Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 71


__ADS_3

Saga berteriak histeris saat ia memeluk tubuh Raisya yang tidak berdaya, hilang sudah semua kemarahan dan kekesalan yang ia pendam selama ini, hatinya tetap saja tidak tega melihat keadaan saudaranya telah terkapar tidak berdaya.


Sekuat-kuatnya Saga setegar-tegarnya ia tetap saja akan rapuh jika merasa kehilangan orang yang sangat ia sayangi.


"Mengapa semuanya harus terjadi Kak? Mengapa semuanya harus berakhir seperti ini? Aku hanya ingin membuatmu sadar dengan semua kesalahanmu. Maafkan aku Kak," lirih Saga dengan perasaan bersalah.


Sementara itu Alexa dan Tiara yang berdiri tidak jauh darinya hanya bisa memandangnya dengan dengan penuh iba. Air mata Alexa tidak anti-hentinya mengalir membasahi kedua pipinya, hatinya terenyuh melihat insiden menyedihkan di depan matanya.


Sedangkan Tiara yang melihat remote yang sebelumnya dipegang oleh Saga kini tergeletak begitu saja di atas tanah. Sontak Tiara mengambilnya kemudian ia menekan salah satu tombol di remote itu untuk melepaskan jeratan kalung yang terpakai di lehernya.


Lima detik saja kalung itu pun terlepas dari lehernya dan juga dari leher Sakti. Membuat Tiara merasa lega telah terbebas dari serangan kalung itu.


"Maaf Saga, kakakmu harus kami bawa! wlalau bagaimanapun dia harus melaksanakan tanggung jawabnya dari kesalahannya"! Ujar Thomas dengan tegas.


Mendengar ucapan Thomas membuat Saga langsung menolaknya.


"Jangan! Jangan pernah lakukan itu dia adalah kakakku walau bagaimanapun di dalam tubuh kami mengalir darah yang sama." tolak saga dengan kembali memeluk Raisya.


"Saga, Kumohon jangan halangi tugas kami, seperti apapun keadaannya dia harus tetap menjalani hukuman untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya!" balas Thomas. Sekuat apapun Saga berusaha menghalangi anggota mafia itu untuk membawa kakaknya, namun kenyataan hanya sia-sia.


Thomas dan anggotanya membawa Raisya pergi bersama dengan mereka untuk dirawat di rumah sakit, dan setelah wanita itu sembuh barulah ia akan dibawa ke dubai untuk mempertanggungjawabkan semua kesalahannya.


Saga hanya bisa pasrah menatap kepergian kakaknya bersama anggota mafia, ia hanya bisa berdoa semoga kakaknya cepat sembuh dan bisa hidup rukun kembali seperti sediakala.


"Papa!" teriak Sakti ketika melihat Saga sedang memandang kepergian Raisya. Sakti merasa senang bukan main,didalam hatinya ia sangatlah bahagia, saat ia melihat sosok Ayahnya berada di antara mereka.

__ADS_1


Jujur Sakti merasa sangat merindukan sosok Ayahnya, Sakti segera berlari ke arah ayahnya, kemudian ia menghambur ke dalam pelukan Saga.


Dengan penuh Kerinduan Sakti memeluk Saga dengan berat. Sakti menangis dipelukan Ayahnya.


"Papa, Papa, Mengapa Papa pergi tinggalin Sakti? Sakti takut Pa, tante cantik sering marahin mama, aku juga sering dimarahin!" ucap Sakti dengan menangis sambil memeluk ayahnya.


Saga memandang wajah Sakti yang terlihat memelas, walau dia sangat kecewa dengan kebohongan yang dilakukan oleh Tiara dan ibunya, tetapi Saga berusaha untuk tetap tenang dan sabar di depan Sakti karena ia tidak ingin anak itu melihat kemarahannya.


Sakti memeluk erat ayahnya dengan tubuh yang gemetar tampak di lehernya bekas memerah akibat dari jeratan kalung itu.


"Apakah ini sakit?" tanya Saga seraya menunjuk dengan jarinya pada leher Sakti.


"Sakit sekali Pa," jawab Sakti sambil mengusap air matanya.


"Terimakasih telah menyelamatkan diriku," tiba-tiba saja Alexa bersuara setelah cukup lama ia terdiam.


Saga melerai pelukan nya, lalu beralih pandang, memandang Alexa yang juga menatapnya.


"Tidak perlu berterimakasih, anggap saja kebetulan." sahut Saga dengan senyum bahagia melihat wanita yang dicintainya baik-baik saja.


Tepat pada saat itulah, Ricard datang dengan mengendarai mobil. Pria itu terlihat sangat khawatir, dengan cepat ia menghampiri Alexa.


"Kau tidak apa-apa kan? Apa ada yang luka? di mananya yang sakit?" Tanya Ricard bertubi-tubi seraya Memutar tubuh Alexa ke kanan dan ke kiri, Ricard begitu khawatir, ia takut terjadi sesuatu yang buruk kepada tunangannya.


"Sudah-sudah, aku tidak apa-apa tapi Saga, dia terluka karena ulah preman itu, " jawab Alexa seraya melepaskan tangan Ricard yang memegang kedua lengannya.

__ADS_1


Mendengar penuturan Alexa serta membuat Ricard segera menoleh ke arah Saga yang sedang berdiri bersama Sakti tidak jauh dari Alexa.


Sebenarnya Saga yang tadinya berdekatan dengan Alexa sengaja memundurkan dirinya, menjaga jarak dengan wanita itu di saat ia mendengar deru mobil Ricard.


"Kau tidak apa-apa sobat? Apa yang terjadi padamu ? Atau kita ke rumah sakit saja? " tanya Ricard dengan khawatir melihat keadaan Saga yang berlumuran darah akibat tendangan dan pukulan dari para preman itu.


Saga menjawab dengan tersenyum, seraya menggandeng tangan Sakti,


"Oh tidak, hanya luka kecil saja nanti juga pasti sembuh sendiri, " sahut Saga dengan tersenyum berusaha menahan rasa sakit disebut juga tubuhnya.


Namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang ada di dalam hatinya. Di saat dia melihat Ricardt yang mulai memeluk Alexa dengan mesra. Dan Hal itu membuat Alexa merasa tidak nyaman.


"Kenapa? Kenapa kau sepertinya tidak ingin aku sentuh?" Ricard Mulai merasakan yang terlihat risih ketika ia menyentuhnya.


"Tidak bukan begitu! Aku hanya tidak ingin kita sering bersentuhan sebelum kita menikah ." Jawab Alexa beralasan. Dan jawaban Alexa bukan hanya membuat Ricard yang merasa lega melainkan juga Saga yang meyakini bahwa dari perkataan Alexa menunjukkan bahwa wanita itu masih menyimpan rasa terhadapnya.


"Bukankah wanita ini yang tadi di pesta? " gumam Ricard yang langsung terdengar oleh Tiara, membuat wanita itu langsung menghampiri Alexa meminta maaf kepadanya.


"kakak! Maafkan aku Kak aku tidak bermaksud untuk menyakitimu aku hanya disuruh." Ucap Tiara berpura-pura mengiba.


Selesai meminta maaf Tiara langsung menghambur ke dalam pelukan Alexa yang hanya diam saja, Alexa tidak pernah menyangka bahwa yang telah menculik dirinya adalah adik kandungnya sendiri.


"Mengapa kau tega padaku Tiara ?" Hanya kata-kata itu yang terucap dari mulut Alexa coba menandakan betapa kecewa hatinya.


"Tidak Kak, Aku tidak pernah berniat menculikmu aku hanya menjalankan perintah dari Raisya, jika tidak maka Putraku akan menjadi sasarannyadan aku tidak ingin itu sampai terjadi" Ricard dan Alexa ikut mengarahkan pandangannya ke arah Sakti.

__ADS_1


__ADS_2