
Suara tahlil menggema di sepanjang perjalanan, mengiringi kedua jenazah itu. Hingga pada akhirnya mereka sampai di TPU Sungai bambu.
Disana tampak terlihat enam orang sedang menggali kuburan yang seakan tidak pernah selesai. Keringat terus bercucuran membasahi tubuh mereka.
"Maaf Pak Kyai, tanahnya sangat keras, kami kewalahan Pak Kyai," ucap salah seorang dari orang itu.
Dan kelima orang temannya pun ikut menimpali seraya memperlihatkan kedua tangan mereka yang sudah melepuh akibat gesekan gagang cangkul yang mereka gunakan untuk menggali tanah lubang kubur itu.
"Astagfirullahaladzim," gumam Kakek Syarifuddin dengan hati yang teramat sedih menyaksikan lubang liang lahat yang hanya beberapa sentimeter saja dalamnya.
"Bagaimana Pak Kyai? Kami sudah tidak mampu untuk melanjutkannya lagi," ucap orang itu mulai menyerah.
Dua peti mati itu di letakkan di samping liang lahat yang belum selesai.
"Mana airnya?" pinta Kakek kepada seorang santri yang bertugas membawa air dan bunga untuk ditaburkan di atas kuburan nantinya.
Bunga itu mereka dapat dari halaman pesantren yang memang ditumbuhi berbagai macam bunga dengan beraneka warna.
"Ini Pak kyai," sahut santri itu dengan sopan seraya membungkukkan sedikit badannya. Menyerahkan botol berisi air itu.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim…," mulut Kakek Syarifudin terlihat komat-kamit membaca do'a kemudian meniupkan tiga kali ke arah air itu.
"Siramkan air ini pada tanah itu," ucap Kakek kepada penggali kuburan.
Sesuai perintah Kakek Syarifudin, orang itu menyiramkan air yang dipegangnya ke tanah yang akan mereka gali.
"Sekarang, mulailah menggali!" seru Kakek Syarifudin dengan suara yang penuh wibawa.
Mendengar perintah dari Kakek Syarifudin para penggali kubur itu mulai mengayunkan cangkulnya. Dan, atas izin Allah tiba-tiba saja tanah itu menjadi gembur dan sangat mudah sekali menggalinya.
"Alhamdulillah," gumam Kakek Syarifudin bersyukur kepada yang maha kuasa karena telah mengabulkan do'a nya.
Saga pun merasa takjub dengan apa yang dilihatnya, selama ini yang ia tahu Kakeknya adalah orang yang baik dan taat beribadah. Namun, malam ini ia menyaksikan keajaiban itu sendiri.
Tak berapa lama, dua liang lahat itu pun selesai dan siap menampung tubuh tak bernyawa yang telah sedari tadi terbujur di dalam peti mati di samping lubang itu.
Ke enam penggali kubur itu pun naik ke atas dengan bantuan para santri.
"Sekarang, masuklah!" perintah Kakek Syarifudin kepada Saga dan Rian yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Kenapa harus kami Kek?" tanya Saga dengan setengah terkejut.
"Karena kalian berdua adalah keluarga dari kedua orang ini," ucap Kakek Syarifudin, "bukankah dia suami kakakmu? Dan mereka belum pernah bercerai,"
Saga terdiam sejenak, ia mulai berpikir apa yang dikatakan oleh Kakeknya memang benar.
Saga menghela nafas panjang kemudian berkata, "Baiklah, aku bersedia Kek."
Kemudian Saga turun ke dalam liang lahat diikuti oleh Sakti, serta Ricard pun ikut turun juga.
Mereka bertiga telah siap menerima jenazah yang akan dimasukkan ke dalam liang lahat itu, sedangkan yang lainnya bersiap menjulurkan jenazah dari atas.
"Buka petinya, bukankah mereka orang-orang muslim? Kita akan menguburkan mereka sesuai dengan syariat islam," Kakek Syarifudin memberi perintah ketika ia melihat santrinya hendak mengangkat jenazah itu dengan petinya.
Mereka semua mematuhi perintah Kakek dengan membuka peti mati itu, lalu mereka mengangkat jenazah Irwan. Kemudian mengulurkannya kepada Saga yang dibantu oleh Rian dan Ricard.
Saga mengadzani jenazah Irwan, sebelum menutup liang lahat itu.
Tidak sampai satu jam, proses pemakaman Irwan dan Sammy pun selesai. Kakek Syarifudin mendoakan kedua kuburan itu setelah menaburi dengan bunga.
__ADS_1
Akhirnya mereka pulang kembali ke pesantren.