Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 106


__ADS_3

"Eyang merestui pernikahan kami?" tanya Alexa meyakinkan dirinya sendiri.


"Iya sayang, Jangan tinggalkan Eyang."


Sontak membuat Alexa menghambur ke dalam pelukan Eyang Netty, terasa hangat dan damai di dalam pelukan itu.


"Nak Saga, kemarilah!" Eyang Netty melambaikan tangannya ke arah Saga yang sedang berdiri di belakang Alexa.


"Eyang," ucap Saga.


"Aku merestui pernikahan kalian, semoga kalian akan tetap berjodoh hingga selamanya," Eyang Netty mendoakan keduanya.


"Terimakasih, Eyang," ucap Alexa dan Saga, lalu kedua tangan Eyang Netty direntangkan, memberikan isyarat kepada kedua cucunya untuk masuk kedalam pelukannya.


Ketiganya pun berpelukan, saling menyalurkan kasih sayang antara satu sama lain.


"Mama, Papa, ini Eyang siapa lagi?" tanya Sakti dengan tingkah yang sangat menggemaskan.


Sontak membuat mereka melepaskan pelukannya.


"Sakti perkenalkan, ini Eyang Netty, neneknya Mama, jadi Sakti manggilnya Eyang saja ya," jawab Alexa.


"Iya, Ma," sahut Saga menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Kemudian Sakti meraih tangan Eyang Netty, lalu mencium punggung tangannya dengan penuh hormat. Melihat apa yang dilakukan oleh Sakti, membuat Eyang Netty mengagumi bocah itu.


"Perkenalkan Eyang, Namaku Sakti Hawiranata Kusuma, anak dari Papa dan Mama, tapi bukan Mama Alexa," ucap Sakti dengan penuh semangat, tetapi, ia raut wajahnya berubah sendu ketika pengucapan di akhir kalimat.


"Mulai sekarang, Sakti anaknya Mama Alexa, jangan pernah lagi mengingat orang yang telah menyia-nyiakan mu sayang, buang jauh-jauh tentang dia," ucap Eyang Netty yang langsung di angguki oleh Sakti.


Karena ucapannya Eyang Netty langsung mendapat teguran dari Alexa.


"Eyang, jangan berkata begitu. Walau bagaimanapun Tiara adalah adikku, cucu Eyang. Mengapa Eyang tega mengatakan hal itu?"


"Ya… ya… dia memang cucuku, darah daging ku. Lalu apa salahnya bocah kecil ini, sehingga dia tega menelantarkannya." Eyang Netty masih saja menjelek-jelekkan Tiara.


Apa yang dikatakan oleh Eyang Netty telah terekam dengan jelas di memory ingatan Sakti, sehingga membuat dirinya seakan-akan selalu mendengar suara Eyang Netty yang mengatakan kalau ia tidak boleh lagi mengingat tentang Ibu kandungnya.


"Tapi Oma–," ucap Alexa.


"Tidak menerima penolakan, Eyang tidak suka dibantah!" kata Eyang memotong ucapan Alexa.


"Baiklah, Nyonya besar maafkan hambamu ini," ucap Alexa sedikit berseloroh, membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal.


Akhirnya mereka pun memasuki Mansion itu, kemudian beristirahat di kamar yang telah disediakan.


*********************************************

__ADS_1


"Papa dari mana saja? Mama pulang kok Papa tidak ada dirumah?" tanya Bu Lusi dengan meninggikan suaranya ketika melihat Pak Hendra memasuki ruang tamu.


"Ma! Papa baru pulang, buatkan teh atau apalah yang bisa dimakan," ucap Pak Hendra tanpa menjawab pertanyaan istrinya. Kini ia tidak peduli dengan apapun, karena yang terpenting baginya adalah Alexa bahagia.


Melihat suaminya tidak merespon pertanyaannya, membuat Bu Lusi semakin kesal, dengan wajah mengkerut ia terpaksa pergi ke dapur, membuatkan teh hangat untuk Suaminya.


Bi Sarinah yang melihat Ibu majikannya hanya tersenyum ketika Bu Lusi membuat teh sendiri. Ya, begitulah Bu Lusi, segarang-garangnya dia pasti tidak akan mampu menolak keinginan suaminya, semenjak Pak Hendra mengancam akan menceraikan dirinya jika masih belum juga berubah.


"Mama! Untuk apa Mama buat teh sendiri?" Tiara yang kebetulan pergi ke dapur karena merasa haus, merasa heran ketika melihat Ibunya yang dari dulu sangat anti dengan urusan dapur.


"Papamu, dia minta Mama untuk membuat teh," jawab Bu Lusi. Dengan rasa kesal Bu Lusi kembali ke ruang tamu dengan membawa secangkir teh di tangannya.


Tiara hanya menggelengkan kepala melihat perubahan pada Ibunya.


"Mama kenapa? Kok aneh? Sejak kapan Mama suka di dapur?" gumam Tiara kepada dirinya sendiri, namun, masih bisa didengar oleh Bi Sarinah.


"Alhamdulillah Non, Ibu telah berubah menjadi baik sekarang," sahut Bi Sarinah.


Tiara tidak menyahut, ia hanya menatap Bi Sarinah dengan pandangan tidak suka.


"Makasih, Ma," ucap Pak Hendra ketika istrinya meletakkan secangkir teh.


Kemudian Pak Hendra menyeruput teh buatan istrinya dengan penuh kenikmatan.

__ADS_1


__ADS_2