Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 122


__ADS_3

Setelah beberapa saat mereka berbincang-bincang, akhirnya Ricard dan Septi mohon diri. Di karenakan waktu keberangkatan mereka akan segera tiba, tengah malam ini juga Ricard dan Septi akan berangkat ke dubai.


"Hati-hati Mbak, titip salam untuk Nenek Rima," ucap Alexa dalam pelukan Septi.


"Ya, terimakasih, kamu jaga diri baik-baik, jadikan aku orang pertama yang menerima kabar kelahiran bayimu," sahut Septi seraya mengusap air mata yang jatuh di pipi Alexa.


"Jangan menangis, kita pasti bisa bertemu kembali." lanjut Septi melonggarkan pelukannya.


"Mbak sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri, bagaimana mungkin aku tidak akan bersedih," tangis Alexa terisak-isak.


Bagaimanapun mereka saling menyayangi dan tidak ingin terpisahkan. Namun, perpisahan haruslah terjadi.


Ricard segera memberi kode kepada Septi untuk segera berangkat, membuat Alexa mau tidak mau harus melepaskan sahabatnya.


Alexa hanya bisa menunduk sedih ketika Septi keluar dari dalam kamarnya. Air matanya menyeruak begitu saja mengalir dengan derasnya.


Setelah kepergian Ricard dan Septi semua anggota keluarga kembali ke kamar masing-masing, mereka berniat untuk istirahat karena malam semakin larut.


Saga tersenyum bahagia ketika melihat Alexa yang tertidur pulas di atas brankar, tampak wanita itu sedang nyenyak tertidur.


Namun, yang sebenarnya Alexa hanya pura-pura tertidur, karena ia tidak ingin suaminya melihat kedua matanya yang telah mtzembengkak karena menangis.


Alexa dalam posisi miring ke samping sehingga membuat Saga tidak bisa melihat wajahnya.


"Selamat malam, sayang," bisik Saga di telinga Alexa, kemudian mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih.


'Selamat malam juga, sayang," balas Alexa namun hanya dalam hati.


kemudian Saga merebahkan dirinya di ranjang di samping brankar Alexa. Beberapa detik kemudian mulai terdengar suara dengkuran halus yang keluar dari mulut Saga yang telah terlelap.


Alexa meraba wajah Saga yang masih terlihat tampan walau sedang tertidur, tampak pria itu sedikit tersenyum. Entah apa yang yang dia mimpikan.


Di saat semua orang sedang tertidur dengan pulas nya, di saat itulah Alexa merasakan ada sesuatu yang terjadi kepada dirinya.


Alexa mengalami kontraksi, yang membuat perutnya mengeras dan rasanya sakit sekali.


Awalnya Alexa berusaha menahan rasa sakit itu, akan tetapi semakin lama rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Sehingga Membuat Alexa tidak mampu untuk menahannya lagi.

__ADS_1


"Saga, saga tolong aku, saga sakit sekali." tangannya berusaha menggapai tubuh suaminya yang sedang tertidur pulas di sampingnya.


Namun, pria itu tetap tidak bergeming, ia masih saja tertidur dengan pulas nya.


"Saga. Aaaaaa!" pekik Alexa ketika rasa sakit yang diakibatkan oleh kontraksi itu semakin menjadi-jadi sehingga membuat seluruh tubuhnya menegang.


Mendengar teriakan istrinya, barulah Saga terbangun dari tidur nya. Ia begitu terkejut ketika mendapatkan istrinya telah bercucuran keringat dan wajahnya pun terlihat pucat pasi dengan urat-urat yang menegang di sekitar wajahnya. Alexa terus mengaduh kesakitan.


"Ya, Tuhan. Apa mungkin kau akan melahirkan?" Saga mengamati gejala yang timbul pada istrinya adalah gejala seorang wanita yang akan melahirkan.


"Tapi, bukankah usia kandungannya baru tujuh bulan?" lanjut Saga bertanya-tanya.


"Entah lah, tapi rasanya benar-benar sakit sekali, mungkin anak kita akan lahir lebih awal," rintih Alexa.


"Baik aku akan segera menghubungi Dokter sari, bertahanlah." Saga segera meraih ponselnya di atas nakas dan mencari nomor ponsel Dokter Sari di kontaknya.


Setelah memberikan informasi kepada Dokter Sari, Saga segera membangun semua orang di rumah ndalem itu, ta terkecuali Kakek Syarifuddin pun ikut terbangun mendengar suara Saga yang seperti orang kebingungan.


Bagaimana tidak akan merasa bingung, dengan kondisi istrinya yang saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati.


Melihat istri dari cucunya mengaduh menahan rasa sakit yang sangat hebat, membuat Kakek Syarifuddin tidak tega melihatnya.


"Ambilkan segelas air!" perintah Kakek Syarifuddin kepada Tiara yang langsung bergegas mengambil segelas air di dapur.


Tak lama kemudian ia pun kembali dengan membawa segelas air ditangannya.


"Ini, Kek." Tiara menyodorkan segelas air itu kepada Kakek Syarifuddin.


"Terimakasih." Kemudian Kakek Syarifuddin segera membacakan do'a dan meniupkan nya kepada air itu tiga kali.


"Minumlah," ucap Kakek Syarifuddin kepada Alexa yang saat itu sedang mengaduh kesakitan, sedangkan Ibu Lalika memijat pinggangnya atas permintaan Alexa.


Ibu Lalika membantu Alexa meminum air itu.


Dan beberapa detik kemudian atas izin Allah, Alexa merasakan sesuatu yang keras akan keluar dari arah bawah tubuhnya.


Melihat hal itu, Mbok Mirah yang memang menginap malam itu segera berniat membantu Alexa.

__ADS_1


"Terlentang lah, dan renggangkan kedua kakimu," pinta Mbok Mirah kepada Alexa yang saat itu masih dalam posisi tidur miring ke samping menghadap ke arah Saga yang duduk di tepi brankar.


Alexa menurut apa yang dikatakan oleh Mbok Mirah, karena memang selama masih di desa, Mbok Mirah sering membantu tetangganya yang akan melahirkan, termasuk Bu Rianti dulu.


Semua orang disuruh keluar dari kamar itu hanya tinggal Saga dan Mbok Mirah.


"Tarik nafas, hembuskan," perintah Mbok Mirah.


Alexa pun menurut.


Mbok Mirah mengamati jalan lahir.


"Kepalanya sudah semakin terlihat, cepat dorong yang kuat!" Mbok Mirah memberi arahan kepada Alexa.


Dengan sekuat tenaga Alexa mengejan dengan kuat sehingga membuat seluruh tubuhnya menegang dan keringat dingin mulai berbulir-bukir di permukaan kulitnya.


"Sekali lagi, dorong lebih kuat."


Alexa kembali menurut, melihat perjuangan istrinya yang sedang berusaha melahirkan buah hatinya tanpa di sadari membuat Saga menangis. Ia merasa tidak tega melihat istrinya tersiksa, apalagi selama kehamilan nya Alexa memang sangat tersiksa.


Alexa mengambil nafas panjang, kemudian mengejan untuk yang kesekian kalinya. Ia mendorongnya lebih kuat lagi ketika merasa bayinya mulai menyeruak miliknya di bawah sana.


Dan pada detik berikutnya, terdengar suara tangis bayi yang lantang memenuhi ruangan kamar itu.


"Oeekk… oeekk… oeekk…."


Suara tangis itu membawa kebahagiaan bagi semua orang terlebih lagi Saga dan Alexa.


"Alhamdulillah, terimakasih sayang," bisik Saga di telinga Alexa seraya mencium pipi dan puncak kepala istrinya berkali-kali.


"Selamat, anak kalian telah lahir Saga, Alexa," ucap Mbok Mirah yang saat itu juga meneteskan air mata karena teringat akan Bu Rianti dulu. Dadanya terasa sesak, ketika mengingat orang yang telah ia anggap sebagai adiknya, telah lama tiada.


"Cucumu telah terlahir dek, dia sangat cantik seperti Ibunya," lirih Mbok Mirah yang tidak didengar oleh Alexa dan Saga.


"Selamat ya, bayi kalian perempuan dan sangat cantik dan sehat," ucap Mbok Mirah kemudian.


Mendengar hal itu tidak terukur kebahagiaan yang dirasakan oleh sepasang suami-istri itu, tampak sebuah senyum merekah di bibir mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2