
Semarah-marahnya Alexa, ketika mendengar penuturan Tiara hatinya yang lembut terenyuh juga.
"Ya, Aku mengerti posisimu, dan aku juga sudah memaafkan mu," ucap Alexa seraya memeluk Tiara dengan penuh kasih sayang layaknya seorang kakak terhadap adiknya.
Namun, tidak dengan Tiara, ia malah menyembunyikan senyum sinis dibalik punggung Alexa, rupanya ia tidak tulus untuk meminta maaf.
Setelah beberapa lama, akhirnya mereka semua pulang dengan mengendarai mobil Ricard.
"Aku turun disini saja," ucap Saga ketika mobil yang ditumpanginya melintasi daerah pesantren milik Kakeknya.
Mendengar ucapan Saga semua orang mengernyitkan dahi, saling memandang satu sama lain.
"Mengapa tidak turun di mansion mu? Mengapa harus turun disini?" tanya Ricard merasa heran.
"Ya, Saga kita kan ada mansion keluarga kita, mengapa harus turun disini sih?" Tiara pun ikut bertanya-tanya.
Memang Tiara tidak tahu-menahu tentang mansion itu yang telah dijual oleh Raisya. Karena Raisya menjualnya secara diam-diam.
Saga menarik napas dengan berat terasa sesak di dalam dadanya saat mengingat kembali seluruh aset yang dimiliki keluarga nya telah dijual habis oleh Kakaknya sendiri.
"Mansion dan seluruh aset perusahaan telah dijual habis oleh Kak Raisya, jadi untuk sementara waktu aku akan tinggal disini bersama dengan kakekku, dan mama Lakukan telah tinggal disini sampai aku bisa mendapatkan tempat tinggal yang baru." jawab Saga sontak membuat semua orang menganga.
'Jadi, Saga Hawiranata Kusuma telah menjadi kere? Oh tidak, aku tidak bisa ikut tinggal dengannya di pesantren itu, aku harus mencari cara untuk tidak ikut dengannya,' pikir Tiara yang memang tidak ingin hidup susah.
"Saga, aku rasa lebih baik kita tinggal di mansion orang tuaku, disana kita akan merasa lebih nyaman," ucap Tiara sekedar berbasa-basi.
Mendengar ucapan Tiara membuat Saga mengalihkan pandangan ke arahnya, ia menatap wanita itu dengan intens.
"Jika kau merasa keberatan tinggal di pesantren ini, maka tinggal saja di tempat orang tuamu, aku juga tidak ada niatan untuk mengajakmu, dan aku akan segera mengurus perceraian kita," sahut Saga dengan geram kemudian turun dari mobil.
"Terimakasih Ricard, lain kali mampirlah ke pesantren ini," ucap Saga sebelum meninggalkan mobil itu dan ketika ia mulai melangkah, tiba-tiba Sakti memanggilnya sambil menangis.
__ADS_1
"Papa! Sakti ikut Papa," dengan mengucek kedua matanya yang mulai berair.
Saga membalikkan badannya kemudian menghampiri Sakti lalu berkata, "Apa kau tidak merasa keberatan tinggal bersama Papa? Tempat tinggal Papa tidak semewah dulu," ucap Saga.
"Sakti tidak peduli Pa, pokoknya Sakti mau ikut Papa," rengek Sakti seraya menangis.
Saga melirik ke arah Tiara yang berpura-pura tidak melihat ke arahnya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat perubahan pada Tiara yang tiba-tiba saja berubah drastis dari sebelum-sebelumnya.
Padahal dulu wanita itu sampai rela mempermalukan dirinya sendiri hanya karena agar bisa menikah dengan Saga, tetapi kini telah jauh berbeda ketika Tiara mengetahui bahwa Saga telah jatuh miskin, ia tidak respek lagi malah cenderung mengacuhkan dirinya.
"Sakti akan ikut denganku, apa kau keberatan?" Saga meminta pendapat Tiara sebagai Ibu kandung dari Sakti.
"Terserah saja, dia mau ikut denganku atau denganmu, ya silahkan." jawab Tiara dengan cuek membuat Saga semakin semakin kesal, tidak hanya Saga, bahkan Ricard dan Alexa juga merasakan hal yang sama.
Bagaimana mungkin seorang Ibu bisa berubah sikap hanya karena harta semata. Sedangkan Sakti adalah darah dagingnya sendiri.
"Tiara, tidak seharusnya kau bersikap seperti itu kepada putramu sendiri, apalagi dia–,"
"Tidak apa-apa biarlah Sakti ikut bersamaku saja, lagi pula dia putraku bukan?" Saga segera memotong ucapan Alexa karena ia tidak ingin bocah sekecil itu harus mengetahui siapa Ayahnya yang sebenarnya.
"Baiklah, Sakti baik-baik ya disana jangan nakal!" Alexa mengingatkan Sakti yang tersenyum ke arahnya, kemudian Sakti memandang ke arah Ibunya yang dengan sengaja memalingkan wajahnya.
"Ma, Sakti pergi dulu ya, mama jaga diri Mama baik-baik," ucap Sakti sebelum pergi tetapi, Tiara masih saja mengacuhkannya.
"Sudahlah Sakti, ayo kita pergi saja, Oma dan Mbah Kung sedang menunggu kita disana!" ajak Saga prihatin ketika melihat reaksi Tiara yang sengaja mengacuhkan putranya sendiri, dan ekspresi kekecewaan yang terlihat diwajah Sakti.
"Ricard, Alexa kami pamit dulu," Saga mohon diri kepada Kedua orang itu yang langsung disambut dengan senyuman dan anggukan kepala.
Saga menuntun Sakti menuju pintu gerbang pondok Pesantren, 'SULLAMUL HIDAYAH' yang di asuh oleh kakeknya sendiri selama bertahun-tahun.
"Tiara, tidak seharusnya kau bersikap sedingin itu kepada Sakti, walau bagaimanapun dia adalah darah dagingmu sendiri, harusnya kau yang membawanya tinggal bersama dengan mu, bukan malah Saga, apalagi dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Sakti, dia bukan Ayah kandungnya kan?" Alexa memarahi Tiara yang telah keterlaluan menurutnya.
__ADS_1
"Sudah selesai kak, sudah selesai ngocehnya? Kalau begitu antarkan aku kerumah Papa dan Mama!" bukannya merasa bersalah, Tiara justru bersikap seolah Nyonya besar yang seenaknya memberikan perintah.
"Kau dapat dari mana Adik seperti itu?" Ricard juga merasa kesal dengan tingkah Tiara. Ia juga merasa heran, bagaimana mungkin dua saudara memiliki kepribadian yang sangat kontras bertentangan.
Alexa hanya bisa menghela nafas dengan kasar tanpa menjawab pertanyaan dari Ricard. Kemudian mobil itu pun berjalan perlahan-lahan, semakin lama semakin cepat menyusuri jalan.
***********************************************
"Assalamu'alaikum!" Saga mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah Ndalem Kakek Syarifuddin.
"Wa'alaikumussalam," jawab Kakek Syarifuddin yang kemudian keluar dari dalam kamarnya dengan tetap memegang tasbih di tangannya.
"Saga, cucuku! Kau telah kembali nak!" serasa tidak percaya Kakek Syarifuddin menatap Saga dengan senyum sumringah di wajahnya.
Saga menghampiri Kakeknya lalu mencium tangan Kakek Syarifuddin dengan penuh hormat. Kemudian mereka saling berpelukan melepas rindu masing-masing.
"Kakek apa kabar?" tanya Saga seraya melerai pelukannya.
"Kabarku baik-baik saja nak, oh iya, siapa anak kecil yang bersamamu?" tanya Kakek ketika melihat Sakti yang sedang memegang ujung kemeja Saga dengan raut wajah yang menunjukkan ketakutan melihat kakek Syarifuddin.
Namun, sebelum Saga menjawabnya, Kakek Syarifuddin kembali bertanya dengan nada suara yang terdengar sangat khawatir.
"Kau kenapa Saga? Mengapa seluruh pakaianmu penuh darah?" tanya Kakek setelah menyadari bahwa pakaian Saga penuh dengan darah.
"Oh…Ini Kek–,"
"Kau berkelahi kembali? Apa kau kembali menjadi anggota mafia, astagfirullah Saga, mengapa kau tidak mendengarkan ucapan kakekmu ini," ucap Kakek Syarifuddin yang langsung terlihat sedih.
Ya, inilah alasannya mengapa Saga menolak ketika diminta untuk kembali menjadi pemimpin Geng mafia The Red Rooster, jika sebelumnya ia memutuskan untuk kembali bergabung dengan geng mafia seperti dulu, karena ia merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi setelah kepergian Oma Hesti.
Namun, setelah bertemu kembali dengan Kakek Syarifuddin setelah sekian lama, dan mempertimbangkan kembali permintaan Kakeknya maka Akhirnya Saga memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Tidak Kek, aku tidak bergabung dengan anggota mafia lagi, aku akan kembali menata hidupku untuk menjadi lebih baik," jawab Saga meyakinkan Kakek Syarifuddin.
"Alhamdulilah," ucap Kakek Syarifuddin merasa lega mendengar perkataan dari cucunya.