Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 28


__ADS_3

Setelah acara makan malam selesai, dengan penuh rasa syukur, Pak Hendra mengucapkan terimakasih kepada seluruh kerabat yang telah bersedia memenuhi undangannya. 


Meskipun didalam hati Pak Hendra merasa sangat kecewa dengan kenyataan bahwa Tiara sedang hamil, dan yang lebih menyakitkan lagi, Tiara sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan. 


Pak Hendra dan Bu Lusi bertekad akan menyembunyikan semua itu dari pandangan luas masyarakat, termasuk kerabat mereka sendiri. 


Ketika hendak pulang,tiba-tiba Saga dan Alexa merasa pusing secara bersamaan. 


"Kepalaku kenapa?" keluh Alexa seraya memegangi kepalanya. 


"Kau kenapa? Kepalamu sakit?" 


"Oh, kenapa dengan kepalaku? Kenapa tiba-tiba sakit?" Saga yang ingin membantu Alexa secara tiba-tiba merasakan hal yang sama. 


Sedangkan semua orang telah pulang ke tempat masing-masing, termasuk Oma Hesti dan Raisya. Saga dan Alexa berniat untuk pulang agak malam, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan oleh Saga dengan Pak Hendra. 


"Tuan Saga, Alexa kalian kenapa?" Pak Hendra yang tidak tahu apapun tampak khawatir melihat anak dan menantunya mengaduh kesakitan. 


"Entahlah, kami juga tidak tahu, kepalaku rasanya berat sekali." keluh Saga. 


"Tadi aku cuma minum jus sedikit, kenapa


tiba-tiba pusing?" Alexa juga mengeluh. 


Melihat keduanya, Bu Lusi angkat bicara mengusulkan sesuatu. 


"Lebih baik kalian bermalam saja disini, tante khawatir akan terjadi sesuatu jika kalian paksakan pulang malam-malam!" 


"Ya, aku setuju, bermalam disini itu lebih baik, bukankah mansion ini juga mansion Alexa, jadi kalian berdua bebas bermalam disini." Pak Hendra mendukung ide istrinya. 


Mendapat persetujuan dari suaminya, membuat Bu Lusi senang, hingga memperlihatkan sebuah seringai aneh di sudut bibirnya. 


'Sebentar lagi rencanaku akan berhasil, sebentar lagi aku akan menjadi orang terkaya di kota ini!' batin Bu Lusi membayangkan rencananya akan Segera berhasil. 


"Lusi, antarkan Mami pulang, Pak sopir tidak ada di tempat, entah dimana dia sekarang," ucap Eyang Netty yang baru saja kembali dari halaman mansion. 

__ADS_1


"Baik Mam, biar suamiku yang mengantarkan Mami." sahut Bu Lusi senang, ia merasa dewi keberuntungan sedang berpihak kepadanya. 


Karena dengan perginya Pak Hendra, akan semakin memudahkan dirinya untuk menjalankan rencananya. 


Pak Hendra yang mendengar permintaan Ibu mertuanya, segera menyetujuinya. 


"Mari Mam, aku antar!" 


"Mari, tapi sebelum ke mansion, Mami ingin pergi kerumah pengacara Mami," pinta Eyang Netty. 


"Untuk apa Mam? Bukankah ini sudah larut malam?" Pak Hendra heran, mendengar permintaan dari Ibu mertuanya. 


"Sesuatu hal yang sangat penting dan tidak bisa ditunda-tunda!" jawab Eyang Netty dengan tegas. 


Kemudian Eyang Netty menghampiri Alexa yang sedang duduk di sofa bersama Bu Lusi. Sedangkan Saga duduk di sebelahnya dengan posisi bersandar karena kepalanya telah terasa sangat pusing. 


"Alexa, Eyang pulang dulu ya, kapan-kapan kalau ada waktu mainlah ke tempat Eyang, pintu mansion ku akan selalu terbuka untukmu." ucap Eyang Netty kepada Alexa. 


"Baik, Eyang." jawab Alexa pelan hampir tak terdengar. 


Setelah cipika-cipiki dengan Alexa, Eyang Netty pulang diantar oleh Pak Hendra. 


Kemudian dua orang pengawal pribadi Pak Hendra, diperintahkan oleh Bu Lusi untuk memindahkan Saga kekamar Tiara. Karena Bu Lusi sendiri tidak akan kuat memapah tubuh Saga yang tinggi dan kekar. 


"Ingat! Kalian harus tutup mulut apapun yang terjadi, walaupun suami ku sendiri yang bertanya, kalian katakan saja tidak tahu, mengerti!!" Bu Lusi memperingatkan kedua pengawal setianya. 


"Ini bayaran untuk kalian berdua, sekarang cepatlah pergi!" Bu Lusi menyerahkan sebuah amplop coklat yang penuh isi hingga membengkak. 


Kedua pengawal itu menerimanya dengan senang hati, lalu pergi meninggalkan mansion tersebut. 


"Sekarang selesaikan tugasmu! hasil akhirnya tergantung dirimu!" perintah Bu Lusi kepada putrinya. 


"Ok, Ma!" jawab Tiara penuh semangat. 


 Kemudian Tiara pergi ke kamarnya, setelah menutup pintu, ia pun segera beraksi. Menghadapi seorang pria bukanlah hal yang sulit baginya, karena ia telah terbiasa melakukannya. 

__ADS_1


Jika dengan pria yang sadar saja ia tidak mengalami masalah, apalagi dengan pria yang telah pingsan, membuat Tiara dengan semakin mudah melancarkan aksinya. 


"Saga, kau sangat tampan, wajahmu mengingatkan ku pada Rian, hidungmu, bibirmu dan bentuk alismu sangat mirip dengannya. Ah, andai saja dia konglomerat sepertimu, maka aku tidak perlu repot-repot menjebakmu!" bisik Tiara seraya meraba wajah tampan Saga, menikmati keindahan yang dimiliki oleh pria itu. 


Setelah melucuti seluruh pakaian Saga, Tiara melanjutkan dengan melucuti pakaiannya sendiri. Tanpa rasa malu sedikitpun kepada dirinya sendiri, Tiara naik keatas ranjang memeluk tubuh Saga, hanya sehelai selimut, yang menutupi sebagian tubuh keduanya. 


"Lebih baik kau tinggalkan saja Alexa, karena aku jauh akan membuatmu lebih bahagia." bisik Tiara seraya mencium pipi Saga dengan penuh minat. 


"Sayangnya kau pingsan, jika tidak, maka kita akan berpesta malam ini." bisiknya lagi, kemudian memejamkan kedua matanya dengan masih memeluk tubuh kekar Saga. 


Entah berapa lama mereka saling berpelukan, yang jelas hingga esok paginya, pagi-pagi sekali Alexa yang telah terbangun segera mencari keberadaan suaminya. 


Akan tetapi, kemanapun ia pergi mencari keberadaan Saga tetap tidak bisa ditemukan. 


"Maaf Yah, apa Ayah melihat tuan Saga?" tanya Alexa ketika melihat Pak Hendra sedang duduk di ruang tamu. 


"Loh, bukannya semalam dia bersamamu?" Pak Hendra bertanya pula. 


"Entahlah Ayah, semalam aku tidak ingat apapun, yang jelas saat aku bangun tadi, dia tidak ada disana." Alexa menjelaskan. 


"Alexa, bisa tolong panggilkan Tiara!" pinta Bu Lusi. Ia sengaja melakukan hal ini, agar Alexa melihat sendiri apa yang telah terjadi di kamar Tiara. 


Dan benar saja, ketika Alexa membuka pintu kamar Tiara yang memang tidak di kunci. Terdengar suara teriakan Alexa. 


"Tidak…! Saga! Tiara"! Suara Alexa menggema memenuhi ruangan. 


Alexa merasa sangat terpukul, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, pengkhianatan yang telah dilakukan oleh suami dan adiknya. 


Sontak membuat Saga, yang sedang memeluk Tiara tanpa busana, terkejut. 


" Alexa, kau?!" Saga terlihat bingung ketika melihat istrinya sedang berdiri menatap dirinya dengan penuh kebencian. Karena ia mengira, wanita yang bersamanya adalah Alexa. 


Alexa memejamkan kedua matanya, berusaha menahan rasa sakit di dalam hatinya saat ini. Apalagi saat ia melihat begitu banyak tanda merah kepemilikan yang mendera memenuhi leher dan dada Tiara. 


Dapat ia bayangkan betapa panas nya waktu semalam, waktu yang mereka habiskan untuk mengkhianati dirinya. 

__ADS_1


"Dasar pria mesum, kau tidak mendapatkannya dariku, dan kau mengambil nya dari adikku!" seru Alexa dengan histeris. 


Membuat Saga panik seraya memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai. Sedangkan Tiara masih terbaring di atas ranjang dengan kedua mata tertutup dan wajah yang pucat. 


__ADS_2