Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 115


__ADS_3

Helikopter mendarat di sebuah pulau terpencil, rupanya pulau itu belum pernah terjamah oleh manusia. Karena sebagian besar pohon-pohon di sana masih utuh.


Saga mengikuti Thomas dan beberapa anggota mafia lainnya. Mereka semua bergegas memasuki pulau itu.


Tepat di tengah pulau tampaklah sebuah paviliun yang berdiri megah bagaikan istana, sebuah gedung besar berukuran raksasa. Dindingnya yang penuh dengan ukiran serta pilar-pilar yang tegak berdiri kokoh menambah keindahan paviliun tersebut.


"Apa mungkin kak Raisya ada ada disini?" tanya Saga masih sedikit ragu.


"Ya, begitulah menurut informasi yang aku dapat." Thomas melangkah lebih dulu untuk mengecek situasi saat itu. Sedangkan Saga dan yang lainnya bersembunyi dibalik semak.


Thomas mengacungkan jempolnya, pertanda situasi aman. Mereka pun bergerak cepat memasuki paviliun itu.


Tak lama kemudian.


"HYAAAATTTT." Sebuah suara yang datang dari arah berlawanan diiringi oleh beberapa langkah kaki berlari ke arah mereka.


Tak dapat dihindari lagi perkelahian pun terjadi dengan sangat dahsyatnya. Bunyi pukulan dan hantaman saling beradu di sertai suara mereka yang berteriak menambah bisingnya suasana.


Suara senjata seperti senapan silih berganti memekakkan telinga, lama mereka saling mempertahankan diri masing-masing hingga pada akhirnya anggota mafia berhasil melumpuhkan serangan-serangan musuh dengan beberapa granat yang mereka lemparkan ke arah musuh. Granat itu mengeluarkan cahaya yang membutakan dan suara ledakan yang keras membisingkan telinga.


musuh terpental jauh dengan tubuh tercabik-cabik akibat ledakan granat itu. Atas izin Tuhan para anggota mafia dapat mengalahkan musuh dengan mudah.


Namun, tidak sampai disitu saja karena semakin mereka memasuki Paviliun itu, suasana semakin gelap sehingga membuat anggota mafia harus lebih berhati-hati lagi demi keselamatan bersama.


DWAARRR


Sebuah bunyi menggelegar dari arah yang sama membuat semua anggota mafia menelungkupkan kepalanya, ada juga yang bertiarap menghindari serangan musuh. Beruntung dinding paviliun itu sangatlah kuat, sehingga tempat itu tetap kokoh berdiri.


"Semuanya! Berhati-hatilah musuh ada di sekitar kita, mereka sengaja bersembunyi untuk menyerang kita semua! Oleh karena itu selalu siaga dan siapkan senjata!"


"SIAP!" jawab anggota mafia serempak menyahuti pimpinan mereka.


"Saga, kau fokus mencari keberadaan kakakmu, yang lainnya biar kami yang urus," bisik Thomas kepada Saga di sebelahnya.


"Baik, kita berpencar sekarang," sahut Saga, "hati-hatilah kawan!"


Mereka berpencar, pasukan dibagi dua ada yang mengikuti Thomas dan ada juga yang mengikuti Saga dengan dua arah yang berlawanan.

__ADS_1


Mereka semua melangkah dengan sangat hati-hati bahkan tidak menimbulkan suara sedikitpun.


Pada akhirnya, tibalah Saga di depan sebuah kamar yang terkunci dengan menggunakan gembok.


"Sepertinya disini mereka menyembunyikan kak Raisya," ucap Saga.


Untuk mendeteksi dan membenarkan dugaannya, Saga menggunakan sebuah alat yang berbentuk seperti kabel kecil berwarna hitam dengan sebuah kamera berukuran sangat kecil di ujungnya.


Saga memasukkan alat itu melalui celah bawah pintu, dan benar saja apa yang biasa lihat. Raisya sedang terbaring tidak sadarkan diri, peralatan medis pun tidak ada lagi, yang tersisa hanya Sebuah infus yang masih ada di sampingnya dengan jarum yang menancap di punggung tangan sebelah kanannya.


"Kakak," panggil Saga lirih.


Tidak terasa air mata menetes begitu saja ketika ia melihat kondisi kakaknya yang semakin lemah.


DORR.


Sebuah suara tembakan berasal dari arah belakang Saga dan mengenai beberapa dari anggota mafia.


"Aaaaaakhh!" teriak mereka dengan tubuh yang langsung ambruk.


Beberapa detik kemudian saat musuh hendak menyerang mereka kembali, dengan sigap Saga segera melemparkan bahan peledak ke arah musuh.


DUMMM.


Suara keras menggelegar hingga membuat paviliun itu bergetar. Tak dapat dipungkiri lagi akibat dari ledakan itu, banyak dari musuh yang terhempas dan tewas seketika dengan tubuh yang tercabik-cabik mengerikan.


Tanpa berpikir panjang lagi, Saga segera meletakkan bahan peledak mini yang ia tancapkan di empat sudut pintu untuk menghancurkannya.


"Semua, mundur!" Saga memberi perintah kepada anggotanya.


Semua tim mafia mundur mematuhi aba-aba yang diberikan oleh Saga.


Beberapa detik kemudian.


DWAARRR.


Pintu pun hancur berkeping-keping memudahkan Saga untuk masuk kedalamnya.

__ADS_1


"Kakak, kau baik-baik saja?" tanya Saga menatap tubuh yang tidak berdaya di depannya.


Dengan segera Saga menarik infus yang tergantung di samping Raisya dan meletakkannya di atas brankar dorong yang ditempati oleh kakaknya.


Tanpa menunggu apapun lagi Saga segera mendorong brankar tersebut membawanya keluar dari kamar itu.


Sedangkan tim mafia yang lain berjaga-jaga kalau-kalau ada serangan yang dilancarkan secara tiba-tiba.


Dengan cepat Saga segera mendorong brankar itu tanpa memperdulikan lagi anggota yang lainnya. Karena memang itu yang disarankan oleh Thomas. Saga harus tetap fokus dengan tujuan utamanya.


Tepat di depan pintu keluar para musuh menghadang, pertempuran pun tidak dapat dielakkan lagi. Karena tersedak, Saga terpaksa mendorong brankar Raisya ke sebelah dalam, dan Saga pun mulai ikut menyerang musuhnya.


Pertempuran sengit berlangsung sekitar satu jam dan meninggalkan beberapa bagian kecil anggota mafia yang selamat dari pertempuran itu. Sedangkan musuh tidak satupun yang selamat.


"Semoga kalian mendapatkan surga." Thomas mengelilingkan pandangannya menatap anggota mafia yang tergeletak tak bernyawa di depannya.


"Sepertinya Irwan telah kabur," sahut Saga menduga, "dengan bantuan dari seseorang,"


"Ya, menurutku juga begitu," sahut Thomas yang memiliki dugaan yang sama dengan Saga.


"Dimana yang lainnya?" tanya Saga ketika ia melihat hanya beberapa anggota saja yang bersama dengan Thomas, padahal sebelumnya anggota mereka dibagi dua sama banyak.


"Mereka semua tewas, hanya kami saja yang tersisa." Thomas menundukkan kepalanya, raut kesedihan mulai terlihat di wajahnya.


Thomas teringat kebersamaan mereka semua yang kompak dan saling mendukung satu sama lain, sebagai anggota mafia keberanian dan kegagahan mereka di medan pertempuran tidak diragukan lagi.


"Aku turut berdukacita." Saga juga ikut menundukkan kepalanya. Ikut merasakan kesedihan yang sedang dialami oleh seluruh anggota mafia yang masih tersisa sedikit. Hanya beberapa orang di antara mereka.


"Tidak apa-apa, ini adalah tugas dan kewajiban kami untuk membantu setiap anggota kami yang membutuhkan." seorang anggota mafia yang lain mendekat ke arah Saga.


"Kami merasa bangga karena kau telah berhasil menyelamatkan kakakmu!" lanjut orang itu seraya menepuk pundak Saga.


"Terimakasih, kalian masih menganggapku sebagai anggota mafia, walaupun diriku tidak lagi aktif di dalam kelompok kita," ucap Saga merasa bersyukur memiliki kawan yang masih setia kepadanya.


"Sekarang lebih baik kau segera bawa pulang kakak mu, sedangkan kami akan memakamkan mereka secara layak." Thomas mengangkat anggotanya yang telah tewas satu persatu dengan dibantu oleh beberapa anggota yang lainnya.


Dengan segera Saga meraih brankar dan kemudian mendorongnya keluar dari paviliun itu. Sedangkan di luar sana, sebuah helikopter telah setia menunggu dan akan mengantarkan ke tempat asalnya.

__ADS_1


__ADS_2