
Usai salat asar seorang santri menemui Pak Kyai Syarifudin yang sedang duduk berdzikir di mimbar masjid itu, santri itu adalah Asep yang sebelumnya menyambut kedatangan Saga dan Bu Lalika.
"Punten Pak Kyai, ada tamu sedang menunggu Pak Kyai di dalem, " ucap Asep dengan sopan serta menundukkan kepalanya penuh hormat.
"Tamu siapa?" Tanya Pak Kyai Syarifudin tanpa menghentikan bacaan tasbihnya. Lisannya masih komat-kamit membaca wiridan.
"Itu Pak Kyai aden Saga datang bersama seorang ibu-ibu saya tidak tahu ibu itu siapa, " tutur Asep.
"Saga? Cucuku maksudmu?" Tanya Pak Kyai Syarifudin Seraya menghentikan wiridannya, wajahnya tampak berseri-seri memancarkan suatu kebahagiaan.
"Benar Pak Kyai, aden Saga cucu sampean datang sekarang sedang menunggu sampean di ruang dalem," jawab Asep tetap dengan sopan.
Tanpa berpikir panjang lagi Pak Kyai Syarifudin langsung bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju ke ruang dalem, di mana Saga dan Bu Lalika telah menunggunya di ruangan itu.
"Kakek, apa kabar? kakek baik-baik saja kan?" Tanya saga ketika melihat Pak Kyai Syarifudin memasuki ruangan itu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Ucap pak Kyai mengucapkan salam kepada Saga dan Bu Lalika.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Lalika menjawab salam dari Pak Kyai. Yang diikuti oleh Saga dengan sedikit malu-malu. Saga telah melupakan kebiasaan baik yang pernah diajarkan oleh kakek nya sewaktu kecil.
"Rupanya cucuku sudah dewasa, Di mana Kakakmu mengapa dia tidak ikut?" Tanya Pak Kyai Syarifudin sambil melihat-lihat ke belakang Saga, berharap Raisya cucu kesayangannya ikut bersama mereka mengunjungi dirinya.
__ADS_1
" Kak Raisya tidak bisa ikut kek" jawab Saga sedikit kebingungan entah harus dengan alasan apa agar kakek nya tidak curiga.
Pak Kyai Syarifudin menatap kedua mata Saga dengan intens seakan ia berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dari tatapan cucunya itu. Pak Kyai Syarifudin termasuk salah seorang yang memiliki indra keenam, beliau bisa mengetahui apapun yang terjadi dan yang tidak terjadi di masa ini maupun di masa mendatang hanya dengan melihat dari tatapan mata.
" Perbanyaklah beribadah, dekatkan dirimu kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar dirimu mendapatkan ketenangan jiwa dan hatimu" ucap pak Kyai Syarifudin yang langsung menasehati cucunya.
Pak Kyai Syarifudin duduk di kursi, kemudian ia berkata lagi" Raisya cucu kesayanganku telah berbuat nekat, hingga dia tidak lagi memikirkan tentang norma-norma kehidupan dan tata Susila." Terlihatlah raut wajah Pak Kyai Syarifudin yang sedih.
"Dari mana kakek tahu?" Tanya Saga keheranan, padahal Ia belum menceritakan apapun kepada kakeknya.
"Anak nakal, kau ingin membohongi kakekmu? Apa kau sudah lupa kalau Kakekmu ini bisa menerawang jauh apa yang telah kalian lakukan di masa ini, di masa lalu serta apa yang akan kalian lakukan di masa yang akan datang" Pak Kyai Syarifudin.
"Kedatanganku ke sini ingin menitipkan mama untuk tinggal di sini sementara waktu, sampai aku mendapatkan rumah untuk tempat tinggal kami." Tutur Saga.
"Mama ini istri kedua dari papa, tapi mama orang yang baik dia yang mengasuhku hingga aku dewasa," jawab Saga.
"Baiklah, kalian berdua bisa tinggal di sini semau kalian, apalagi jika kau Saga ingin menggantikan posisiku untuk mengurus Pesantren ini kakek akan merasa sangat bahagia sekali, kau lihat sendiri kan kakekmu ini sudah tua" Ucap pak Kyai Syarifudin beliau sangat berharap Saga akan bersedia menggantikan dirinya sebagai pengasuh pondok pesantren tersebut.
Saga tertawa terkekeh mendengar permintaan kakeknya kemudian ia berkata,"Hehehe…Kakek ini ada-ada saja, bagaimana mungkin Saga yang minim ilmu agama bisa menjadi pengasuh pondok pesantren yang ada nanti para santrinya kabur semua," ucap Saga berusaha menolak dengan halus. Walaupun memang benar adanya ia minim ilmu.
Ya, bagaimana mungkin seorang pria yang minim ilmu agama bisa menjadi seorang Kyai. Kecuali Ia mau menuntut ilmu agama dengan serius maka semua bukanlah rintangan.
__ADS_1
"Maaf kek sepertinya cucu kakek tidak berbakat jadi Kyai, tapi aku lebih suka menjadi seorang mafia yang ditakuti di setiap kalangan musuh." Ucap saga lagi.
Mendengar penuturan cucunya membuat Pak Kyai Syarifudin geleng-geleng kepala. Memang Saga mewarisi sifat keras kepala dari ayahnya yang hanya melakukan apa yang telah menjadi kesenangannya. Namun, hatinya juga lembut, selembut hati almarhumah ibunya yang tidak bisa melihat orang lain kesusahan maka Saga akan membantu orang itu.
"Kau memang tidak pernah berubah dari kecil hingga sekarang, Kau masih saja berkeras hati ingin menjadi seorang mafia, asal kau tahu menjadi seorang Kyai atau tokoh ulama itu jauh lebih mulia." Nasehat Pak Kyai Syarifudin kepada cucunya.
Sedangkan Bu Lalika hanya menyimak perbincangan di antara dua orang itu, Bu Lalika seolah berusaha meresapi setiap perkataan dari Pak Kyai.
"Benar apa yang dikatakan Pak Kyai, Saga. Lebih baik menjadi seorang tokoh ulama daripada menjadi seorang mafia yang di setiap detik kehidupannya selalu terancam bahaya." Ucap Bu Lalika kepada Putra tirinya.
"Maaf Ma, kakek. Saga benar-benar tidak bisa karena ini bukanlah skill Saga, mungkin lebih baik jika kakek mengangkat salah satu dari santri kakek untuk menjadi pengasuh Pesantren ini agar kakek tidak terlalu lelah." Ucap Saga beralasan karena memang ia tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi seorang tokoh ulama
"Oh iya, kakek, aku harus segera perg,i ada tanggung jawab yang harus aku penuhi untuk diriku dan negara ini" ujar Saga Seraya mencium tangan kakek dan Bu Lalima secara bergantian.
"Haruskah secepat ini Saga? Kakek masih sangat merindukanmu, " gumam Pak Kyai Syarifudin dengan memancarkan Aura kesedihan di wajahnya.
"Tenanglah kakek,mama. Saga pergi hanya sebentar Setelah semuanya selesai saga akan kembali lagi ke pesantren ini untuk menjemput Mama," jawab Saga.
Kemudian Saga berpamitan kembali, hanya dari kedua orang itu ia bisa mengharapkan doa dan Ridhonya, agar semua tugas dan tanggung jawabnya berjalan dengan lancar tanpa hambatan suatu apapun.
"Hati-hati Saga, doa kakek akan selalu menyertaimu, " saran Pak Kyai Syarifudin sebelum Saga pergi meninggalkan Pesantren itu.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Saga pun pergi meninggalkan pesantren itu dan kedua orang yang sangat ia sayangi di dalamnya. Karena tugas dan tanggung jawabnya harus dipenuhi terlebih dahulu. Sebagai seorang pemimpin geng mafia Saga harus bersikap profesional dalam menjalankan tugas-tugasnya.