
Sementara itu, setibanya dirumah. Lusi yang sedang dilanda kesedihan dan kekecewaan langsung masuk kedalam kamarnya. Kemudian menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu melemparkan tubuhnya keatas ranjang. Ia pun menangis, berusaha mencurahkan kesedihan hatinya pada bantal dan guling.
"Kenapa? Kenapa ini harus terjadi sama aku? Padahal aku yang sejak lama mencintainya, tapi kenapa justru Kak Rianti yang baru dikenalnya, yang akan mendapatkan cintanya?" keluh Lusi disela isak tangis kesedihan dan kekecewaannya.
Tiba-tiba seorang pembantu rumah yang memang bertugas melayani seluruh kebutuhan Lusi datang memanggilnya.
"Non… Non Lusi, tidak makan siang Non? "
"Aku tidak mau makan, aku tidak lapar!" teriak Lusi dari dalam kamarnya.
"Nanti Non, sakit."
"Biarkan saja, jangan ganggu aku!"
"Nanti Saya yang kena marah Ibu Non," terdengar suara Bi Inah menunjukkan rasa khawatir dan takut.
Sebab jika sampai Lusi menolak makan dan ibunya tahu, maka dirinyalah yang akan terkena omelan. Sebab ia yang bertanggung jawab mengurus dan melayani Lusi.
"Kalau Mama tanya, bilang saja aku sudah makan! Sudah pergi sana!" sentak Lusi dengan penuh kemarahan.
Akhirnya Bi Inah lebih memilih untuk diam.
"Aneh, Kakak beradik kok beda ya, tidak seperti Non Rianti yang orang nya kalem." gumam Bi Inah kemudian pergi dari depan kamar Lusi.
"Ah, mungkin Non Lusi sedang punya masalah dengan pacarnya, tapi, bukankah cowok yang dekat dengan Non Lusi hanya Mas Hendra, apakah benar dia orangnya? Aku rasa Mas Hendra lebih cocok dengan Non Rianti, lebih pas, Mas Hendra baik dan Non Rianti kalem, lebih cantik lagi." Bi Inah bergumam seraya berjalan pergi ke dapur.
Sampai malam tiba, dimana Ayah dan Ibunya pulang, Lusi masih saja uring-uringan. Hal yang selama ini belum pernah terjadi dan itu membuat semua orang orang yang tinggal di keluarga Wijaya menjadi tidak mengerti.
Tampak terlihat sekali kekhawatiran di wajah Rianti yang sejak tadi menunggu di depan kamar adiknya tersayang. Berkali-kali Rianti mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban dari Lusi.
"Lus… buka pintu nya dong, Aku mau bicara sama kamu!" Rianti masih saja berusaha memanggil adiknya, walaupun sudah beberapa kali tidak mendapatkan jawaban.
"Ada apa Ri? Kenapa dengan adikmu?" tanya Bu Netty yang saat itu baru saja pulang dari kantor nya.
"Tidak tahu Ma, dari tadi juga tidak mau buka pintu." jawab Rianti.
"Coba Mama tanyakan kepadanya, ada apa sebenarnya?" kata Pak Wijaya kepada istrinya.
"Ya, paling masalah remaja Pa," jawab Bu Netty menduga.
"Iya, tapi lebih baik Mama tanyakan dulu apa masalahnya, siapa tahu putri kita sedang membutuhkan bantuan kita sebagai orang tuanya." kata Pak Wijaya lagi.
Bu Netty menuruti perintah suaminya, ia segera mengetuk pintu kamar Lusi perlahan.
__ADS_1
"Lusi… kamu tidak makan?" tidak ada jawaban dari dalam.
"Lusi… boleh Mama masuk?" tetap tidak ada jawaban.
Ibu Netty perlahan memutar handle pintu kamar putrinya. Ternyata pintu kamar itu tidak dikunci, sehingga dengan mendorong sedikit, maka pintu kamar itupun terbuka. Bu Netty pun masuk, dan dilihat putrinya sedang rebahan di ranjangnya dengan posisi tengkurap dan wajah menengadah, memandang kearah dinding kamarnya.
Namun, dari raut wajahnya, tampaknya gadis itu sedang kesal dan sedih. Dan justru itulah yang tidak diketahui oleh seluruh orang yang ada di Mansion itu.
Setelah menghela nafas panjang, perlahan Ibu Neti menghampiri ranjang di mana putrinya berada. Kemudian duduk di tepi ranjang itu dekat dengan kepala putrinya. Lalu dengan lembut jari jemari nanti ke wanita itu yang masih tampak muda dan cantik dan terawat karena sebagai wanita karir Ibu nanti dituntut selalu tampil Anggun dan menawan, membelah rambut putrinya yang hitam dan bergelombang.
"Ada apa sih, sayang? Kenapa hari ini kamu tiba-tiba berubah? Mana keceriaan dan canda tawamu? Papa dan Mama serta yang lainnya kangen loh, karena kamu tidak menunjukkan kejadian sebagaimana biasanya,"
"Tidak apa-apa kok Ma, Lusi cuma sedang kesel aja, " jawab gadis itu.
"Kesel sama siapa? sama mama?" Lusi menggeleng.
"Lalu sama siapa?"
"Pokoknya Lusi cuma sedang kesal aja!" sahutnya Ketus.
"Iya, Mama tahu, tapi kesal pada siapa dan kenapa kamu kesal?"
"Lusi tidak bisa mengatakannya."
"Biarin saja!!" Sungut Lusi.
"Apa yang membuatmu kesal itu seorang cowok?"
Masih tidak menjawab, Dia hanya diam.
"Dia teman sekolahmu?" Lusi menggelengkan kepalanya.
"Anak sekolah lain?" Lusi mengangguk.
"Kamu menyukainya?"
Lusi tidak menyahut. menggeleng tidak, mengangguk juga tidak. Namun begitu, Ibu Netty sebagai ibu cukup mengerti. Tentunputrinya menyukai cowok itu. Namun dia tidak tahu, apakah cowok itu juga menyukai putrinya atau tidak tapi, Ibu Netty yakin tidak mungkin cowok itu tidak menyukai putrinya yang cantik ini. Ibu Netty yakin siapapun cowoknya, pastilah akan suka pada putrinya. Jadi, tutup persoalannya adalah, cowok yang disukai oleh putrinya, tidak tahu kalau putrinya menyukai cowok itu.
Dan karena tidak tahu, sehingga cowok itu pun tidak berani mengutarakan perasaannya pada putrinya lalu, mungkin putrinya menganggap cowok itu tidak menyukainya. Sehingga putrinya kesal atau, mungkin karena tidak tahu kalau Lusi menyukainya, cowok itu malah memilih cewek lain. Sehingga membuat putrinya kecewa.
"Cowok itu tidak membalas cintamu?" Lu si tetap diam dan diam.
"Cowok yang kamu sukai justru memilih gadis lain?" Terka Ibu Netty lagi.
__ADS_1
Masih tetap tidak menyahut Tetapi dia tampak menarik nafas panjang sembari memandang ke wajah ibunya dengan pandangan heran. Hatinya pun bertanya-tanya, 'Apakah mama tahu persoalanku? Tapi rasanya tidak. kalau mama tahu bahwa cowok itu adalah Hendra pastilah Mama akan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. nyatanya, Mama tidak menunjukkan hal seperti itu berarti mama cuma menduga-duga saja.'
"Mungkin kamu tidak berusaha menunjukkan sikap kalau kamu suka apa adanya, sehingga cowok itu pun akhirnya memilih gadis lain. Mama yakin, kalau kamu memberitahu padanya bahwa kamu menyukainya, Cowok itu pasti akan memilihmu. Namun karena kamu tidak memberitahu perasaanmu padanya, sehingga dia pun tidak tahu kalau kamu menyukainya, dan akhirnya dia memilih gadis lain. " Lusi tetap diam membisu.
"Apa kamu mau memberitahu pada Mama, Siapa cowok itu?"
"Tidak!" Tegas Lusi.
"Kamu tidak ingin Mama bantu?"
"Tidak, tidak usah aku bisa mengatasinya sendiri." tolak Lusi masih dalam kekesalannya.
Tak lama kemudian Rianti ikut menemui Lusi di kamarnya, Iya sangat khawatir tentang keadaan adiknya itu. Perlahan Rianti duduk di sebelah Lusi dengan lembut ia bertanya, "Ada apa? Mengapa kamu bersikap seperti ini? Apa ada yang salah dengan sikapku? Atau kata-kataku membuatmu sakit hati?"
Lusi terdiam Ingin rasanya ia berteriak kalau semua itu terjadi karenanya dialah yang membuat dirinya menjadi uring-uringan seperti itu, dialah yang menjadi penyebab dirinya menjadi kesal dan marah serta kecewa.
"Tidak Kak, ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, Aku hanya ingin sendiri. " Lusi masih tetap menyangkal.
"Tapi seharian ini kamu tidak makan, Aku khawatir kamu akan sakit. Dan jika kamu sakit siapa yang akan menemaniku ke ke sekolah? "
"Bukankah Kakak sudah punya teman? Maka ajaklah Teman kakak itu kemanapun Kakak pergi!" Meskipun banyak kan namun tetap saja kekesalan itu terlihat di wajah Lusi.
Mendengar ucapan adiknya, Rianti terdiam. Ia tidak ingin ibunya sampai mengetahui tentang hubungannya dengan Hendra, karena jika sampai Itu semua terjadi maka kemarahanlah yang akan ia terima. Karena kedua orang tuanya tidak ingin Ia menjalin hubungan dengan siapapun sebelum lulus sekolah karena kedua orang tuanya hanya ingin Riyanti dan Lusi serius dan fokus pada tugas di sekolahnya saja.
Ibu Netty melirik ke arah kedua putrinya secara bergantian Apakah masalah itu ada di antara mereka? Ataukah Rianti adalah gadis yang dipilih oleh cowok itu, sehingga membuat Lusi uring-uringan seperti itu.
"Kalian hanya berdua bersaudara, hiduplah yang rukun, dan jangan lebih mengedepankan emosi masing-masing. Karena sesungguhnya emosi itu hanya akan mencerai bagaikan di antara kalian dan menjadi Puncak masalah untuk kalian. Mama hanya ingin kedua Putri Mama hidup dengan akur saling menyayangi dan saling menghormati satu sama lain. Jadi Jika ada masalah Diantara Kalian selesaikanlah dengan baik-baik dengan menyimpan perasaan itu sendiri Karena berbagi itu jauh lebih baik. "
Mendengar ucapan ibunya Rianti maupun Lusi terdiam dengan menundukkan kepala, mereka membenarkan apa yang telah diucapkan oleh ibu mereka dan semua itu memang benar.
"Tiiidak Ma, Tidak ada masalah di antara kami. Bahkan setiap hari kami tidak pernah terjadi pertengkaran. " Lusi tetap berusaha menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
Namun, begitu juga dengan Rianti yang hanya menunduk terdiam membisu.
Ibu Lusi memandang kado putrinya secara bergantian ia memandang lekat ke arah wajah cantik kedua putrinya, keduanya memang sama-sama cantik dan sama-sama manis, tetapi Rianti jauh lebih cantik dan lebih manis daripada Lusi. Apalagi di pipinya terdapat lesung pipit yang semakin menambah senyumannya menjadi lebih menawan.
'Semoga saja, jika memang dugaanku itu benar, Semoga saja Riyanti bukanlah orangnya, orang yang telah dipilih oleh cowok itu dan membuat lusin jadi sakit hati.
Ibu Netty sadar, bahwa kedua putrinya telah beranjak dewasa. Tentu akan banyak hal-hal yang belum mereka ketahui akan terjadi di sekitar mereka.
"Baiklah, Mama ke kamar dulu. Mama masih harus mandi dan berganti pakaian rasanya capek sekali setelah seharian bekerja. Riyanti jagalah adikmu baik-baik. Dan Lusi Dengarlah semua perintah dari kakakmu dan jangan pernah membantah. "
"Baik ma," jawab keduanya serempak.
__ADS_1
Ibu Netty pun melangkah keluar dari kamar Lusi, ia pergi menemui suaminya dan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja karena Ibu nanti tidak ingin suaminya merasa khawatir dengan masalah yang terjadi di antara kedua putrinya.