Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 94


__ADS_3

Keesokan harinya, sepulang sekolah kembali Hendra dan Rianti pun bertemu. Namun kali ini mereka tidak hanya berdua, sebab ternyata Lusi ikut dengan Rianti menemui Hendra.


Hendra semula terkejut melihat Rianti datang bersama dengan Lusi. Namun, setelah mereka duduk-duduk di cafe dan memesan makanan serta minuman, Lusi pun dengan wajah menunjukkan keceriaan berkata, "Hari ini biar aku yang traktir kalian. Hari ini aku ingin merayakan kebebasanku dari belenggu cinta buta yang selama ini membuat aku tersiksa." ucap Lusi dengan senyum di wajahnya.


Hendra dan Rianti pun saling memandang, seakan keduanya ingin bertanya pada diri masing-masing, Ada apa sebenarnya? Namun, kemudian keduanya hanya bisa mengangkat pundak, lalu keduanya pun berusaha untuk mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Lusi selanjutnya.


"Selama ini, aku telah membuat kalian berdua terutama Hendra, bingung karena sikapku. Jujur saja, itu semua dikarenakan aku memang merasa cemburu dan iri pada kalian. Aku yang sejak dulu selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Hendra, berharap bahwa aku akan bisa mendapatkan cinta Hendra. Cinta dalam arti yang sesungguhnya, cinta seorang gadis pada seorang pemuda. Cinta Seorang Kekasih pada orang yang dikasihinya.Sempat terpikir olehku untuk berusaha memisahkan kalian berdua agar aku bisa mendapatkan cinta Hendra seutuhnya." ucap Lusi dengan kepala tertunduk.


Sampai di situ Lusi sejenak menghentikan ucapannya. Sementara Hendra dan Rianti tampak saling berpandangan, namun tidak sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka.


"Aku tahu," kembali Lusi berkata setelah sesaat terdiam sembari menghela nafas panjang seakan berusaha mengisi rongga dadanya yang terasa sempit dan sesak.


"Jika papa dan Mamaku yang meminta, Hendra pasti tidak akan kuasa menolaknya. Namun Beruntung aku sadar, bahwa cinta sejati Hendra adalah kau Kak. Karena itu, akhirnya aku memutuskan untuk menerima kenyataan yang ada. Aku tidak boleh mengganggu apa yang lagi sampai memisahkan cinta kalian. Akulah yang harus membebaskan diriku sendiri dari belenggu cinta buta."


Hendra dan Rianti masih tetap diam, dan hanya mata mereka saja yang saling beradu pandang. Sementara Lisa kembali menarik nafas panjang, berusaha untuk menahan gejolak perasaannya yang ada kemudian setelah sejenak terdiam Lusi pun meneruskan.


"Kemarin malam, aku belum mampu melakukan hal itu. Bahkan sampai Hendra datang menemuiku aku masih tetap Terbelenggu. Baru setelah Hendra pulang dan aku kembali seorang diri di kamar sambil merenungi semua yang kulakukan. Barulah aku sadar bahwa selama ini aku telah bersikap egois. Ingin menang sendiri. aku juga sadar, kalau tidak selamanya aku bisa memaksakan kehendak, kini aku benar-benar terbelenggu cinta buta. Dan aku berharap kiranya cinta kalian akan kekal abadi untuk selamanya serta aku berdoa, kiranya kalian bahagia untuk selamanya," tutur Lusi dengan mata berkata-kata penuh keharuan, mata itu telah mulai membengkak karena terus mengucurkan air mata.


"Lusi," Rianti memanggilnya.


Lusi mengangguk.


"Aku berkata dengan sepenuh hati kak, aku rela menyerahkan Hendra kepadamu. Karena aku tahu, cinta kamu pada Hendra jauh lebih besar dibanding cintaku padanya. Begitu juga cinta Hendra kepadamu jauh lebih dalam dibanding cintanya padaku yang cuma cinta seorang kakak pada adiknya."


"Oh..," Hanya itu yang keluar dari mulut Rianti.


Lusi tersenyum kemudian mengulurkan tangannya ke arah Hendra dan Rianti lalu berkata, "Selamat aku ucapkan dan Aku berharap kalian akan selamanya menyatu dalam cinta kalian."


Tak mampu lagi Hendra dan Rianti membendung kebahagiaan dan keharuan mereka. Keduanya pun langsung bangun dari duduknya menghampiri kursi di mana Lusi duduk lalu bersama-sama keduanya memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Lusi.


"Terima kasih, Lusi. Kamu Memang sahabat dan saudaraku yang baik." Rianti dan Hendra penuh keharuan dan kebahagiaan. Karena akhirnya Lusi mau mengerti dan tidak lagi berusaha menjadi penghalang hubungan cinta mereka.


"Sudahlah, tidak perlu begitu. Kalian bersenang-senang lah, biar semua aku yang membayar."


"Sekali lagi terima kasih." ucap Hendra dan Rianti bersamaan.


Mereka pun berusaha menikmati kebersamaan di antara mereka dengan makan dan minum. Setelah itu, Lusi pun bangun dari duduknya.


"Oke, aku pergi dulu. Kalian silakan bersenang-senang.." ucap Lusi pada akhirnya


"Kamu mau ke mana?" Tanya Rianti.


"Tidak etis kan kalau aku terus-menerus berada diantara kalian, hanya akan mengganggu kalian saja? Karena itu aku pikir sebaiknya aku pergi saja. Lagi pula , aku ada keperluan lain!"


"Baiklah hati-hati Lusi,"


Lusi hanya tersenyum, kemudian Ia pun pergi berlalu meninggalkan tempat itu, di mana Rianti dan Hendra berada.


"Hendra,"


"Ya?"


"Kau yakin Lusi benar-benar tulus mau Melepaskanmu?"

__ADS_1


"Semoga saja begitu."


Rianti Hanya bisa menarik nafas panjang. Ia pun berharap begitu namun Entah mengapa hatinya masih belum yakin kalau Lusi benar-benar tulus mau melepaskan Hendra.


"Ah, sudahlah, sebaiknya untuk sementara kita tidak perlu memikirkannya," kata Hendra sembari memegang jari jemari tangan Rianti. Sehingga gadis cantik itu perlahan memandang ke wajah Hendra lalu tersenyum, ketika dilihatnya Hendra sedang tersenyum.


"Kita lupakan Lusi dulu, oke?"


Rianti mengangguk setuju.


"Kita jalan, yuk!" ajak Hendra sembari bangun dari duduknya.


Rianti pun menurut bangun. Kemudian keduanya pergi meninggalkan cafe untuk jalan bersama menikmati suasana kebersamaan yang ada.


"Hendra!"


"Ya."


"Hari ini, hari Sabtu kan?"


"Ya, kenapa memangnya?"


"Berarti nanti malam adalah malam minggu."


"Ya, lalu?"


Rianti tidak langsung menjawab. Tetapi yang dilakukannya Justru malah memandang lekat ke wajah tampan Hendra, yang membuat cowok itu seketika mengerutkan kening, tidak mengerti akan makna dari tatapan lekat mata Rianti ke wajahnya.


"Tidak ada apa-apa."


"Lalu, kenapa kamu memandangiku seperti itu?"


"Memangnya tidak boleh?"


"Boleh. Tapi aku rasa ada sesuatu yang membuatmu memandangiku seperti itu. Seakan hatimu menyimpan rasa kesal padaku," duga Hendra.


"Kalau kau tahu, syukurlah."


"Kamu kesal kenapa?"


"Pikir saja sendiri." jawab Rianti dengan mengulum senyum.


"Bagaimana aku tahu kalau kamu tidak pernah memberitahu?"


"Kamu menganggapku pacar bukan?"


"Wah, kenapa kau tanya seperti itu?" Hendra merasa aneh dengan pertanyaan Rianti hanya saja ia takut kalau Rianti akan bersikap sama seperti Lusi.


"Ya jelas, dong. Kalau kamu nganggap aku pacarmu mestinya kamu ngertiin dong perasaanku."


"Apa selama ini aku masih kurang ngertiin perasaanmu?"


"Begitulah."

__ADS_1


"Terus, aku mesti gimana?" Hendra benar-benar merasa bingung.


"Aku ingin merasakan hal yang sama sebagaimana orang pacaran lainnya."


"Maksudmu?"


"Aku ingin dikunjungi oleh orang yang kucinta dan aku sayang di malam Minggu, sehingga aku tidak menghabiskan malam minggu dengan seorang diri," jawab Rianti.


"Jadi maksudmu?"


"Ya! Aku ingin Nanti malam kamu datang ke rumahku, aku ingin papa dan mamaku mengetahui tentang hubungan kita."


"Insya Allah." jawab Hendra. "Kau yakin papa dan mamamu akan mau menerima diriku sebagai Kekasihmu?"


"Kenapa memangnya? Jika Papa dan Mama tidak masalah kau dekat dengan Lusi selama ini, lalu mengapa mereka harus keberatan kita pacaran?"


"Aku hanyaโ€“,!


"Hanya orang yang tak punya, sedangkan aku Putri orang kaya gitu kan? " tukas Rianti memotong ucapan Hendra sembari menatap lekat ke wajah tampan cowok berambut ikal itu.


Hendra mengangguk.


Rianti kembali menatap lekat wajah Hendra namun kali ini tatapan matanya tidak lagi menunjukkan rasa kesal tetapi justru rasa Iba yang berbaur dengan perasaan kecewa.


"Cintaku padamu tulus Hendra aku tidak peduli kamu siapa, karena yang aku cinta bukanlah harta atau status sosial. Tetapi dirimu.Lagi pula yang kaya itu kan orang tuaku, bukan aku. Aku rela ninggalin semua yang ada, kalau memang itu sebagai penghalang jalinan Cinta Kita. Aku rela hidup menderita, Asalkan kita bisa tetap bersama," tutur Rianti penuh kesungguhan sembari menggenggam jemari tangan Hendra, seakan berusaha untuk meyakinkan dan memberi dorongan semangat pada cowok itu.


"Aku percaya, tapi-,"


"Tapi apalagi?" potong Rianti.


"Bagaimana kalau ternyata orang tuamu tidak mau menerima kehadiranku sebagai Kekasihmu? " tanya Hendra harap-harap cemas.


"Aku tidak peduli."


"Bagaimana kalau setelah tahu siapa aku, orang tuamu akan melarang hubungan kita?"


"Aku tidak peduli. Aku tetap mencintaimu dan aku akan tetap bersamamu!" tegas Rianti. "


"Apapun yang terjadi nanti Aku harap kau tetap yakin kalau cintaku kepadamu tulus dan suci. Begitu juga sebaliknya, aku pun berharap kiranya cintamu kepadaku tetap tulus dan suci meski apapun yang akan terjadi nanti."


"Aku janji, Rianti. Meski apapun yang akan terjadi, cintaku padamu akan senantiasa tulus, suci dan abadi untuk selamanya," jawab Hendra


"Jadi kau mau kan nanti malam datang ke rumah?" Rianti mendesak Hendra meminta kepastian.


"Insya Allah aku akan datang, Meski aku tidak yakin Apakah aku akan punya keberanian untuk menapakkan kakiku di rumahmu."


"Ingatlah aku, maka kau akan mendapatkan keberanian, Hendra."


"Ya."


Keduanya terus melangkah sambil mengobrol dengan sesekali bercanda Ria penuh rasa bahagia, walaupun di dalam hati Hendra merasa cemas. Apakah ia akan diterima di dalam keluarga Pak Wijaya sebagai kekasih dari putrinya yang bernama Rianti?.


Memang selama ini hubungannya sangat baik dengan keluarga itu namun hanya sebatas hubungan antara sahabat bukan sebagai kekasih dan kali ini berbeda, Hendra benar-benar merasakan debaran yang sangat kuat di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2