
Demi menyenangkan dan membuat Lusi gembira, Hendra pun akhirnya harus membagi waktu. Sepulang sekolah sampai jam 03.00 dia bersama dengan Rianti merajut dari cinta yang ada. Kemudian setelah mengantar Rianti pulang Hendra harus menemani Lusi ke manapun ia pergi.
Namun sejauh itu, Lusi tetap tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya sebagai alasan Kenapa dirinya uring-uringan dan bahkan mogok bicara dan mogok makan. Kadang Hendra harus menginap di rumah keluarga Pak Wijaya dan memang semenjak Hendra sering dekat di sisinya, Lusi tidak lagi menunjukkan sikap Uring-uringannya. Bahkan Gadis itu senantiasa tampak ceria, ngobrol dan bercanda dengan Hendra.
Keintiman Hendra dan Lusi membuat Rianti pun jadi merasa heran sendiri. Apalagi setelah dia tahu, kalau semenjak Hendra dekat dengannya, Lusi mulai sering uring-uringan. Dan Lusi baru tidak uring-uringan, bila Hendra sudah ada di sisinya
Dari rasa heran itulah, muncul perasaan cemburu di hati Rianti. Sehingga ketika suatu siang dia kembali bersama Hendra sambil melangkah beriringan menyusuri trotoar jalanan, walaupun akhirnya mengungkapkan apa yang ada dalam perasaannya.
"Hendra." suara Rianti menyibak kesunyian.
" Ya,"
"Lusi masih uring-uringan?"
"Tidak," jawab Hendra singkat.
"Hm," Rianti menggumam dengan wajah menunjukkan keheranannya. Hal itu membuat Hendra jadi mengerutkan kening, tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran kekasihnya.
"Ada apa, Rianti?"
"Apa kau tidak merasa aneh?"
"Maksudmu?" tanya Hendra tidak mengerti.
"Aku pikir, dia uring-uringan begitu karena cemburu." jawab Rianti mengungkapkan apa yang mengganggu di dalam benaknya.
"Cemburu?"
"Ya."
"Cemburu Bagaimana maksudmu?" Hendra masih belum mengerti.
"Sungguh kau tidak mengerti?"
"Ya. Aku benar-benar tidak mengerti." jawab Hendra Sejujurnya.
"Lusi mencintaimu." ucap Rianti tiba-tiba dan mengejutkan Hendra.
"Ya, kalau itu aku tahu. Dia memang mencintaiku sebagaimana seorang adik mencintai kakaknya," sahut Hendra, karena memang perasaan itu yang ia rasakan kepada Lusi.
"Bukan, bukan itu."
"Lalu?"
"Dia mencintaimu sebagaimana seorang cewek pada seorang cowok," jelas Rianti.
"Ah! Jangan berprasangka yang tidak tidak, Rianti."
"Aku tidak berprasangka yang tidak-tidak tapi coba kau pikir. Sebelum kita bersama, Apakah dia pernah bersikap seperti sekarang ini?"
Hendra termenung, berusaha mengingat-ingat. Namun, tidak lama kemudian dia menggelengkan kepala dan berkata istiqomah."Tidak, Sebelumnya dia tidak pernah sekolokan sekarang."
"Nah itu berarti dia mulai uring-uringan sejak kita resmi menjadi hubungan dan kita mulai bertemu. Sebelumnya dia tidak begitu,"
__ADS_1
"Disekolah, dan di rumah terhadapmu bagaimana?" Hendra balik bertanya.
"Memang sih biasa-biasa saja. Tetapi dia tidak pernah lagi mau berjalan bersamaku setiap pulang.
Hendra manggut-manggut hatinya jadi tidak enak sendiri jika benar Lusi diam-diam mencintai anak juga apa yang harus kulakukan?"
Di satu sisi dia dan keluarganya telah banyak berhutang Budi dan jasa pada keluarga Lusi. Dan dia sudah berjanji dalam hati i kalau dia akan berusaha membalas kebaikan keluarganya. Di sisi yang satunya lagi dia sudah terlanjur mencintai Rianti. Sedangkan rasa cintanya pada Lusi cuma sebatas Cinta Seorang Kakak pada adiknya.
"Bagaimana jika dia benar-benar dia mencintaimu? tanya Rianti.
"Kenapa memangnya? Aku menganggapnya tidak lebih dari seorang adik." ucap Hendra.
"Tapi tidak baginya." Rianti masih tetap pada pendiriannya.
"Bagaimana juga, Cintaku hanya untukmu Rianti. Cinta tidak bisa dipaksakan."
"Bagaimana kalau kedua orang tuaku yang memintanya kepadamu agar kau mau menerima Lusi?"
"Aku yakin, orang tuamu tidak akan berbuat seperti itu. Mereka sangat menghargai perasaan orang."
"Ya, itu karena belum menyangkut masalah Lusi. Tetapi kalau sudah menyangkut tentang adikku sifat dan sikap seseorang pasti akan berubah. Aku jadi takut sekali, Hendra."
"Apa yang kau takutkan?"
"Aku takut kau akan meninggalkan aku."
"Itu tidak akan pernah terjadi, Rianti. Percayalah. Aku sangat mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Rianti." Panggil Hendra.
" ya."
"Jam berapa sekarang?"
"Kenapa memangnya? Apa kau harus segera ke rumahku agar dia tidak ngambek dan- uring-uringan yang diikuti dengan mogok bicara dan mogok makan? " tanya Rianti dengan nada agak kecewa.
Kedua matanya dekat menatap ke wajah tampan Hendra.
"Kenapa kau begitu mencemaskan dia ketimbang diriku? Siapa sih yang sebenarnya kau cintai, Hendra? Aku atau Lusi?"
"Cinta yang mana yang kau maksud?" Hendra balik bertanya.
"Yaa cinta kasih seorang kekasih,"
"jika itu yang kau maksud, maka aku jawab hanya kau yang aku cintai," tegas Hendra.
"Aku bersumpah, Rianti. Jika ada gadis lain yang aku cintai selain dirimu, maka biarlah bumi yang menjadi pijakanku dan langit yang menjadi pengayom ku akan menghukumku. Dan jika kau tidak percaya akan kebesaran cintaku padamu, maka Lebih baik aku mati saja sekarang."
Usai berkata begitu, Hendra kemudian melangkah menuju ke jalan Hal itu membuat Rianti terkejut.
"Hendra! Apa yang hendak kau lakukan?"
"Menjemput kematian!"
__ADS_1
"Gila! Jangan nekat, Hendra!"
"Akan ku buktikan padamu, juga pada semua orang akan kesungguhan dan ketulusan cintaku padamu!"
"Tidak, Hendra! Jangan kau lakukan itu!" seru Rianti dengan wajah panik, karena Hendra terus saja melangkah menuju ke tengah jalan.
"Lebih baik aku mati, daripada kau ragukan cintaku padamu!"
"Tidak, Hendra! Jangan kau lakukan itu!" seru Rianti sembari berlari mengejar pemuda itu ke tengah jalan. Kemudian begitu sampai di dekat Hendra, Rianti langsung memeluk pemuda itu.
"Kenapa kau mengikutiku?"
"Kalau kau mau mati, maka biar kita mati bersama. Karena aku pun tidak mau hidup lagi jika kau tidak ada!" tegas Rianti sambil terus memeluk tubuh Hendra. Hal itu membuat para pengendara dan pengemudi mobil Jadi kesal melihat tingkah laku kedua remaja itu.
"Hei! Apa kalian sudah sinting? Berpeluk tangis di tengah jalan! Mau mampus apa? "
Hendra dan Rianti tidak menyahut. Keduanya masih saja berpenduduk tangis di tengah jalan yang semakin membuat para pengemudi mobil bertambah jengkel.
"Kalian mau minggir, atau kami tabrak!" ancam salah seorang pengemudi mobil.
Hendra tersenyum. Rianti pun tersenyum. Kemudian keduanya sama-sama tertawa ngakak, yang membuat sama orang yang semula memandang ke arah mereka dengan pandangan tegang Akhirnya cuma menggerutu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Dasar anak muda zaman sekarang ada-ada saja udah nyatu menunjukkan bukti cinta kasihnya yang tulus. "
"Anak-anak gila!" Timpal yang lain.
Hendra dan Rianti tidak peduli. Dengan masih berpelukan sambil tertawa, keduanya pun meninggalkan jalanan, kembali ke trotoar dan kembali menerapkan langkah kaki mereka.
Dengan tatapan mata Sendu dan kelopak mata yang sembab karena habis menangis, Rianti menggeleng.
"Kaau tahu, Rianti. Aku tanya jam berapa Karena aku ingin mengingatkan kau agar kau tidak lupa waktu, yang akan membuat kedua orang tuamu gelisah menunggumu, " tutur Hendra memberitahu.
"Ngomong, dong ,"
"Aku mau ngomong, kalau kau langsung menuduh yang tidak tidak jawab Hendra..
"Tapi bener kan, kau mau ke rumah? "
"Kau harus mengerti, Rianti. Aku dan kedua orang tuaku telah banyak berhutang budi pada kedua orang tuamu. Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas semua kebaikan mereka, selain berusaha meringankan beban mereka sebisa yang aku perbuat?"
"Bagaimana kalau mereka memintamu untuk menjadi suami Lusi?"
Hendra tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala
"Itu tidak mungkin, Rianti."
"Keenapa memangnya? "
"Seperti yang tadi aku katakan, kedua orang tuamu bukanlah orang tua yang kolot. Mereka orang-orang yang bijak,"
"Ya, karena mereka belum tahu kalau Lusi suka padamu,"
Kekhawatiran serta kecemasan semakin menguasai lubuk hati dan pikiran Rianti. Riyanti membuatnya semakin tersiksa. Sedangkan Indra hanya tersenyum Seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat melihat tingkah kekasihnya.
__ADS_1