
"Baiklah, kau boleh ikut bersama Mama dan Papamu, tapi ingat! Disini Oma selalu merindukan dirimu," Bu Lalika merentangkan kedua tangannya hendak meraih tubuh mungil Sakti.
"Oma… Sakti sayang Oma…," Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut bocah kecil itu, yang saat ini sedang berada di dalam gendongan Bu Lalika.
"Oma juga sayang sama Sakti, sering-sering ya, jenguk Oma disini," bisik Bu Lalika yang masih terdengar dengan jelas di telinga Alexa.
"Mama tenang saja, setiap hari sabtu sore kami akan datang berkunjung kemari, menginap dan menghabiskan waktu bersama kalian semua disini, Aku janji," ucap Alexa.
"Oma dengarkan, jadi sekarang Oma tidak usah nangis." Sakti mengusap air mata yang jatuh di pipi Bu Lalika.
"Ayo, Oma senyum dong!"
Bu Lalika tersenyum kemudian mengembalikan Sakti kedalam gendongan Alexa, dengan diiringi senyuman dari Kakek, Bu Lalika dan Rian. Saga pergi dengan membawa Alexa dan Sakti.
Hari itu juga mereka pergi ke KUA untuk mensahkan pernikahan mereka secara hukum.
Pak Hendra yang telah sejak tadi pulang dari pesantren, segera mendaftarkan nama Saga dan Alexa.
Pak Hendra pun menunggu mereka di KUA tersebut, setelah mendapatkan info dari kantornya bahwa hari itu, Raffi yang bertugas menghandle semuanya.
Ya, setelah perusahaan Saga bangkrut, Raffi tidak bekerja dan hanya luntang-lantung di jalan. Beruntung ia bertemu dengan Saga kembali, sehingga ia pun bisa kembali bekerja kepada Saga di perusahaan milik Pak Hendra.
"Lama sekali kalian?" tanya Pak Hendra ketika Saga dan Alexa telah turun dari mobil.
"Iya, Pa, ini tadi ada adegan cipika-cipiki dulu dengan Oma nya," jawab Saga seraya melirik ke arah Sakti yang menggelayut di tangan Alexa.
"Sakti ikut juga?" Pak Hendra tersenyum sambil menepuk pipi chubby milik Sakti.
"Iya, dong Opa, Sakti kan mau jaga Mama, kalau Papa lagi kerja," jawab Sakti dengan tingkahnya yang lucu.
"Ih, pinternya,"
"Ayo, masuk!" Pak Hendra melangkah terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Saga dan Alexa yang mengekor di belakang.
Didalam ruang KUA telah duduk tiga orang pria, yang satu adalah Pak Penghulu dan yang kedua orang adalah saudara dari Pak Hendra, lebih tepatnya saudara sepupu yang sengaja dipanggil oleh Pak Hendra untuk menjadi saksi nikahnya Saga dan Alexa.
__ADS_1
"Baiklah, karena kedua mempelai telah hadir, maka acara ijab kabul akan segera dimulai." ucap Pak Penghulu setelah Saga dan Alexa duduk di hadapannya.
Pak Penghulu itu terlihat mengulum senyum, sebab sepasang pengantin yang kini berada di depannya tidak lagi asing baginya. Dikarenakan Pak Penghulu itu telah dua kali menikahkan mereka dan ini yang ketiga kalinya.
"Sudahlah, Pak Penghulu. Anda tidak perlu menyembunyikan senyum seperti itu, tertawalah karena ini memang pernikahan kami yang ketiga kalinya." ucap Saga yang merasa dirinya sedang di tertawakan oleh Pak Penghulu itu.
"Maaf, tapi Saya tidak bisa mendustai perasaan Saya," sahut Pak Penghulu.
"Apakah anda sering kali menangis ketika mengurus perceraian seseorang?" kali ini Pak Hendra yang merasa tidak suka putri dan menantunya di tertawakan.
Seketika Pak Penghulu terdiam, ia merasa kalau Pak Hendra tidak menyukai sikapnya.
"Maaf, Pak Hendra Maaf." Pak Penghulu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ya, baiklah. Sekarang cepatlah nikahkan mereka berdua."
"Tentu saja,"
Kembali Saga mengucapkan ikrar ijab kabul, kali ini Saga mengucapkannya dengan sepenuh hati, ia juga berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa pernikahannya kali ini adalah yang terakhir kalinya.
"Selamat, untuk kalian berdua," ucap Pak Hendra yang lalu diikuti oleh kedua saudaranya.
"Ya, terimakasih banyak!" sahut Saga dan Alexa.
Setelah itu, mereka pun menandatangani buku nikah masing-masing.
"Jaga diri baik-baik, jika ada salah satu diantara kalian yang sedang emosi, maka yang lain harus mengalah, demi kelanggengan pernikahan kalian." ucap Pak Hendra menasehati keduanya.
"Ingat, empat hal yang harus selalu dijaga dalam rumah tangga, Cinta, jujur, menghormati dan setia. Jika kalian bisa menerapkan semuanya, maka pernikahan kalian akan langgeng." lanjut Pak Hendra.
"Pasti Pa, kami akan selalu mengingat nasehat Papa." sahut Saga dengan sungguh-sungguh.
Jujur, Saga tidak ingin kehilangan Alexa kembali. Walaupun hanya satu detik. Begitupun dengan Alexa ia juga merasakan hal yang sama dengan Saga.
Setelah itu, mereka pun berpisah menuju ke rumah masing-masing. Namun, Alexa ingin menemui Eyang Netty terlebih dahulu, karena ia tahu pasti kalau wanita itu pasti sedang merasa gelisah saat ini karena memikirkan dirinya.
__ADS_1
Sesampainya di mansion Eyang Netty, seperti biasa Alexa selalu disambut dengan ramah oleh para pekerja di sana.
"Alexa!" pekik Eyang Netty yang merasa bahagia karena cucunya tercinta telah pulang.
Sebuah senyum terpampang di wajahnya yang telah mengkerut dimakan usia. Namun, tiba-tiba saja senyum itu pudar ketika ia melihat Saga dan Sakti turun dari mobil yang dinaiki oleh cucunya itu.
"Alexa! Apa-apaan ini?!" sentak Eyang Netty.
"Apa maksud mu dengan membawa mereka ke mansion ini?!" lanjut Eyang Netty masih dengan nada suara kasar.
"Eyang, Alex bisa menjelaskan semuanya," ucap Alexa berusaha menenangkan Eyang Netty yang telah terbawa emosi ketika melihat Saga.
Memang, selama ini Eyang Netty masih menyimpan kemarahan terhadap Saga karena ia telah berani menghina serta mengusir Alexa didepan matanya sendiri.
"Pergilah kau anak muda, mansion ku ini tidak akan pernah bisa menerima kehadiran dirimu!" teriak Eyang Netty yang membuat Saga yang sebelumnya berniat hendak menyalami Eyang Netty.Saga terpaksa berbalik arah dengan membawa Sakti bersamanya.
"Maaf Eyang, Kami kesini hanya untuk meminta restu dari Eyang atas pernikahan kami, jika Eyang tidak bisa menerima Saga sebagai suamiku, maka maafkan Aku Eyang, aku harus pergi bersama dengan suamiku," ucap Alexa yang lalu pergi mengejar Saga dan Sakti.
Namun, beberapa langkah saja mereka meninggalkan mansion, Eyang Netty memanggil mereka dengan melambaikan kedua tangannya.
"Alexa! Kembalilah, Alexa cucuku! Eyang merestui pernikahan kalian." teriak Eyang Netty.
TAP
TAP
TAP
Alexa dan Saga sama-sama menghentikan langakahnya, mereka membalikkan badan. Dan benar saja, mereka melihat Eyang Netty sedang berlari mengejar ke arah mereka.
Sontak Alexa dan Saga yang sedang menggendong Sakti, segera kembali berlari menghampiri Eyang Netty.
"Jangan pergi Alexa, jangan tinggalkan Eyang." pinta Eyang Netty dengan air mata yang telah jatuh berderai.
Eyang Netty teringat akan almarhumah putrinya, Bu Rianti yang pergi dari mansion itu bersama dengan Pak Hendra.
__ADS_1
Dikarenakan hubungan mereka tidak direstui sehingga membuat mereka memutuskan untuk kawin lari. Dan itu adalah awal malapetaka didalam hidup putrinya. Dan Eyang Netty tidak ingin itu semua terjadi kepada Alexa.