
Di pagi hari yang cerah, Alexa sedang bersiap-siap hendak pergi ke kantor. Ini adalah hari pertamanya memulai hari dengan bergelut di bidang bisnis.
Alexa berangkat ke kantor dengan ditemani oleh Eyang Netty yang akan memperkenalkan Alexa kepada para rekan bisnisnya, bahwa mulai sekarang Alexa lah yang akan menggantikan posisinya sebagai CEO di perusahaan itu.
Di sebuah perusahaan yang bernama Beauty Glow, Alexa mulai mengabdikan diri mengasah semua keterampilannya demi kemajuan dan ketenaran perusahaan itu. Alexa bertekad perusahaan Beauty Glow harus lebih maju di bawah kepemimpinannya.
Di sebuah ruang meeting Eyang Netty mulai memperkenalkan Alexa sebagai pimpinan perusahaan Beauty Glow, yang akan menggantikan dirinya.
"Perkenalkan, ini cucu Saya Alexa Setiawan, dia adalah sarjana S1 di UOW Dubai." Eyang Netty memperkenalkan Alexa yang saat ini sedang berdiri bersamanya di depan semua klien dan rekan bisnis yang hadir.
"Alexa yang akan menggantikan posisi Sebagai CEO di perusahaan ini." lanjut Eyang
Netty.
Ya, Eyang Netty memang sudah lanjut usia, oleh karena itu ia membutuhkan seseorang untuk menggantikan dirinya sebagai pemimpin di perusahaan itu dan Alexa lah yang terpilih untuk menggantikan posisinya sebagai pimpinan di perusahaan beauty glow.
Setelah selesai diperkenalkan, Alexa mulai berbicara dengan sopan , namun namun tetap terlihat energik.
"Perkenalkan namaku Alexa, mulai saat ini kita akan bekerja sama untuk menjadi lebih baik dan memuaskan para pelanggan kita, semoga pengetahuan yang ku miliki bisa bermanfaat untuk kita semua," ucap Alexa dengan penuh percaya diri.
Semua orang bertepuk tangan ketika Alexa mengakhiri ucapannya. Para rekan dan klien merasa senang bisa bekerja sama dengan Alexa. Apalagi ia adalah seorang sarjana kelulusan UOW Dubai.
Dan Alexa bertekad ia akan menjadi seorang pemimpin yang sebaik-baiknya, agar tidak mengecewakan semua orang yang telah mempercayai dirinya, terutama Eyang Netty yang telah berjuang mati-matian demi mengubah masa depannya yang hanya bermula dari gadis desa yang tidak memiliki pengalaman apapun, hingga menjadi wanita karier yang hebat.
Kini tugas Alexa hanyalah bekerja secara totalitas agar menjadi pemimpin yang terbaik, dan Alexa ingin membuat Eyangnya bangga kepada dirinya.
Sesuai dengan saran dari Eyang Netty, Alexa bekerja sama dengan Septi sebagai perancang tata busana yang berkelas, dan Alexa lah yang berkewajiban membuat tata busana itu menjadi terkenal hingga ke seluruh penjuru dunia.
Saat itu Alexa sedang sibuk si ruang kantornya, Alexa memeriksa setiap berkas yang telah sampai kepadanya dengan sebaik-baiknya. Karena ia tidak ingin ada kesalahan walau hanya sedikit pun.
"Sibuk amat,"! Seru Septi yang baru saja membuka pintu lalu melangkah mendekati Alexa yang sedang memeriksa setiap berkas dengan teliti.
" Hai, Mbak Septi, bagaimana betah bekerja disini?" sahut Alexa dengn bertanya.
Mendapat pertanyaan itu dari Alexa, membuat Septi tersenyum riang.
"Ya betah, apalagi CEO nya baik dan penuh perhatian kepada seluruh karyawannya." balas Septi.
Sontak membuat keduanya sama-sama tertawa, sebuah tawa yang tidak pernah berubah sama persis seperti tawa keakraban mereka sewaktu di desa dulu.
"Makan siang yuk! Aku lapar!" Ajak septi
"Sebentar ya Mbak, tanggung," sahut Alexa kemudian fokus kembali dengan pekerjaannya.
"Baiklah, aku duduk disini dulu ya," ucap Septi yang kemudian duduk di sofa agak sedikit jauh dari Alexa.
Alexa hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas di tangannya.
__ADS_1
Alexa terlihat begitu rajin dan hati-hati dalam melaksanakan tugasnya, ia benar- benar-benar tidak ingin terjadi kesalahan sedikit pun pada pekerjaannya.
Septi memandang Alexa dengan penuh rasa syukur, ia bersyukur dengan semua perubahan yang terjadi pada Alexa, dari seorang penjual koran kini menjadi CEO di perusahaan ternama di kota jakarta.
Beberapa menit kemudian pintu didorong dengan sangat kuat, sehingga membuat Alexa maupun Septi merasa terkejut.
BRAAKKK.
Bunyi pintu sangat keras memekakkan telinga hingga membuat Alexa dan Septi terkejut bukan main, bunyi jantung mereka dag dig dug seolah terdengar oleh telinga sendiri.
"Ada apa Ric? Kau membuatku senam jantung hari ini." Alexa bertanya kepada Ricard, ya orang yang telah mendobrak pintu dengan keras adalah Ricard yang datang dengan raut wajah terlihat sangat marah. Namun, Alexa menyikapinya dengan tenang. Meskipun respon dari Ricard tidak begitu menyenangkan.
"Ada apa? Kau bertanya padaku ada apa? Harusnya aku yang bertanya ada apa denganmu? Ada apa dengan hubungan mu dan Saga?" suara Ricard terdengar bergetar karena menahan amarah.
Raut wajah Ricard terlihat memerah, menatap Alexa dengan sangat menyeramkan.
Mendengar pertanyaan dari Ricard, yang tadinya Alexa hanya tersenyum dan bersikap tenang kini berubah lebih serius.
"Apa maksudmu?" Alexa masih belum mengerti arah pertanyaan dari Ricard.
Ricard yang telah terbakar api cemburu menarik sudut bibirnya dan tersenyum sinis. Ia melirik dengan ekor matanya dengan lirikan yang merendahkan.
"Kau masih menyimpan rasa pada Saga, kau masih mencintainya kan? Aku melihatnya dengan kedua mataku!" Ricard mulai mengeluarkan uneg-uneg yang bersarang di dalam hatinya semenjak semalam.
Ya, Ricard lah orang yang melihat Alexa dan Saga sedang berpelukan, Dengan hati dipenuhi oleh rasa cemburu Ricard pergi meninggalkan Alexa dan Saga yang masih tetap berpelukan.
Sebelumnya Ricard mendapatkan informasi dari Eyang Netty kalau Alexa pergi ke mansion Ayahnya dengan alasan ia sangat merindukan Ayahnya. Namun, ketika ia telah sampai di mansion Pak Hendra, ia mendapatkan informasi kalau Alexa dan Pak Hendra sedang pergi ke pondok pesantren Sullamul Hidayah.
Tetapi ia justru diperlihatkan sebuah pemandangan mata yang membuatnya cemburu.
"Ya," jawab Alexa mengakui perasaannya terhadap Saga, karena percuma saja jika ia berbohong, sebab Ricard telah mengetahui kebenarannya.
"Kalau begitu untuk apa pertunangan ini, lebih baik kita jalani hidup kita masing-masing!" sentak Ricard dengan segala macam kecemburuan.
Ricard memarahi Alexa tanpa mempedulikan Septi yang sedang menatap kearah keduanya.
Dan pada saat itulah Saga memasuki ruangan Alexa dengan sangat terburu-buru. Karena ia merasa tidak terima Alexa di bentak-bentak oleh Ricard.
"Ricard, seperti inikah caramu menghadapi wanita?" tanya Saga yang saat itu telah berada didalam ruangan itu.
Ricard menatap Saga dari atas hingga bawah. Dengan tersenyum sinis ia berkata, "Untuk apa kau berpakaian serapi ini, bukankah kau telah jatuh bangkrut?"
"Ya kau benar, aku memang telah jatuh bangkrut, tetapi ada seseorang yang sangat baik, dia menyerahkan perusahaan nya kepadaku." jawab Saga
"Enak sekali dirimu, bisa bebas peluk-peluk calon istri orang, dapat perusahaan gratis lagi," sungut Ricard.
Mendengar perkataan sahabatnya, Saga terperangah. Ia tidak menyangka jika hal itu yang memicu pertengkaran di antara mereka.
__ADS_1
Dengan suara rendah Saga berkata, "Maafkan aku Ricard, aku tidak bermaksud untuk–,"
"Ah, sudahlah Saga, aku tidak butuh penjelasanmu!" tukas Ricard sebelum Saga selesai meneruskan ucapannya.
"Tapi Ricard, jika kau ingin marah maka marahlah padaku, karena aku lah yang telah memeluknya lebih dulu," ucap Saga.
"Kalau begitu mulai sekarang jauhilah Alexa, jangan pernah lagi untuk berusaha mendekatinya!"
"Baik lah, jika memang itu yang kau inginkan," sahut Saga menyanggupi.
"Tidak bisa begitu Ric, aku tidak suka hidup terkekang, aku ingin bebas dan menjalani hari sesuka hatiku," Alexa menolak ucapan Ricard.
"Ingat Ric, bukankah Eyang dan kekuarga kita sudah sepakat bahwa mereka memberikan kita pilihan jika ada kecocokan maka kita boleh melanjutkan hubungan ini dan jika tidak maka kita harus akhiri dengan segera." Ucap Alexa dengan tegas.
"Tapi Alexa, aku merasa nyaman denganmu dan aku ingin kita secepatnya menikah, agar tidak ada lagi orang lain yang akan mengganggu hubungan ini!"
"Kau jangan egois, kau tidak bisa memaksakan hubungan ini dan aku juga tidak ingin dipaksa. Aku ucapkan terima kasih atas kebaikanmu selama ini tapi bukan berarti kau boleh memutuskan sesuatu sesuka hatimu di dalam hidupku, aku juga memiliki hak untuk menentukan pilihanku sendiri." Alexa tidak ingin terbebani oleh siapapun.
Perdebatan terus berlangsung tanpa mempedulikan Septi dan Saga yang berada di dalam ruangan itu juga, melihat insiden di depannya membuat septi tergerak hatinya untuk meluruskan semua kesalahan pahaman ini. Sedangkan Saga telah pergi begitu saja karena merasa tidak enak hati atas apa yang telah terjadi.
"Maaf, jika boleh aku berbicara," ucap Septi meminta izin kepada Alexa dan Ricard.
"Silahkan Mbak, mau bicara apa?" Alexa mempersilahkan.
Mendapatkan izin dari Alexa, septi pun berbicara kepada Ricard. Dengan menatap kedua bola mata kebiruan milik pria itu. Dan, mendapatkan tatapan dari Septi membuat Ricard sedikit berdebar. Entah perasaan apa yang telah ia rasakan. Hatinya begitu berdebar saat Septi menatap lekat dirinya, padahal ia tidak menyukai wanita itu.
"Aku tahu seberapa besar cinta mereka berdua, mereka berpisah juga karena fitnah dari orang yang tidak bertanggung jawab." Septi mulai berbicara.
"Apa maksudmu? Kau ingin mendukung mereka berdua?" Ricard membalas menatap Septi.
"Tentu saja, karena aku juga tahu perjalanan hidup Alexa bahkan kami tumbuh besar bersama di desa, hingga pada akhirnya ia dipertemukan dengan Saga dan menikah."
"Lalu?" Ricard.
"Aku rasa Alexa ku ini hanya akan merasa bahagia jika hidup bersama Saga, bukankah kau juga melihat ketulusan mereka semalam?"
Dan perkataan Septi cukup membuat Alexa terkejut, dan Ricard memalingkan wajahnya saat mendapatkan tatapan dari Alexa.
"Semalam? Mbak tahu apa yang terjadi semalam?" tanya Alexa menatap Septi dengan intens.
"Ya, tentu saja karena aku juga datang kesana bersama Ricard," jawab Septi sejujurnya.
Sebenarnya Septi merasa kurang suka dengan sifat Ricard yang selalu ingin mengekang Alexa.
"Mengapa kalian tidak memberi tahuku?" Alexa.
"Karena aku tidak ingin mengganggu acara peluk-pelukan kalian," jawab Ricard masih saja dengan ketus.
__ADS_1
"Kau tidak memberitahu ku tentang hal ini, apa ada sesuatu yang sengaja kau rahasiakan dariku?" Alexa bertanya mengintimidasi, kini gilirannya membuat Ricard merasa Insecure.