
"Mama!" seru Rian ketika melihat sosok Ibunya yang ia rindukan selama ini.
"Rian, putraku," balas Bu Lalika lalu memeluk Rian dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Duduklah, Mama akan mengambilkan kompres untuk mu," lanjut Bu Lalika lalu pergi kebelakang.
Dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Rian duduk di sebuah sofa panjang dengan kedua kaki berselonjor. Tampak di beberapa bagian tubuhnya terdapat tanda lebam akibat dari pukulan para santri yang mengira dirinya sebagai maling.
Rian melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan ia tertunduk ketika melihat Alexa juga berada didalam ruangan itu. Alexa memandangnya dengan tajam, mengingat pria itu yang pernah menculik dirinya.
Namun, di tengah rasa marahnya ia juga harus menolong Rian hingga ia tiba di indonesia kembali.
Sebenarnya Alexa datang ke pondok pesantren itu bukan hanya untuk menjenguk Sakti, melainkan karena ia telah mendapat informasi bahwa Rian akan pulang malam itu juga, dan Alexa lah yang memberikan alamat nya.
"Dari mana kau tahu alamat pesantren ini?" tanya Saga yang merasa heran, bagaimana mungkin Saudaranya bisa mengetahui alamat itu, sedangkan dirinya belum pernah mengatakan apapun kepadanya. Bahkan menghubunginya pun belum pernah.
"D-dari Alexa kak," jawab Rian dengan tersendat-sendat.
Sontak jawaban itu membuat Saga terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arah Alexa.
"Terimakasih Alexa, kau telah membantu adikku," ucap Saga dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Menurut Saga Alexa tidak hanya cantik tetapi ia juga sangat peduli dengan orang lain.
"Ya, sama-sama bukanlah dia dulu pernah menjadi adik iparku? Adik ipar yang sangat baik bahkan dia rela menculik diriku hanya demi kepentingan dirinya saja," ucap Alexa yang memang telah tidak sabar ingin melihat Rian menjelaskan kepada keluarganya, apakah ia akan setegas saat menculik dirinya dulu, ataukah sebaliknya.
"Apa?!" pekik Bu Lalika yang baru saja kembali dari dapur mengambil es balok untuk mengompres lebam di wajah dan tubuh putranya.
"Jahat sekali kau Rian, Mama tidak pernah mengajarkan itu semua kepadamu, Mama selalu berpesan agar kau menjadi orang yang baik!" sentak Bu Lalika dengan penuh rasa kecewa.
"Maafkan Rian Ma, Rian khilaf sekarang aku menyesal." Rian menundukkan kepala, ia benar-benar merasa malu.
"Bukankah anak buah Irwan yang telah menculik Alexa," tukas Saga yang merasa aneh, karena setahu dirinya yang menculik Alexa adalah anak buah Irwan.
"Ayo, Rian jawab?" Desak Alexa, ia benar-benar ingin mendengar pengakuan dari Rian.
"Ya, aku lah yang menculik Alexa dari apartemen nya, lalu memberikan Alexa kepada anak buah Irwan.
Saga yang baru pertama kalinya mendengar bahwa Rian lah orang yang telah melakukan penculikan itu, mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Dan.
BUGGHH.
Satu tinjunya mendarat di wajah Rian semakin menambah Lebam diwajah itu.
Rian terpekik dengan keras, namun tidak berani melawan.
Karena teramat kesal Saga ingin melayangkan satu tinjunya lagi, tetapi Alexa segera menangkap tangannya dan kemudian berkata, "Jangan Saga, jangan lagi kau sakiti dia,"
"Lepaskan aku Alexa! Aku akan memberi pelajaran kepada anak tidak tahu diri ini, sudah cukup selama ini dia mempermainkan hidupku maka aku tidak akan pernah membiarkan dia mempermainkan dirimu," wajah Saga merah padam karena marah. Rahangnya mengeras dengan geraham yang mengerutup membuat siapapun yang melihatnya pasti akan ketakutan.
Sedangkan Rian hanya diam saja, ia pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Kakak tirinya. Didalam hatinya Rian menyadari akan semua kesalahan dan kebodohannya yang bisa saja di perdaya oleh orang lain.
__ADS_1
Di tengah kemarahannya tiba-tiba saja Saga mendengar suara lembut memanggilnya, merengek-rengek minta di temani.
"Papa! Ayo Pa, temani Sakti di kamar Sakti ngantuk!" teriak Sakti kepada Saga yang langsung membuat amarah Saga yang sedang naik perlahan mengendur.
"Sakti ke kamar dulu, nanti Papa nyusul," sahut Saga dengan nada suara yang lebih rendah.
"Gak mau! Pokoknya sekarang!" rengek Sakti hampir menangis.
Alexa yang melihat semua itu merasa kasihan kepada Sakti, karena ia tahu betul
sifat Saga. Yang tidak akan mengalihkan perhatiannya sedikitpun sebelum ia merasa puas dengan apa yang ia inginkan.
"Sakti, ayo sama Aunty," Alexa membujuk Sakti agar mau bersamanya.
Sakti terlihat merajuk dengan memonyongkan bibirnya kedepan.
"Sakti, nanti Aunty bacakan dongeng yang bagus," bujuk Alexa dengan telaten, perlahan membuat Sakti terhibur juga dan akhirnya bocah itu mau ikut bersamanya.
"Sakti," panggil Rian.
Namun, bocah itu telah jauh pergi bersama Alexa.
"Dia putramu kan? Dia darah dagingmu!" Saga menatap Rian dengan penuh amarah.
Bisa-bisanya selama ini ia di bodohi oleh Rian, hingga membuat dirinya terjebak dengan pernikahan yang tidak pernah diinginkannya.
"Ya Kak, itu memang benar tapi aku tahu ketika Tiara memintaku untuk menukar sempel rambut kita sebelum tes DNA itu dilaksanakan." sahut Rian berterus terang, karena percuma juga ia berdusta Saga pasti akan mengetahuinya.
"Brengsek! Jadi semua itu karena ulahmu!" Saga mulai mengangkat tangannya kembali.
Mendengar suara Bu Lalika akhirnya Saga mengurungkan niatnya. Ia kembali menurunkan tangannya yang telah terangkat sebelumnya.
Walaupun Bu Lalika sangatlah marah kepada Rian, namun sebagai seorang Ibu, kemarahan nya mereda ketika melihat Putranya yang babak belur kesakitan.
Perlahan Bu Lalika mulai mengompres wajah dan bagian tubuh yang lainnya, hampir seluruh tubuh Rian dipenuhi lebam akibat pukulan para santri dan juga pukulan dari Saga semakin menambah warna lebam itu.
Sementara itu, di dalam kamarnya Sakti tampak anteng mendengarkan cerita dongeng yang dibacakan oleh Alexa.
"Akhirnya si kancil kalah dengan siput, akibat kesombongan dirinya." Alexa mengakhiri dongeng nya.
"Siput itu berjejer di dalam sungai untuk memperdaya kancil yang sombong itu ya Aunty?" tanya Sakti setelah Alexa mengakhiri ceritanya.
"Ya, benar,"
"Kok bisa? Kan si kancil larinya kencang, kenapa bisa kalah lomba lari dengan siput yang hanya ngesot?" Sakti mulai penasaran.
"Karena Siput itu tidak sombong dan mau bekerja sama dengan para siput yang lainnya, jadi, kita bisa ambil hikmahnya dari cerita ini, Sakti." jawab Alexa menasehati.
"Hikmah nya apa Aunty?"
"Hikmah nya adalah sepandai apapun kita, kita tidak boleh menyombongkan diri dan memandang rendah orang lain, kita harus tetap rendah diri dan saling menghormati satu sama lain." Alexa menjelaskan hikmah dibalik dongeng yang ia ceritakan.
"Kalau begitu, nanti kalau Sakti sudah besar, Sakti gak mau sombong biar Sakti menjadi orang yang tidak terkalahkan."
__ADS_1
Alexa tersenyum mendengar gurauan bocah itu, di dalam hati ia berdoa, 'Semoga saja kelak saat kau dewasa, kau tidak akan mewarisi sifat dan sikap dari kedua orang tuamu, semoga kau menjadi anak yang baik, sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuamu,'
Sakti menguap rupanya ia mulai merasa mengantuk. Alexa mengusap kepala bocah itu membuat Sakti semakin terbuai perlahan menuju ke alam mimpi.
"Akhirnya kau tertidur juga sayang," bisik Alexa seraya mengecup kening Sakti dengan penuh cinta. Ia tersenyum ketika melihat wajah polos bocah itu sedang tertidur pulas.
Dan semua itu tidak lepas dari perhatian Saga yang telah memperhatikan Alexa sejak tadi.
Secara tidak sengaja pandangan Alexa tertuju kepada Foto Saga yang terpajang di atas nakas. Perlahan Alexa meraih foto itu, memandangnya cukup lama kemudian mendekapnya dengan erat.
Tak terasa air matanya telah terjatuh bergulir-gulir di pipinya. Ingatan tentang masa-masa suka duka yang ia lalui bersama pria itu kembali menari-nari di benaknya. Membuat Alexa semakin erat mendekap foto itu dengan kedua mata terpejam.
Saga yang melihat itu semua merasa sangat bahagia, karena dapat dipastikan bahwa hati dan cinta Alexa masih tetap miliknya.
Perlahan Saga memasuki kamar menghampiri Alexa yang tidak menyadari akan kehadirannya.
"Tidak perlu peluk foto, orangnya ada disini kok," gurau Saga menggoda Alexa.
Sontak membuat Alexa terkejut dan salting. Alexa merasa malu karena ketahuan oleh Saga kalau dirinya sedang memeluk foto pria itu. Dengan segera Alexa berbalik badan membelakangi Saga, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Aku tahu kau masih mencintaiku," ucap saga lagi.
"A-apa m-maksudmu?" Alexa berpura-pura bertanya dengan suara tersendat-sendat.
"Peluk aku," pinta Saga.
Alexa meletakkan foto itu kembali ke atas nakas, lalu menatap Saga dengan intens.
"Maaf, kita bukan muhrim tidak baik kalau kita berada dalam satu kamar, apalagi ini di pesantren." ucap Alexa menolak dengan halus.
Karena ia berpikir pesantren adalah tempat yang mulia, jadi tidak seharusnya hal itu terjadi.
"Sakti sudah tidur, jadi tanggungan ku sudah selesai, aku permisi dulu," Alexa hendak bergegas keluar dari kamar itu.
Namun, sebelum ia benar-benar melewati Saga, pria itu terlebih dahulu meraih tangan Alexa dan membawanya ke dalam pekukannya.
"Saga, lepaskan!" pinta Alexa meronta-ronta.
"Tidak akan pernah, sebelum kau menjawab pertanyaan ku," sahut Saga dengan tetap mendekap tangan itu di dada bidangnya.
"Aku tahu kau masih sangat mencintaiku, tolong katakan sekali saja kalau kau masih sangat mencintaiku," pinta Saga lagi.
Membuat Alexa terdiam, ia tidak lagi meronta melainkan menatap kedua mata Saga dengan kedua matanya yang telah berair.
Saga mengusap air mata yang terjatuh ke pipi Alexa dengan lembut. Membuat wanita itu menghambur ke dalam pelukannya dan menangis disana.
Alexa tidak mampu menggambarkan rasa cintanya dengan kata-kata, hanya air mata yang mewakili ungkapan rasa cinta dan kasihnya untuk Saga.
Saga pun membalas pelukan Alexa dengan erat, seolah mereka tidak ingin terpisah.
"I love you, Saga," bisik Alexa lirih masih tetap didalam pelukan pria itu.
Sebuah pelukan yang begitu hangat dan menenangkan.
__ADS_1
"I love you too," balas Saga masih tetap membalas pelukan Alexa.
Di luar kamar tampak seseorang sedang berdiri dibalik jendela memandang ke arah mereka dengan penuh rasa cemburu.