
"Kau kenapa?" Ricard menyentuh dagu Alexa dengan lembut dan membuat wajah mereka saling bertatapan.
Ricard mengusap air mata yang menggenang di sudut mata Alexa seraya berkata, "Jadikan aku sebagai penawar rasa sedih didalam hatimu," pinta Ricard serius.
"Maksudmu?" Alexa menarik wajahnya sedikit kebelakang, membuatnya terlepas dari sentuhan tangan Ricard.
"Aku mencintaimu, aku ingin melamarmu." Ricard benar-benar serius dengan perkataannya.
Alexa memalingkan wajahnya, menghempaskan pandangan diantara rerumputan yang terhampar luas.
"Jangan, aku tidak seperti apa yang kau pikirkan. Banyak kekurangan dalam diriku, dan aku yakin kau pasti bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku." Alexa menolak, bukan tanpa alasan ia hanya belum siap untuk menjalin hubungan kembali, setelah apa yang dialaminya selama ini.
"Apapun kekuranganmu, aku siap menerimanya."
"Aku janda!" suara Alexa sedikit ngegas.
Sejenak membuat Ricard tertegun, ia hampir tidak percaya wanita secantik dan setangguh Alexa adalah seorang janda.
"Aku tidak peduli, aku yakin pria yang telah meninggalkanmu pasti akan menyesal, dan aku berterima kasih kepadanya, karenanya kita dipertemukan."
Alexa terdiam, haruskah ia senang atau bersedih, jujur di dalam hatinya ia masih sangat mencintai Saga. Seberapapun Alexa mencoba untuk melupakan Saga. Namun, wajah pria itu selalu hadir dan lekat di dalam ingatannya.
"Eyang dan nenekku sengaja mendekatkan kita, karena mereka ingin menjodohkan kita berdua," jelas Ricard.
"Apa?" kedua mata Alexa melotot, sulit mempercayai apa yang ia dengar.
"E… maksudku… ," Ricard tergagap karena telah keceplosan.
"Sudah sore, aku pulang dulu!" ucap Alexa seraya bangkit dari duduknya.
Entah mengapa kini ia mulai merasa tidak nyaman dekat-dekat dengan Ricard.
"Alexa, tunggu! Aku benar-benar serius dengan ucapan ku tadi, aku harap kau akan memberikan jawaban yang menyenangkan." Ricard sedikit memaksa.
"Maaf, untuk saat ini aku masih belum memikirkan kearah itu, aku masih fokus dengan skripsi yang harus kubuat, aku harus lulus dengan nilai tinggi." jawab Alexa mengalihkan pembicaraan.
"Semangatlah, aku yakin kau pasti bisa!" Ricard sepenuhnya mendukung pendidikan Alexa.
Berkat dirinya Alexa bisa lompat semester. Ia bisa menyelesaikan masa kuliahnya hanya dalam lima semester.
"Terima kasih, semua berkat dirimu."
Kemudian Alexa berlalu meninggalkan Ricard yang menatap punggung Alexa dari belakang. Kemudian ia berseru, "Alexa! Ku tunggu jawabanmu!"
Alexa berbalik badan sebentar dan tersenyum manis, kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
"Apapun statusmu, aku siap menerima apa adanya." gumam Ricard memantapkan hatinya.
__ADS_1
DREEETTT.
DREEETTT.
DREEETTT.
Ponsel Ricard bergetar.
"Hallo!" Ricard mengangkat panggilan di ponselnya.
"Ok, langsung saja ke mansionku!" kemudian Ricard menutup panggilan telepon.
"Saga, akhirnya kita akan bertemu!" Ricard tersenyum sendiri membayangkan pertemuan dengan sahabatnya.
"Sekarang kau pasti telah jauh berubah, terakhir kita bertemu saat kita wisuda bersama."
Ricard merasa senang, akhirnya ia akan bertemu kembali dengan sahabat karibnya. Sebuah senyum lebar terukir di bibirnya yang seksi.
***********************************************
"Hai, Bro!" sapa Saga ketika telah tiba dimension Ricard.
"Hai, wah, wah! Tambah ganteng saja," sahut Ricard lalu memeluk sahabatnya dengan erat.
Memang, Saga selalu tampil khas dengan gayanya yang cool.
"Bagaimana kabarmu dan keluarga?" tanya Saga ketika pelukan mereka terlepas.
"Baik juga!" jawab Saga, kemudian meraih ponselnya karena terdengar dering notifikasi chat masuk.
"Wah, sudah punya jagoan?" Ricard melihat foto anak kecil laki-laki sedang memeluk Saga.
Saga tersenyum kemudian berkata, "Ya, begitulah!"
"Kau sendiri bagaimana?" Saga melanjutkan dengan bertanya.
"Ada! Tapi masih dalam proses perjuangan." Ricard cengar-cengir.
"Perjuangan?"
"Susah sekali mendapatkan hatinya, padahal kami bersama telah dua setengah tahun." jawab Ricard.
"Pasti orangnya special,"
"Cantik, baik pokoknya sempurna!" Ricard membayangkan wajah Alexa.
"Ya, ya, percaya!"
__ADS_1
Kemudian terdengar langkah kaki dari dalam mansion.
"Saga! Kapan datang? Ayo masuk!" Nenek Rima merasa senang melihat Saga berkunjung ke mansion nya.
"Baru saja nek!" jawab Saga kemudian memeluk nenek Rima.
"Bagaimana kabar Oma mu?"
Saga terdiam, dengan raut wajah yang terlihat sedih ia berkata, "Oma meninggalkan Nek, dua setengah tahun yang lalu."
"Oh, aku turut berduka." Nenek Rima juga ikut bersedih.
Selama beberapa hari Saga akan menginap di mansion Ricard. Ada urusan bisnis yang harus ia selesaikan bersama dengan Ricard. Ya, Saga mulai bekerja sama dengan perusahaan Ricard.
Saat ini mereka sedang berbincang-bincang di ruang tamu, saling melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu.
"Lama tidak bertemu kau telah jauh berubah Saga." ucap Robert, ayah dari Ricard.
"Ya, aku juga merasakan hal yang sama, senyummu seperti sedikit dipaksakan, tidak lepas seperti dulu." sahut Liana, ibunya Ricard.
"Sepertinya kau telah memiliki masalah yang kau pendam sendirian, ceritalah! Kami akan menjadi pendengar yang baik untuk mu!" Robert menimpali.
Saga terdiam, ia tidak tahu haruskah ia bercerita tentang semua masalah hidupnya atau menyimpannya sendiri seperti yang selama ini ia lakukan.
"Semua baik-baik saja, ya memang ada sedikit masalah, tapi aku bisa mengatasinya sendiri." jawab Saga berusaha menyembunyikan apa yang sedang dirasakannya saat ini.
"Syukurlah jika begitu, aku hanya tidak ingin sahabatku yang tampan ini, gantung diri karena terlalu banyak masalah, hehehe…"
"Sialan! Kau pikir aku laki-laki macam apa, segampang itu bunuh diri!" sergah Saga yang kemudian tersenyum karena melihat Ricard yang cekikikan.
Keakraban kembali terasa di antara keluarga Ricard dan Saga, walaupun hanya orang luar yang tidak memiliki hubungan darah sedikit pun, kebersamaan mereka sangat hangat terasa.
"Beruntung kau ada disini, jika urusan bisnis kalian telah selesai, jangan terburu-buru pulang, karena sahabatmu ini akan segera melepas masa lajangnya." ucap Nenek Rima.
"Oh ya, beruntung sekali diriku, bisa menghadiri acara istimewa dalam hidupmu," Saga menepuk pundak Ricard.
"Ya, karena aku akan segera menyusulmu menjadi Ayah!"
"Jadi, kau sudah punya anak? Wah, selamat ya…!" Robert.
"Laki-laki atau perempuan?" Liliana.
"Laki-laki, sudah berumur kurang lebih empat tahun," jawab Saga kalem, berusaha untuk terlihat bahagia walau sebenarnya ia tidak sedang merasa bahagia.
Jujur, walaupun ia menjadi seorang Ayah, hidupnya tidak pernah merasakan kebahagiaan, karena ia tidak memiliki ikatan batin dengan Sakti. Ya, anak laki-laki yang dilahirkan oleh Tiara diberi nama Sakti (Saga dan Tiara).
Saga terpaksa mengakui sebagai putranya karena tes DNA yang membuktikan bahwa Sakti adalah darah dagingnya. Namun, perasaannya menolak akan hal itu.
__ADS_1
Lagi pula tidak ada ikatan batin seperti kebanyakan hubungan antara Ayah dan anak pada umumnya, Saga hanya merasa biasa saja. Menerimanya sebagai anak hanya karena hasil tes DNA semata.
Dan, tentang hubungannya dengan Tiara, jangan ditanya lagi, mereka tidak pernah berhubungan sama sekali. Apalagi semenjak kepergian Alexa dari dalam hidupnya, Saga merasakan ada sesuatu yang bilang darinya.