin untuk menyampaikan sesuatu kepada kedua orang itu, Alexa pun mengangguk.
"Karena Alexa telah resmi bertunangan dengan sahabatku," lanjut Saga menjelaskan alasannya mengapa ia menolak.
"Apa? Bertunangan? mengapa Alexa, mengapa Ayah tidak di infokan tentang hal ini?" Pak Hendra terkejut sekaligus merasa kecewa, seharusnya sebagai seorang Ayah, ia berhak mengetahui apapun yang terjadi pada putrinya itu.
"Maaf, Yah, ini semua adalah keputusan dari Eyang. Aku tidak bisa melakukan apapun," jawab Alexa yang dapat merasakan kekecewaan yang tengah di rasakan oleh Ayahnya saat itu.
"Pak Hendra, maaf sebelumnya jika aku lancang, sebenarnya aku juga hadir dalam acara pertunangan itu, bahkan aku menjadi saksinya," Saga menghela napas sebentar.
"Jadi, Alexa tidak bersalah karena dia juga berhak untuk memilih kebahagiaannya sendiri." lanjut Saga yang kemudian menundukkan kepalanya.
Alexa memberanikan diri untuk menatap Saga, pria yang masih sangat ia cintai. Alexa juga bisa merasakan sebuah rasa yang sama seperti apa yang sedang dirasakan oleh Saga. Namun, ia tidak dapat berbuat apa-apa selain menjalaninya terlebih dahulu dan memastikan apakah diantara dirinya dan Ricard ada kecocokan atau tidak.
"Tapi itu semua tidak semudah yang di bayangkan, keluarga Ricard terutama Ayahnya merasa sangat keberatan dengan status sosialku," ucap Alexa yang kemudian membuat Saga kembali menatap dirinya.
"Maafkan aku, tidak hanya dalam pernikahan kita, aku membuatmu menderita tapi saat kita berpisah pun aku masih membuatmu merasakan hal yang sama," ucap Saga dengan penuh rasa penyesalan.
Mendengar ucapan Saga yang seakan penuh dengan rasa penyesalan membuat Alexa berniat untuk berterus terang tentang hubungan dirinya dengan Ricard yang sebenarnya.
"Benarkah?" kalimat tanya yang diucapkan Saga dengan senyum dibibir nya yang seolah memiliki harapan untuk cintanya. Setelah menyimak cerita Alexa dari awal hingga akhir.
__ADS_1
Begitupun dengan Kakek Syarifuddin dan Pak Hendra, mereka juga berdoa semoga Alexa kembali berjodoh dengan Saga, dan semoga Ricard mendapatkan jodoh yang lain.
Sementara itu, Rian, yang baru saja menginjakkan kedua kakinya di tanah Air, segera memasuki area pondok pesantren.
Jangan ditanya dari mana Rian mendapatkan tiket untuk pulang, karena semenjak Raisya menjual mansion dan perusahaannya ia tidak pernah lagi menerima transferan dari kakak tirinya itu.
Maka Alexa lah yang membantunya dengan mentransfer uang dalam jumlah yang tidak sedikit, bukan tanpa alasan Alexa melakukan hal itu, dikarenakan ia merasa sangat prihatin dengan nasib Sakti yang telah tidak diperdulikan lagi oleh Ibunya.
Alexa berharap mungkin dengan hadirnya Rian akan membuat hidup Sakti lebih berwarna, namun tentunya dengan sebuah perjanjian yang telah ia sepakati bersama dengan Rian di telepon.
Merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan Pondok Pesantren, salah satu dari santri berteriak-teriak menunjuk ke arah Rian.
"Maling–, maling–, maling–!" teriak santri itu seraya berlari ke arah Rian yang terkejut mendapatkan teriakan maling.
Sontak Rian segera berlari dengan sekuat tenaga meninggalkan Pondok Pesantren, tetapi karena banyaknya para santri yang ikut mengejar membuat Rian dengan mudah diringkus oleh para santri.
Mendengar ada ribut-ribut dijalan, sontak membuat Kakek Syarifuddin dan Pak Hendra segera bergegas menghampiri para santri yang sedang mendaratkan beberapa pukulan.
BUGH
BUGH
BUGH
Seraya pukulan itu masih saja mendera di tubuhnya, hingga pada akhirnya terdengar suara seseorang yang sangat berwibawa, siapa lagi kalau bukan Kakek Syarifuddin.
Sontak membuat para santri berhenti melayangkan pukulannya, mereka semua diam membisu saat mendapatkan tatapan yang sangat menghunus dari Kakek Syarifuddin.
"Siapa yang telah mengajari kalian bermain hakim sendiri?" Kakek Syarifuddin bertanya dengan suara yang lumayan keras, sehingga membuat para santrinya yang tadinya sangat bernafsu untuk memukuli Rian menciut seketika.
Tidak ada jawaban dari para santrinya, suasana hening seketika hanya terdengar suara Rian yang sedang mengaduh kesakitan.
"Aduh… badanku remuk semua," Rian berusaha bangkit dari tempatnya.
"Rian!" seru Saga ketika mendengar suara adik tirinya itu, kemudian Saga segera mengulurkan tangannya dan membantu Rian untuk berdiri.
Mendengar nama Rian di sebut, para santri semakin menundukkan kepalanya. Karena mereka tahu pasti kalau tindakan mereka salah besar. Sebelumnya mereka pernah mendengar nama Rian dari cerita Saga dan Kakek Syarifuddin beberapa saat yang lalu.
"M-maafkan kami, kami telah salah menduga," salah seorang dari para santri yang terlibat aksi massa memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Rian yang sedang merintih kesakitan.
"T-tidak apa-apa, ini juga salahku yang membuat kalian menduga diriku seperti itu," sahut Rian, ya memang tingkahnya sangat mencurigakan, jadi wajar jika para santri mengira dirinya sebagai maling, karena Rian yang mengendap-endap memasuki area pondok pesantren, tapi semua itu ia lakukan hanya untuk memastikan bahwa benar itu alamat nya.
"Saga, cepat bawa adikmu itu ke dalam, dan untuk kalian bersihkan WC dengan menggunakan kedua tangan kalian, jangan pernah coba-coba pakai sikat atau apapun!" perintah Kakek Syarifuddin dengan serius.
"Baik kek," sahut Saga lalu memapah Rian menuju ndalem.
Tanpa menunggu apapun lagi para santri segera berhambur menuju kamar mandi untuk membersihkan WC. Dengan penuh keikhlasan mereka menjalani hukuman itu.
Tidak ada keluh kesah yang keluar dari mulut mereka melainkan hanya sebuah senyum yang terbit di bibir masing-masing santri. Entah mengapa mereka merasa senang menjalani hukuman itu.
__ADS_1