
Setelah selesai pengucapan ikrar ijab kabul oleh Saga, Kakek Syarifudin memimpin doa untuk kelanggengan pernikahan cucunya. Semua orang mengaminkan.
"Tidak ku sangka, aku menikah tiga kali dengan orang yang sama." gumam Alexa seraya mencium punggung tangan Saga yang kini telah sah kembali sebagai suaminya.
"Aku bersumpah atas nama kedua orang tuaku, Aku tidak akan pernah menyakiti hatimu lagi, Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membuatmu bahagia." ucap Saga dengan penuh kesungguhan.
Dan Pak Hendra sebagai wali Alexa, merasa sangat bahagia, menyaksikan rumah tangga putrinya kembali utuh.
"Semoga rumah tangga kalian langgeng selamanya, semoga Tuhan selalu menjaga keharmonisan hubungan kalian," ucap Pak Hendra ketika Saga datang kepadanya dan memeluk dirinya sebagai tanda penghormatan.
"Saga!" panggil Pak Hendra lagi.
"Ya, Ayah," kali ini tanpa diperintah Saga telah memanggil Pak Hendra dengan sebutan Ayah.
"Ayah titip putri kesayangan Ayah, tolong jaga dia sebaik-baiknya, kemanapun dia pergi kau harus selalu ada bersamanya." pinta Pak Hendra dengan sangat serius.
"Pasti, Yah. Aku janji!" sahut Saga tegas.
"Alexa, selamat ya…semoga kalian selalu bahagia seumur hidup kalian," ucap Septi yang tidak kalah bahagianya dengan pasangan suami istri yang baru saja menikah itu.
"Terimakasih Mbak, kau juga jangan lama-lama, cepatlah menikah dan menjalani kehidupan yang baru," sahut Alexa menggoda Septi.
"Tentu saja, tidak akan lama lagi, kalian pasti akan menerima surat undangan dari kami." bukan Septi yang menjawab melainkan Ricard yang memang sudah tidak sabar untuk menikah.
__ADS_1
"Mama… . Mama… !" panggil Sakti dari arah belakang, rupanya bocah itu baru bangun. Kemudian ia berlari menghampiri Alexa.
"Mama… jangan tinggalkan Sakti, Sakti mau tidur sama Mama lagi." rengek Sakti, air mata mulai mengambang di sudut matanya.
"Sakti, sejak kapan kau memanggilnya Mama?" tanya Saga merasa heran, bagaimana mungkin bocah itu yang semula memanggil Alexa dengan sebutan Aunty, kini berubah memanggilnya Mama.
"Sejak semalam dia memanggilku Mama, memangnya kenapa? Bukankah dia juga putraku? Karena Ibunya adalah Adikku." jawab Alexa mewakili Sakti yang telah memeluk kedua kakinya dengan kepala mendongak ke atas menatap wajah Alexa.
"Ibuku Mama Alexa, bukan yang lain." sahut Sakti dengan cepat.
Mendengar ucapan bocah kecil itu, membuat Alexa berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Sakti.
"Sayang, mengapa bilang begitu?" tanya Alexa seraya mengelus kepala Sakti dengan penuh kasih sayang.
"Karena Mama Alexa yang selalu menjenguk Sakti disini, sedangkan Mama Sakti, tidak pernah datang," jawab Sakti dengan polosnya.
"Nak Sakti, sayang. Maafkan Kakek mu ini, karena sampai sekarang Kakek belum mampu menyadarkan Ibumu," ucap Pak Hendra dengan raut wajah kesedihan.
"Sudahlah, Pak Hendra, Anda tidak perlu merasa bersalah, mungkin suatu saat nanti Nak Tiara akan sadar dan akan menemui putranya kembali." ucap Bu Lalika menenangkan Pak Hendra.
"Ya, Pak Hendra, Aku juga akan bersedia menerima Tiara kembali jika memang dia ingin kembali bersama kami, jujur Pak Hendra, Aku masih sangat mencintai Tiara." timpal Rian yang sedari tadi hanya diam saja menyaksikan acara itu.
Didalam hatinya Rian juga sangat berharap kalau suatu saat nanti ia akan bersatu dengan Tiara, sama seperti Saga yang bersatu kembali dengan Alexa.
__ADS_1
"Terimakasih semua keluarga disini yang masih bersedia dan memaafkan putriku Tiara, dan untuk Nak Rian, kalau mau, Kau boleh ikut andil bekerja di perusahaan ku, bersama Nak Saga." ucap Pak Hendra.
"Wah, terima kasih sekali, Pak, tapi Aku rasa itu tidak perlu karena Kak Saga lebih berpengalaman dari pada diriku," Rian berusaha menolak.
"Tidak, Rian. Kita bisa meng-handle nya bersama-sama, mungkin dengan kau ikut bekerja disana, kau dan Tiara jadi lebih sering bertemu. Mungkin dengan begitu hati Tiara akan kembali tersentuh." ucap Saga.
Namun, Rian tetap menolaknya karena ia merasa tinggal di pesantren lebih nyaman dan tentram. Kali ini Rian berjanji kepada dirinya sendiri, ia akan terus berusaha untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik.
"Maaf, bukannya aku menolak. Tetapi Aku rasa lebih baik tinggal disini sekalian membantu Kakek mengurus pesantren, tentunya sebelum melakukan itu Aku akan belajar kepada beliau terlebih dahulu." ucap Rian yang langsung disetujui oleh Kakek Syarifudin.
"Ya, itu benar sekali. Jika Saga tidak bisa membantuku, maka Rian bisa menggantikan posisinya disini." ujar Kakek Syarifudin dengan senang hati, akhirnya ada juga yang akan meneruskan tanggung jawab nya di pesantren itu. Ya, tentu saja dengan di gembleng terlebih dahulu tentang pengetahuan ilmu agamanya.
"Maaf Kek, bukannya Saga tidak ingin membantu Kakek, tapi seperti yang pernah Kukatakan dulu, pesantren bukanlah duniaku, menjadi seseorang yang mengurus pesantren tidak ada dalam daftar hidupku Kek," ucap Saga yang merasa tidak enak hati kepada Kakeknya.
"Ya, tidak masalah, dimanapun nanti kau berada selalu ingat pesan ku ini, jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu dan membaca Al-Qur'an, lalu akhlakmu jagalah selalu jangan sampai kau menganggap dirimu lebih mulia daripada orang lain." nasehat Kakek Syarifudin untuk Saga.
Memang selama berada di pesantren Saga sering membuat kesalahan dengan mengubah peraturan di sana, sehingga seringkali membuat para santri dan santri wati kebingungan. Sekali ia membantu, maka para santri telah mengeluh karena apa yang diperintahkan Saga tidak sejalan dengan Kakeknya. Saga lebih menuruti keinginannya sendiri daripada mengikuti saran Kakeknya.
Berbeda dengan Rian, sebelum melakukan apapun, Rian terlebih dahulu bertanya dan meminta saran bagaimana seharusnya kepada Kakek Syarifudin, sehingga membuat Kakek Syarifudin menyukai dirinya.
Ibu Lalika yang sebelumnya meminta para santri putri yang sedang piket memasak. Memasakkan menu makanan untuk merayakan hari pernikahan Saga dan Alexa, kini telah siap di atas meja makan.
"Baiklah, untuk merayakan hari ini mari kita makan bersama, semua telah tersedia," ucap Bu Lalika yang baru saja datang dari dapur untuk memeriksa, apakah menu makanan sudah siap atau tidak.
__ADS_1
"Mengapa Anda repot-repot, Bu Lalika," ucap Pak Hendra.
"Tidak repot kok Pak Hendra, ini memang sudah menjadi kewajiban kami sebagai tuan rumah, menyajikan makanan untuk kita bersama. Lagi pula ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang kita semua rasakan hari ini." sahut Bu Lalika dengan senyum ramahnya yang khas.