Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 63


__ADS_3

Sementara itu Saga yang kini telah berada di markas geng mafia segera menemui Irwan di ruang tahanan, ia ingin mengorek informasi tentang keberadaan Raisya dari Irwan yang tentunya telah mengetahui di mana istrinya berada.


Dengan Langkah tegap dan cepat Saga melalui lorong yang gelap menuju ruang tahanan, Ia hanya menggunakan sebuah senter untuk menerangi jalannya.


Dari kejauhan Saga bisa merasakan bagaimana menderitanya para tahanan itu, tinggal di tempat yang gelap dan dingin tanpa cahaya matahari. Bahkan nyamuk-nyamuk dan lalat beterbangan di mana-mana, menggigit dan menghisap darah mereka semakin menambah penderitaan yang mereka rasakan.


"Saga! Lepaskan aku!" Teriak Irwan ketika ia melihat Saga dari penerangan senter yang dipegang oleh Saga.


Saga segera menghampiri Irwan, ia menarik sebelah sudut bibirnya seraya melirik ke arah Irwan. Saga merasa puas dengan penderitaan yang dialami oleh Irwan ia bisa melihat dengan jelas seluruh tubuh Irwan bentol-bentol karena digigit nyamuk dan lalat, serta beberapa di bagian lain terdapat bekas Lebam akibat pukulan yang mulai menghitam kebiruan.


"Sungguh menyedihkan keadaanmu kakak ipar, namun semua itu tidak sebanding dengan semua perbuatanmu selama ini!" Ucap Saga seraya menekan pada kalimat terakhirnya.


"Lepaskan aku Saga, kau tidak berhak menahanku seperti ini!" Teriak Irwan dari dalam ruang tahanan yang hanya dibalas dengan senyuman sinis oleh Saga.


"Ya, mungkin aku akan membebaskanmu jika kau bersedia memberitahuku di mana istrimu berada?" Saga mulai memberi harapan kepada Irwan dengan satu syarat.


"Aku tidak tahu di mana keberadaan istriku, sejak aku ditangkap aku tidak pernah menghubunginya lagi, lagi pula ponselku berada di tangan kalian!" Irwan masih saja berteriak seolah mereka berada di dua tempat yang berbeda.


"Tenanglah kakak ipar tidak perlu kau berteriak seperti itu kau hanya membuang-buang tenagamu saja mari kita bicara dengan lebih tenang" ucap Saga dengan tertawa di depan Irwan, yang semakin membuat pria itu merasa geram.


"Kau ingin bebaskan? Kalau begitu beritahu aku di mana keberadaan istrimu agar dia bisa menemanimu di sini, hingga kau tidak perlu meminta untuk dibebaskan, mungkin dengan kehadiran istrimu di sini akan sedikit mengurangi penderitaanmu dan kalian bisa cipika-cipiki di tempat ini!" Lanjut Saga semakin membuat Irwan merasa geram.


"Sialan! Kau ingin main-main denganku! Kau hanya anak ingusan jadi jangan pernah berharap kau bisa menandingiku!" Irwan semakin emosi dibuatnya.


"Sudah kubilang kan kakak ipar, tenang oke, kau ini seperti tong kosong nyaring bunyinya" Sindir Saga yang semakin membuat emosi Irwan memuncak.

__ADS_1


Wajah Irwan terlihat marah karena menahan emosi, kedua tangannya mengepal sangat erat hingga membuat seluruh tubuhnya bergetar serta rahangnya yang semakin mengeras. Namun apalah daya, Ia hanya bisa diam di tempatnya tanpa melakukan apapun karena kondisi kedua kakinya saat ini sedang lumpuh.


Saga melirik ke arah kaki Irwan dengan tersenyum sinis ia berkata," kakak ipar yakin ingin dibebaskan, Lalu siapa yang akan mengurus kakak ipar nanti di luar sana, apakah kakak ipar bisa mengurus diri sendiri dengan kedua kaki yang lumpuh?"


Saga tertawa keras semakin membuat Irwan dalam kemarahan yang semakin memuncak hingga membuat seluruh tubuhnya kembali bergetar.


"Sudahlah kakak ipar tidak perlu marah. Anggap saja takdirmu sudah tiba dan kau akan selamanya tinggal di sini atau jika ingin pergi maka pergilah, tapi hanya jiwamu saja sedangkan ragamu akan tetap di sini!" Saga semakin mengompori Irwan.


Hal itu sengaja ia lakukan untuk membuat Irwan kehilangan akal sehatnya, bukan tidak mungkin jika Irwan terus saja marah maka ia akan menjadi stres, dan itulah yang Saga inginkan agar tidak terjadi lagi kejahatan di muka bumi.


Tak lama kemudian datanglah seorang pelayan yang bertugas mengantarkan makanan untuk para tahanan, pelayan itu bergegas menuju ke tempat Irwan ditahan.


"Apa ini?" Tanya saga kepada pelayan itu saat ia melihat sebuah kotak putih di tangan pelayan itu.


"Ini makanan untuk para tawanan tuan, dan ini khusus untuk tahanan yang bernama Irwan!" Jawab pelayan itu Seraya menunjukkan sebuah kotak yang berbeda dari lainnya.


"Baiklah tuan, saya akan memberikan kepada yang lainnya, " ucap pelayan itu lalu bergegas menuju ke arah tahanan yang lainnya.


Dengan membawa kotak makanan di tangannya, Saga memasuki ruang tahanan tempat Irwan berada. Saat telah berada di dekat Irwan Saga segera menutup hidungnya karena ia mencium bau menyengat yang berasal dari luka di kaki Irwan.


"Bau apa ini? Mengapa baunya sangat amis?" Gumam Saga seolah bertanya kepada dirinya sendiri.


Saga pun meraih sebuah masker dari sakunya kemudian memakainya setelah disemprot terlebih dahulu menggunakan parfum.


"Rupanya bau ini berasal dari kakimu, apa tidak pernah diobati?" ucap Saga melirik ke arah kedua kaki Irwan yang telah dibalut perban banyak lalat berkerumun di sana.

__ADS_1


"Kenapa kau bermasalah dengan baunya, kalau begitu Biarkan aku bebas agar bau ini tidak mengganggumu! " jawab Irwan dengan Ketus.


"Sudah, ini makananmu! Cepatlah makan!" Perintah Saga Seraya meletakkan kotak makanan itu tepat di depan Irwan.


Irwan segera memalingkan wajahnya ketika ia membuka kotak itu, kemudian Ia berkata," makanan apa ini? Makanan ini sudah tidak layak dimakan! "


"Hahaha…itu makanan yang cocok untukmu! " ujar Saga dengan tegas.


Namun Irwan melemparkan makanan itu ke arah Saga, beruntung makanan itu tidak mengenai wajah Saga. Dan hal itu membuat Saga marah lalu ia kembali meraih kotak makanan itu yang telah berserakan di lantai dan meletakkannya kembali di depan Irwan.


Dengan kasar Saga memaksa Irwan agar mau memakan makanan itu, walaupun berkali-kali Irwan memberontak akan tetapi tekanan tangan Saga yang menekan kepala Irwan lebih kuat daripada tenaga Irwan hingga membuat mulut Irwan menyentuh makanan itu.


GUHAK.


GUHAK.


GUHAK.


Irwan memuntahkan makanan itu yang telah masuk ke dalam mulutnya, bau makanan itu membuat perut Irwan seperti diaduk-aduk.


"Ayo, cepat makan!" Teriak Saga sambil terus menekan kepala Irwan. Membuat Irwan kembali muntah-muntah.


Saga tertawa terbahak-bahak, ia merasa puas telah menyaksikan penderitaan orang yang telah mengkhianati dirinya dan juga keluarganya.


"Ampun, jangan lakukan lagi, Aku menyerah." ucap Irwan seraya mengaduh kesakitan. Wajahnya meringis menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


Saga semakin keras menekan kepala Irwan, bahkan Saga tidak segan-segan menendang kedua kaki Irwan hingga membuatnya semakin mengaduh kesakitan. Saga tidak hanya menendang kedua kaki Irwan, ia juga menendang perut Irwan. Membuat pria itu tidak berdaya lagi, bahkan untuk memberontak pun ia tidak mampu lagi.


__ADS_2