Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 85


__ADS_3

"Ah, masak, "


"Sungguh! Kalau tak percaya, tanya saja sama Lusi,"


"Aku percaya."


"Syukurlah."


"Kenapa kamu menyendiri di sini ?"


"Hah, Sebenarnya aku kurang suka


dengan suasana seperti ini."


"Kenapa?"


"A–tidak apa-apa, hanya kurang suka saja, kamu sendiri kenapa kemari?" Hendra balik bertanya.


"Entahlah, aku hanya merasa di ruang pesta suasana terlalu ramai." jawab Rianti Sejujurnya.


Rianti memang tidak begitu suka dengan suasana ramai, apalagi suasana pesta meskipun dimensionnya sendiri Rianti lebih memilih untuk berdiam diri.


Keduanya pun mengobrol, berbagai obrolan mereka tuturkan, sesekali disertai canda tawa. Bahkan saking asyiknya keduanya mengobrol, sampai-sampai keduanya bagai tak peduli dengan acara pesta yang tengah berlangsung. Dari obrolan itulah semakin lama keduanya menjadi semakin bertambah akrab


"Eh, kau lusi… !"


"Kalian kemari mau ngobrol berdua atau mau menghadiri acara pesta ulang tahunku? " tanya Lusi dengan wajah yang dicemberutin. Membuat Hendra dan Rianti saling pandang, kemudian kembali sama-sama tersenyum.


"Kalau kalian ingin ngobrol sendiri, sebaiknya jangan di sini."


"Marah nih ceritanya?" goda Riyanti.


Sebagai seorang kakak Rianti memang sering sekali menggoda adiknya, Lusi memang mudah tersinggung dan itu membuat Rianti semakin ingin menggodanya karena ekspresinya sangat menggemaskan.


"Iya, dong."


"Apa karena aku ngobrolnya sama Hendra?" Membuat Sepasang Mata Lusi melotot.


"Eh, Bicara apa kamu?!" sungut Lusi.


"Kamu berbicara sama siapapun Aku tidak akan marah karena saat ini kalian mengobrol di acara ulang tahunku makanya aku marah."


"Benar, kamu marah bukan karena cemburu? " goda Riyanti.


"Cemburu kenapa? " tanya Lusi dengan kening menurut lalu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Kamu kira aku sama Hendra punya punya hubungan istimewa, ya?"


"Begitulah."


Kembali Lusi tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Rianti, sebagaimana dirimu bagiku kau adalah Kakak sekaligus sahabat, begitu pun dengan Hendra dia juga sahabat. Tak lebih benar kan Hendra?"


"Aku sudah menjelaskannya, tetapi sepertinya Rianti tidak percaya," jawab Hendra.


"Dengar ya Rianti, kalau memang kamu suka sama Hendra silakan saja. Malah aku akan turut senang kok, karena sahabat dan kakakku yang baik bisa bersatu aku marah karena kalian ngobrol berdua di sini titik Padahal disini banyak teman yang lain. Ayo kalian ikut bergabung!"


Hendra dan Riyanti akhirnya tak bisa menolak. Maka keduanya pun meninggalkan tempat itu, menuju ke ruang tengah mention Lusi. Di mana acara pesta ulang tahun sedang dilangsungkan.


Setelah semua orang berkumpul di ruang tengah, acara pun dimulai. Dua orang MC tampil memandu dan membacakan susunan acara. Suasana yang semula ramai, seketika berubah menjadi tenang. Sepertinya semua yang hadir berusaha untuk mengikuti setiap bagian acara dengan sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan Lusii dan kedua orang tuanya.


Acara ulang tahun malam itu berlangsung dengan meriah dan sejak perkenalan mereka, sepanjang acara ulang tahun Lusi berlangsung, tampak Hendra dan Riyanti senantiasa berdekatan satu sama lain. Sehingga membuat keduanya seketika jadi pusat perhatian yang lain termasuk Lusi.

__ADS_1


Bisik-bisik pun mulai keluar dari mulut mereka, membicarakan keduanya. Ada yang berbisi kagum atas keserasian antara Hendra dan Riyanti di mana yang lelaki tampan sedangkan yang gadis cantik. Ada juga yang berbisik iri melihat keserasian keduanya.


Malam itu, sebenarnya banyak kesempatan bagi Hendra untuk mengungkapkan perasaan yang ada di hatinya pada gadis jelita yang penuh daya pesona itu. Namun, Hendra masih merasa bimbang dan ragu. Juga malu, tentu saja karena bagaimanapun juga mereka baru bertemu dan kenal. Rasanya kurang etis menyatakan perasaannya di hari pertama kali mereka bertemu.


Memang sih tidak ada yang melarang yang namanya cinta, bisa saja datang begitu tiba-tiba. Hanya lewat pandangan mata pertama saja, orang bisa jatuh cinta. Dan begitu pula yang dirasakan oleh Hendra apalagi tadi sewaktu mengelap bajunya yang basah pada bagian dada, Rianti senantiasa memandang ke wajahnya dengan Bibi tersenyum.


Sehingga kadang tangan Rianti yang memegang sapu tangan salah bergerak. Yang diusap bukan baju, melainkan dada Hendra. Mungkinkah itu pertanda, kalau Gadis penuh pesona itu memiliki perasaan yang sama sebagaimana yang dirasakan oleh Hendra? Entahlah. Hendra tidak tahu dan tidak berani menduga yang berlebihan.


Setelah acara pesta ulang tahunnya selesai dan kini tinggal dia seorang diri di dalam kamarnya, Lusi tampak duduk termenung di tepi ranjang tidurnya. Matanya memandangi kado-kado Hadiah ulang tahunnya yang bertumpuk-tumpuk di sekelilingnya.


Namun, sepertinya dia sama sekali tidak tertarik untuk membuka kado-kado itu. Lusi hanya duduk termenung. Matanya memang memandang ke arah tumpukan kado, namun pikirannya tidak terarah ke situ.


Pikirannya melayang jauh, berusaha menemukan seraut wajah milik seseorang yang baru kini ia sadari memiliki daya pesona yang luar biasa dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Hendra Setiawan.


Sekian lama dia dan Hendra menjalin hubungan persahabatan, Tepatnya semenjak dia dan Hendra bertemu di sekolah SMP yang saat itu Hendra adalah kakak kelasnya, bahkan saking eratnya hubungan persahabatan di antara mereka Lusi dan Hendra sudah seperti saudara sendiri.


Selama ini, walau sudah tidak satu sekolah pun Lusi dan Hendra masih sering bertemu. Namun, baru malam ini Lusi menyadari Betapa lelaki itu memiliki pesona yang luar biasa. Sehingga mampu menggerakkan hati setiap gadis yang melihatnya.


Dan Lusi pun merasakan getaran aneh itu, ketika tadi dia melihat Hendra. Bahkan, teman-teman ceweknya pun banyak yang menanyakan padanya, siapa adanya Hendra. Malah, teman-temannya menduga Kalau Hendra adalah pacarnya.


"Dia pacarmu Lusi?" tanya Benita.


"Tampan juga pacarmu Lusi," timpal sindi.


"Masa sih?" Balas putri sambil tersenyum.


"Suer! Kalau saja dia masih sendiri aku juga mau kok jadi pacarnya,"kata Benita lagi.


"Iya, aku juga mau kok." timpal Della


"Dia bukan pacarku," kata Lusi akhirnya.


"Dia adalah sahabat baikku ketika kami sama-sama di bangku SMP." lanjut Lusi.


"Kalau masalah itu sih aku tidak tahu,"


"Wah, kalau begitu masih ada kesempatan dong buat aku menggaetnya." ungkap Benita.


Kembali Lusi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan ucapan teman-teman yang tampak begitu antusias ingin sekali bisa berkenalan dengan Hendra.


Dan bukan hanya Benita, Cindy dan Bella saja yang memuji ketampanan Hendra. Tetapi hampir semua temannya yang cewek memberikan penilaian yang sama. Bahkan, Lusi tidak pernah menyangka kalau kakak kandungnya sendiri yaitu Rianti Wijaya, sepertinya juga menyukai Hendra.


Sehingga tadi, dia memergoki keduanya mengobrol penuh keakraban. Padahal mereka baru bertemu dan saling kenal. Bahkan Lusi juga melihat bagaimana tatapan mata Rianti pada Hendra. Tatapan mata yang begitu mesra. Malah, Lusi juga melihat Bagaimana tangan Riyanti mengusap dan membelaii dada bidang milik Hendra


Itulah yang kini membuat Lusi termenung. Hatinya gelisah dan resah, dia menyesal kenapa tadi dia tidak mengakui saja kepada teman-temannya, kalau Hendra adalah kekasihnya? Ah, andai saja dia tahu kalau hati-hati akan tertarik dan suka pada Hendra tentu dari semula dia akan menggandeng Hendra, untuk terus mendampingi dan selalu berada di sisinya. Sehingga tidak sendirian sampai akhirnya bertemu dan dengan Riyanti


"Bodoh! Sungguh Bodohnya Aku! " desis Lusi dengan perasaan kasar pada dirinya sendiri.


Lusi yang benar-benar tidak menyangka, kalau Rianti yang cantik dan menawan akan tertarik dan suka pada Hendra yang hanya penampilan biasa saja Bahkan pakaian di yang digunakannya pun sangat sederhana sekali.


Ya, Hendra memang tampan siapapun ceweknya pasti akan suka kepadanya. Dan itulah yang membuat Lusi kini benar-benar menyesal, karena tadi terlalu menjaga gengsi. Sehingga dia merasa enggan untuk mengakui antara sebagai teman dekatnya, apalagi menggandeng dan memperkenalkan Hendra kepada teman-temannya. Tadi, dia merasa akan mengacuhkannya, membiarkan Hendra seorang diri, sehingga akhirnya bertemu dengan kakaknya yaitu Rianti.


"Sial!" Lusi kembali merutuk pada dirinya sendiri. Kini setelah tampaknya Hendra juga suka pada Riyanti sebagaimana Gadis itu juga menyukai Hendra, Lusi baru menyadari berapa bodohnya dirinya. Padahal, Jika dia mau, justru dialah yang bisa dengan mudah mendapatkan Hendra. Karena selama ini dia dan Hendra berteman baik.


Malam pun semakin larut namun Lusi belum juga tertidur pikirannya masih melayang jauh memikirkan Hendra yang menyita seluruh ingatannya. Namun tidak dengan Rianti, Ia baru saja terlelap dan memimpikan wajah Hendra yang tampan rupawan, hadir di dalam mimpinya sedang menyatakan cinta kepadanya.


***********************************************


Keesokan harinya.


Ketika tiba di sekolah, Lusi menghampiri Rianti yang yang duduk di kelas 3 SMA Pelita, sedangkan Lusi masih duduk di kelas 1 SMA Pelita.


"Kak Rianti!"

__ADS_1


"Ya?"


"Nih, Ada surat…" ucap Lusi Seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna merah muda kepada kakaknya.


"Dari siapa?" tanya Rianti Seraya menerima amplop merah muda itu.


"Memangnya siapa yang kau inginkan?" tanya Lusi dengan wajah yang cemberut.


"Dari Hendra?" tanya Rianti berusaha memastikan sembari menatap ke wajah adik kandungnya.


"Siapa lagi? Kan itu yang kakak inginkan bukan?"


"Benarkah Dia mengirim surat untukku Lusi"


"Masih tanya, itu kan buktinya."


"Aku masih ragu,"


"Ragu bagaimana?"


"Jangan-jangan, Kamu sendiri yang nulis. Karena kamu tahu aku menyukainya, lalu kamu hendak mempermainkan aku dengan menulis surat ini namun kamu mengatas namakan Hendra."


"Huh, tidak usah ya? Untuk apa aku capek-capek nulis surat seperti itu? Tidak ada manfaatnya, lebih baik buat surat untuk cowok!" sambil mencibir.


"Kamu kan mengenal tulisanku kamu baca saja dan periksa, itu tulisanku atau bukan? "


Riyanti memperhatikan tulisan di sampul surat itu.


"Iya, bukan tulisanmu kok."


"Makanya, jangan asal curiga!" Sungut Lusi.


" Ya sudah aku minta maaf."


"Sudah sana pergi cari tempat yang tenang untuk membaca. Nanti keburu teman-teman datang dan tahu, kau baru Nyaho!"


"Baiklah terima kasih adikku yang cantik,"


Riyanti pun beranjak dari duduknya, ia bermaksud keluar meninggalkan kelas.


"Kamu mau ke mana?"


"Ke toilet."


" What? Untuk apa?"


" Ya, baca surat inilah."


"Gila! Masa baca surat cinta di WC?"


"Dii sana tidak ada yang mengganggu,"


"Kalau aku beritahu Hendra, dia pasti akan marah. Karena kamu tidak menghargainya."


"Mengapa begitu?"


"Karena kamu membaca suratnya di WC, tempat kotor dan najis!"


"Habis, di mana dong?"


"Dimana kek, di perpustakaan atau di buritan sekolah asal jangan di WC."


" Baiklah, Baiklah, aku mengerti sekali lagi terima kasih adikku sayang." Rianti pun bergegas pergi meninggalkan ruang kelas di mana Lusi berada untuk mencari tempat yang tenang dan tidak akan dilihat oleh teman-temannya untuk membaca surat itu.

__ADS_1


Di buritan sekolah, merupakan tempat yang aman. Rianti pun menuju kesana. Lalu setelah sampai diburitan sekolah, dan setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, Rianti yang sudah ingin tahu apa isi surat dari Hendra, segera membuka sampul surat, mengeluarkan isinya, badan-badan isi surat itu.


__ADS_2