
"Tidak apa-apa Mbok, lupakan saja semua itu," sahut Saga dengan senyum ramah.
Namun, tiba-tiba saja Raffi, karyawan kepercayaan Saga angkat bicara.
"Tuan, beberapa hektar tanah desa ini telah dijual kepada kita, dan posisinya tepat berada di belakang pekarangan rumah ini tuan!" ucap Raffi dengan sengaja menyinggung perihal masalah itu, untuk mengetahui bagaimana reaksi Mbok Mirah selanjutnya.
Dan, tentunya atas permintaan dari Saga. Karena pria ini sangat totalitas dalam pekerjaannya, ia tidak ingin menunda-nunda waktu. Jika ada kesempatan, mengapa tidak ia lakukan.
"Terus, bagaimana langkah kita selanjutnya?" Saga berpura-pura tidak tahu-menahu tentang hal itu.
Saga melirik dengan ekor matanya ke arah Mbok Mirah yang ikut menyimak perbincangan itu. Sedangkan Alexa yang tidak memahami taktik strategi yang direncanakan oleh suaminya, hanya diam sembari ikut menyimak.
"Tidak ada rencana apapun tuan, selain membiarkan tanah itu terbengkalai begitu saja, lagi pula jalan satu-satunya menuju lokasi tanah itu hanyalah dengan melewati pekarangan rumah ini tuan." jawab Raffi panjang lebar.
"Karena sebuah pabrik besar seperti yang akan kita bangun, sangat memerlukan jalur transportasi untuk menunjang perkembangannya." lanjut Raffi, sebenarnya kata-kata itu adalah milik Saga, hanya saja, Saga menunjuk Raffi untuk mengatakannya, agar ia tidak terkesan memaksa.
Memang, tidak ada lagi jalan untuk menuju lokasi tanah tersebut, kecuali dengan menjadikan pekarangan Mbok Mirah sebagai landasan jalur transportasi, jika di tempat itu telah dibangun sebuah pabrik.
Mbok Mirah yang mendengarkan dengan seksama, seakan mengerti betapa pentingnya jalur transportasi untuk perkembangan sebuah pabrik.
Dan, jika saja tanah miliknya itu tidak dijual juga, maka akan dapat dipastikan kalau pembangunan pabrik itu tidak akan pernah terjadi.
Mendengar hal itu, dengan berat hati Mbok Mirah terpaksa merelakan tanah miliknya untuk dijadikan jalur transportasi.
"Maaf, nak Saga kalau boleh Mbok ingin mengusulkan," ucap Mbok Mirah tiba-tiba.
"Ya, silahkan Mbok." jawab Saga mempersilahkan.
"Saya rela jika memang tanah ini, bisa membantu pekerjaan nak Saga," tutur Mbok Mirah dengan suara parau. Masih terasa sedikit sesak di dadanya untuk mengatakan hal itu.
"Maksud Mbok, apa?" Saga masih dalam sandiwaranya. Walaupun sebenarnya jauh didalam hati, ia tersenyum penuh kemenangan, rencananya berhasil.
__ADS_1
"Saya pasrahkan saja kepada nak Saga, akan dijadikan apa tanah ini, lagi pula Mbok akan ikut dengan nak Saga dan juga Alexa bukan? kalau begitu terserah nak Saga saja mau diapakan tanah ini." sahut Mbok Mirah bersungguh-sungguh.
Sungguh didalam hati Saga bersorak gembira, rencana yang ia susun dengan rapi ternyata berjalan mulus. Tidak sia-sia Saga menikahi Alexa.
"Baiklah, jika memang itu keinginan Mbok, aku berjanji akan memanfaatkan tanah ini sebaik mungkin!" janji Saga kepada Mbok Mirah.
Mbok Mirah dan Alexa sama-sama tersenyum, sebuah senyuman ketulusan yang terpancar dari wajah mereka. Lain halnya dengan Saga, ia merasa sangat puas. Saga menarik salah satu sudut bibirnya keatas, menampilkan sebuah seringai yang menyeramkan.
Dengan dibantu oleh Alexa, akhirnya Mbok Mirah selesai membereskan beberapa potong pakaiannya, yang kemudian ia masukkan kedalam sebuah tas kecil terbuat dari kain.
"Sudah siap?" tanya Saga ketika melihat keduanya telah keluar dari kamar Mbok Mirah.
"Sudah!" jawab Alexa dengan penuh bahagia, akhirnya ia akan ada yang menemani berada di mansion Saga.
Tiba-tiba mbok Mirah menyerahkan sesuatu yang ia ambil dari dalam kamarnya kepada Saga. Dengan kedua mata yang terbelalak, Saga menatap map berwarna coklat di tangannya.
Setelah itu mereka kembali ke kota dengan membawa Mbok Mirah bersamanya.
*********************************************
Di mansion Saga.
Semua orang yang tinggal di mansion itu, merasa heran, karena Saga dan Alexa datang dengan membawa seorang wanita tua bersama mereka.
Mereka bertiga mulai memasuki mansion .
Terutama Oma Hesti, ia memicingkan kedua matanya, memperhatikan Mbok Mirah.
"Mbok Mirah, kaukah itu?" tanya Oma Hesti dengan sedikit ragu.
"Ya, nyonya ini Saya, Mbok Mirah." jawab Mbok Mirah.
__ADS_1
Sebenarnya sejak mobil yang mereka tumpangi, berbelok di pertigaan jalan beberapa menit yang lalu. Mbok Mirah seperti teringat sesuatu ketika ia bekerja di kota metropolitan itu.
"Tidak kusangka kita akan bertemu kembali, " ucap Oma Hesti, lalu memeluk Mbok Mirah dengan penuh kegembiraan.
"Kemana saja kau Mbok, mengapa tidak kembali ke mansion ini?" Oma Hesti kembali bertanya. Serta membuat semua orang yang berada di sana, merasa bingung.
Ya, dua puluh lima tahun yang lalu, Mbok Mirah bekerja sebagai pelayan di mansion mewah itu. Ia bekerja cukup lama, kira-kira sepuluh tahun sebelum ia pulang karena mendapat kabar berita bahwa anak dan suaminya sakit keras.
Uang hasil kerja kerasnya pun habis untuk biaya berobat anak dan suaminya. Tak hanya itu, setelah Mbok Mirah benar-benar tidak memiliki uang, anak dan suaminya meninggal dunia di waktu yang sama, hingga membuat Mbok Mirah merasa sangat terpukul.
"Maafkan Saya nyonya, Saya tidak kembali ke mansion ini, karena Saya benar-benar merasa sangat kehilangan anak dan suami Saya." jawab Mbok Mirah mengenang masa-masa pilu itu.
"Sudahlah lupakan semuanya, sekarang kita sudah kembali bertemu, oh iya, Mbok telah lama mengenal Alexa?" tanya Oma Hesti, yang merasa heran, bagaimana mungkin Alexa putri dari seorang pengusaha bisa kenal dengan Mbok Mirah.
Akhirnya mau tidak mau Mbok Mirah menceritakan tentang masa lalu yang kelam, masa lalu yang membuat Bu Rianti merasa sangat tersiksa, bahkan hingga di akhir hayatnya Bu Rianti masih merasa sangat terluka.
Oma Hesti yang saat itu sedang duduk bersama Alexa, dapat merasakan bagaimana menderitanya Alexa saat dulu.
"Kasihan sekali, karena keegoisan Ayahmu, kau menjalani kehidupan yang penuh penderitaan." ucap Oma Hesti seraya mengelus kepala Alexa dengan penuh kasih.
"Sudahlah, Oma, kita lupakan saja masa lalu, lebih baik sekarang kita fokus menata masa depan yang lebih baik," sahut Alexa dengan senyum tipis dibibirnya.
Barulah Saga mengetahui siapa Alexa yang sebenarnya, seorang gadis yang telah melalui begitu banyaknya rintangan hidup, di usianya yang masih sangat muda, seharusnya Alexa mendapatkan pendidikan yang tinggi saat ini. Namun, apa yang telah didapatkan, hanya sebuah pengorbanan, dan pengorbanan yang harus ia lakukan.
"Kalau begitu, Saga ke kantor dulu, Oma, Mbok!" ucap Saga lalu beranjak pergi dari tempatnya, karena Raffi telah terlalu lama menunggunya di dalam mobil.
Oma Hesti memang bisa menerima kenyataan bahwa Alexa bukanlah seperti
Apa yang mereka pikirkan selama ini, tetapi lain halnya dengan Raisya, kini ia mulai merasa insecure dengan keberadaan Alexa diantara mereka.
Raisya menganggap, Alexa sebagai benalu di dalam kehidupan adiknya.
__ADS_1