
Ricard yang telah mengetahui letak apartemen yang akan ditempati oleh Alexa, segera melajukan mobilnya menuju apartemen.
Sedangkan pelayan yang bertugas membawa semua koper milik Alexa, menaiki mobil yang lain. Dikarenakan koper-koper itu dalam ukuran yang besar.
Akan bertambah sesak jika berada dalam satu mobil dengan Alexa dan Ricard.
"Nona Alexa, aku telah mengetahui semua informasi tentang dirimu, jadi kau tidak perlu sungkan untuk bertanya apapun padaku!" ucap Ricard memulai percakapan.
"Apa? Kau mengetahui semua tentang ku?" Alexa terkejut. Ia khawatir Ricard juga mengetahui tentang pernikahannya dengan Saga yang kemudian bercerai.
"Iya, Eyang bibi yang mengatakannya tempo hari, kalau kau akan melakukan study di sini sambil belajar berbisnis." sabut Ricard memperjelas ucapannya.
Alexa menghela napas lega, beruntung Eyang Netty tdak mengatakan kalau ia telah menikah kemudian diceraikan. Kalau sampai itu semua terjadi, ia bisa malu.
"Iya, itu benar!" jawab Alexa santai.
"Baiklah, sekarang kita telah sampai Nona!" seru Ricard seraya memasuki area apartemen.
"Tunggu dulu, Nona!"
Ricard menahan tangan Alexa yang hendak membuka pintu.
"Kenapa?" tanya Alexa merasa heran.
"Sebentar!" kemudian, Ricard turun dari mobil berjalan ke arah samping mobil dan membuka pintu untuk Alexa.
"Silahkan Nona!" Ricard merentangkan sebelah tangannya serta membungkukkan sedikit badannya dengan sopan.
'Pria ini so sweet sekali,' pikir Alexa sambil turun dari mobil.
"Panggil Alexa saja!" serunya kemudian.
"Baik, Alexa."
Kemudian keduanya sama-sama tersenyum. Lalu melangkahkan kaki memasuki area apartemen.
Ricard menempelkan kartu akses di pintu apartemen, lalu pintu pun terbuka.
Alexa memasuki ruangan apartemen yang akan di tempatinya, ia memeriksa seluruh fasilitas di apartemen tersebut, semua tersedia dengan sempurna.
"Siapakah yang menyiapkan semua ini Ric?" tanya Alexa kepada Ricard yang sedang mengikuti dirinya dari belakang. Tidak henti-hentinya pria itu memandangi sekujur tubuh mungil Alexa.
Panggilan nama Ric, sangat seksi terdengar di telinga Ricard.
__ADS_1
"Tentu saja, Mami ku! Nenek yang menyuruhnya!" jawab Ricard dengan santai.
"Ternyata keluarga mu orang-orang baik ya,"
"Ya, walaupun lama tidak bertemu, nenekku sangat menghormati persahabatannya dengan Eyang Bibi."
Eyang Bibi adalah panggilan Ricard untuk Eyang Netty. Karena sewaktu kecil Ricard sering dititipkan kepada Eyang Netty, sebelum mereka tinggal dan menetap di Dubai.
"Aku juga berterima kasih kepadamu, karena telah bersedia menemani diriku, jika saja tidak, maka aku pasti akan merasa kebingungan." ucap Alexa menatap kedua mata kebiruan milik Ricard.
Mereka saling menatap satu sama lain, seakan ingin memasuki jiwa masing-masing.
'Andai saja pria ini Saga,' batin Alexa.
'Oh, tidak! Aku tidak boleh memikirkan pria itu lagi! Tidak, tidak boleh!' ronta jiwa Alexa, yang terus saja memikirkan Saga, walau sebenarnya ia telah bertekad untuk melupakannya.
"Ada apa?" tanya Ricard yang merasakan perubahan pada wajah Alexa.
Rupanya Ricard jauh lebih peka dari pada Saga.
"Tidak! Tidak apa-apa!" bohong Alexa berusaha menyembunyikan suasana hatinya.
"Aku akan meninggalkan dua pengawal disini untuk menjaga keamanan dirimu." ucap Ricard dengan serius.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, jika butuh bantuan, hubungi saja diriku!" ucap Ricard yang kemudian pergi meninggalkan apartemen.
Se perginya Ricard dan dua orang pengawal serta seorang pelayan. Alexa menutup kembali pintu apartemen nya. Kemudian duduk di sebuah sofa panjang yang terletak di dalam apartemen itu.
"Kehidupan kedua mu telah dimulai, Alexa! Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini!" gumam Alexa menyemangati dirinya sendiri.
"Ibu, kumohon restu mu untuk putrimu ini, mudahkanlah semua urusanku, buatlah aku tetap tegar diatas kaki ku sendiri!" ucap Alexa seraya mendekap foto ibunya.
Mungkin karena kelelahan, pada detik berikutnya Alexa telah tertidur pulas dengan tetap mendekap foto sang ibu tercinta.
Di Mansion keluarga Ricardo.
Seluruh orang sedang menunggu kedatangan Ricard dari menjemput Alexa. Mereka semua menantikan dengan tidak sabar.
Dan, benar saja, ketika melihat Ricard sedang memasuki ruangan Mansion, ia telah disambut dengan berbagai macam pertanyaan.
"Bagaimana Ricard? Sudah bertemu dengannya?tanya Nenek Ricard.
"Apakah wajahnya cantik, seperti di foto?" Ibunya pun ikut bertanya.
__ADS_1
"Apakah dia masuk dalam kriteria mu?" Ayahnya juga tidak ingin ketinggalan.
Semua pertanyaan yang bertubi-tubi membuat Ricard pusing dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Bagaimana caraku menjawabnya Nenek, Papi, Mami!"
"Ya, jawab saja satu-satu!" celetuk Nenek seraya tertawa cengengesan melihat ekspresi wajah cucunya.
"Baiklah! Aku jawab!" seru Ricard seraya duduk di sofa dengan malas. Namun, tetap dipandangi oleh Nenek dan kedua orang tuanya dengan penuh minat. Menantikan jawaban dari Ricard.
"Alexa… cantik, manis, baik dan mengagumkan, dia tampil apa adanya. Cara bicaranya pun sopan." Ricard membayangkan kembali sosok Alexa.
Nenek dan Ayah ibunya, tersenyum mendengarkan penuturan Ricard.
"Apakah dia masuk dalam kriteria mu?" Ayahnya Ricard kembali bertanya.
Mendengar pertanyaan yang di ajukan Ayahnya, sontak membuat Ricard berdiri.
"Jika Papi bertanya hanya untuk mendapatkan jawabannya, maka jawabannya adalah, tidak! Tidak ada kriteria wanita dalam kamus hidupku!" kemudian Ricard pergi meninggalkan keluarganya yang melongo mendengar jawaban dari putra mereka.
Namun, sebenarnya Ricard pergi dengan mengulum senyum. Sebuah senyuman yang mengartikan bahwa ia menyukai Alexa.
Memang, selama ini Ricard terkenal dengan sikapnya yang acuh terhadap wanita, telah beberapa wanita yang diperkenalkan kepadanya, akan tetapi, Ricard tetap saja tidak menghiraukannya.
Dan bagi Ricard, Alexa termasuk wanita yang berbeda dengan kebanyakan wanita yang selalu ia temui di kehidupannya sehari-hari.
Namun, Ricard merasa gengsi untuk mengakuinya, karena ia telah terlanjur mengatakan kepada keluarganya bahwa ia tidak akan jatuh cinta lagi setelah Kesetiaannya dikhianati oleh calon istrinya sendiri.
'Ya Tuhan, apakah wanita ini jodoh yang telah engkau kirimkan untukku? Jika memang begitu dekatkan dia pada ku!' batin Ricard.
Saat itu ia sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan menatap langit-langit kamar, Ricard membayangkan wajah cantik Alexa yang sedang tersenyum kepadanya.
Tanpa disadari Ricard pun ikut tersenyum.
Sedangkan Nenek dan kedua orang tuanya, mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.
"Kan, benar dugaanku, Ricard memang menyukai Alexa." ucap Nenek Rima.
"Ya, sepertinya dugaan Ibu memang benar, hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengakuinya." Ayahnya Ricard menimpali.
"Dia itu sama seperti mu, kalau tidak di tembak duluan, mana mungkin mau mengakui perasaannya." tukas Ibunya Ricard mengingat masa lalunya bersama Ayahnya Ricard.
"Sudah lah, ayo kita pergi! Nanti dia dengar, kan malu!" Nenek Rima mengajak anak dan menantunya pergi.
__ADS_1
Tanpa berkata sepatah katapun, akhirnya Ayah dan Ibunya Ricard pergi dari tempat itu, mengikuti Nenek Rima dari belakang.