
Dengan hati penuh memendam kerinduan, Saga menekan handle pintu dan terlihatlah olehnya seorang wanita tengah terbaring lemah tidak berdaya.
Senyuman yang semula terpancar dengan indah di sudut bibirnya, kini mulai meredup ketika melihat keadaan istrinya.
"Alexa, istriku!" seru Saga dengan berlari ke arah istrinya.
Mendengar suara yang selama ini dirindukan, suara yang selama ini tidak pernah ia dengarkan. Alexa mulai membuka kedua matanya dengan perlahan. Bibirnya mulai bergerak, tetapi tidak mengeluarkan suara sepatah katapun. Dan itu membuat Saga merasa sangat sedih melihat kondisi istrinya.
"Beginilah keadaannya Nak Saga," ucap Eyang Netty, rupanya ia mengikuti Saga ke kamar itu.
"Apa yang terjadi kepadanya?" Saga mencium wajah Alexa berkali-kali.
"Dia hamil," jawab Ibu Lalika, ia pun berada disana.
"Hamil–"
"Ya, dan kata Dokter rahimnya mengalami masalah." Bu Lalika menyerahkan beberapa lembar kertas hasil pemeriksaan dari rumah sakit.
Saga mengalihkan perhatiannya ke arah kertas-kertas itu.
"Ya Tuhan, mengapa semua ini bisa terjadi?" Saga melipat kertas itu lalu menyerahkan kembali kepada Bu Lalika.
"Maafkan aku, istriku." Saga kembali menciumi wajah Alexa yang terlihat pucat.
Bahkan seluruh tubuhnya pun sangat kurus dikarenakan Alexa tidak bisa mengkonsumsi makanan, karena rasa mual yang selalu datang di saat ia mencium aroma masakan. Sehingga membuatnya muntah-muntah tiada henti.
Saga mengelus perut istrinya yang masih datar dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Papa anakku, tapi Papa harus mengambil keputusan ini, kau harus segera dikeluarkan dari rahim ibumu," ucap Saga dengan air mata berlinang.
Alexa yang semula terlihat tenang tiba-tiba saja membulatkan kedua matanya.
"Tidak! Tidak akan aku biarkan itu semua terjadi, lebih baik aku mati daripada aku harus membunuh anakku sendiri!" teriak Alexa. Namun, suara yang keluar hanyalah seperti sebuah bisikan.
"Aku tidak mau kehilangan dirimu," Saga menatap wajah kurus itu. Wajah yang dulunya cantik kini tak terlihat lagi.
"Aku juga tidak ingin kehilangan anakku, buah hati kita, buah cinta kita berdua," lirih Alexa dengan air mata yang telah membanjiri kedua matanya yang terdapat lingkaran hitam di sekitarnya.
"Tapi, kata Dokter–"
"Sekali tidak, tetap tidak, jika kau memaksa maka sama saja dengan kau menginginkan diriku cepat-cepat tiada," lirih Alexa lagi.
Saga terdiam, rasanya dia tidak tega jika harus mendesak istrinya. Jujur saja, Saga juga menginginkan bayi itu tetap ada dan terlahir kedunia dengan selamat. Namun, melihat dari kondisi istrinya membuat Saga harus berpikir ribuan kali.
"Aku akan konsultasikan dengan Dokter ahli kandungan, semoga saja masih ada cara untuk mempertahankannya," ucap Saga setelah lama ia berpikir.
Sejenak Alexa merasa lega, ia berdoa di dalam hati semoga masih ada kesempatan untuk dirinya menjadi seorang Ibu.
'Ya Tuhan, izinkan aku mengandung dan melahirkan bayiku,' batin Alexa.
"Tapi, jika tidak ada cara lain selain menggugurkan kandunganmu, maka kau harus siap untuk itu."
Mendengar ucapan Saga membuat Alexa yang tadinya mulai merasa lega, kini berurai air mata kembali.
"Sudahlah, ada atau tidak bayi ini, aku akan tetap mencintaimu," ucap Saga kemudian.
__ADS_1
Di luar kamar terdengar suara seseorang sedang membicarakan tentang keadaan Raisya, rupanya Dokter Doni telah datang.
"Aku keluar dulu ya, ada Dokter Doni yang akan memasang alat-alat medis pada tubuh kak Raisya," ucap Saga kepada Alexa yang baru saja memejamkan kedua matanya.
"Iya, jangan lama-lama," sahut Alexa setelah membuka matanya kembali.
"Eyang, tolong jaga istriku jangan biarkan dia bersedih."
"Tentu saja," sahut Eyang Netty segera.
"Mama ikut denganku."
"Baiklah Nak," Bu Lalika menyetujui.
Kemudian Saga keluar dari kamar itu untuk menemui Dokter Doni di ruang tamu.
Setelah cukup berbincang-bincang, Dokter Doni pun pergi melihat kondisi Raisya yang telah berada di dalam sebuah kamar yang memang khusus untuknya.
Dokter Doni segera memasang alat-alat medis di sekujur tubuh Raisya, dengan bantuan dari alat-alat itu, kondisi Raisya menjadi lebih baik.
"Tuan dan Nyonya tidak usah khawatir, suster inilah yang akan mengontrol setiap saat," ucap Dokter Doni kepada Saga dan seluruh keluarga seraya menunjuk ke arah perawat di sampingnya.
"Terimakasih Dok," sahut Saga dan Bu Lalika bersamaan.
"Suster, tolong dikontrol setiap saat, jika ada keluhan atau perkembangan segera hubungi saya," ucap Dokter itu lagi kepada perawat di sampingnya.
"Baik, Dok."
Setelah selesai, Dokter Doni pun pergi.
Dokter itu datang dengan dua orang perawat laki-laki yang membawakan seluruh perlengkapan fasilitas rumah sakit.
Ya, karena memang Alexa, sama seperti Rsisya yang akan dirawat di rumah ndalem.
Tanpa berbasa-basi Dokter Sari segera memeriksa Alexa di kamarnya. Dokter Sari berkali-kali menggelengkan kepalanya pertanda memang ada masalah pada kandungan Alexa.
"Bagaimana Dok?" tanya Saga ketika Dokter Sari telah selesai memeriksa kandungan Alexa.
"Apakah bayi kami bisa dipertahankan?" tanya nya lagi.
"Kondisi rahim nyonya Alexa sangat lemah tuan, rahimnya tidak mampu menahan berat janin, sedangkan semakin bertambah
usia kandungannya maka akan bertambah pula berat janinnya," jawab Dokter Sari menjelaskan.
"Dan untuk di gugurkan, Saya sangat menyayangkan kondisi janin anda sangatlah sehat."
Mendengar bayinya sehat dan baik-baik saja, Alexa merasa bahagia dan semakin membulatkan tekadnya untuk mempertahankan janinnya.
"Lalu, apakah ada solusi untuk Saya agar tetap mempertahankan janin Saya Dok?" Alexa bertanya dengan suaranya yang lirih.
"Ada bu, tapi–"
"Tapi apa Dok? Katakanlah," Saga tidak sabar ingin mengetahui solusi itu.
"Solusi ini sangat membutuhkan bantuan dari orang-orang di sekitar kita, dan ini tidak bisa dijalankan sendiri, semua anggota keluarga harus terlibat dalam hal ini."
__ADS_1
Dokter Sari menghela nafas.
"Nyonya Alexa tidak boleh turun dari brankar ini sampai dia melahirkan bayinya, ini untuk kebaikan rahimnya agar tidak perlu menahan berat janin, semua aktivitas harus dilakukan di atas brankar ini, makan, minum dan Saya sarankan agar Nyonya Alexa lebih sering membaca baik secara online maupun offline."
"Lalu, bagaimana jika Saya ingin buang air Dok? Apakah harus disini juga?" Alexa merasa resah, karena ia pasti akan merasa malu.
"Ya, termasuk juga itu, oleh karena itu Saya katakan solusi ini butuh banyak dukungan dari anggota keluarga dan orang-orang di sekitar Anda," jawab Dokter Sari.
"Tenang Dok, kami semua pasti akan bersatu untuk selalu menjaganya," ucap Bu Lalika, Eyang Netty dan Tiara bersamaan.
"Alhamdulilah, Saya senang mendengarnya." Dokter Sari mengacungkan kedua jempolnya kepada ketiga orang itu.
"Tapi, selagi Aku berada disini, maka aku rasa kalian tidak perlu melakukannya, karena ini adalah kewajiban ku sebagai seorang suami."
Dan ucapan Saga membuat semua orang tersenyum bahagia termasuk juga Dokter Sari.
"Wah, rupanya Anda adalah suami yang siaga, tuan," Dokter Sari mengagumi sikap Saga.
Membuat Alexa merasa sangat bersyukur memiliki suami yang sangat menyayangi dirinya.
"Baiklah, Saya akan membuatkan resep untuk istri Anda, mohon agar di perhatikan pola makan dan minum obat secara teratur."
"Pasti, Dok," jawab Saga dengan mantap.
Setelah semua orang pergi dari kamarnya, termasuk juga Dokter Sari yang telah pulang meninggalkan tempat itu.
"Mengapa kau lakukan semua ini suamiku?" tanya Alexa dengan menatap wajah Saga.
Wajah tampan itu masih tetap tidak berubah, walaupun terdapat luka dan lebam di sana.
"Ini adalah tanggung jawabku, dan wujud dari cintaku padamu," jawab Saga seraya mencium pipi Alexa dengan lembut.
"Bukankah kau akan merasa malu jika orang lain yang melakukannya, sedangkan aku telah mengetahui segalanya yang ada pada dirimu."
Alexa tersenyum.
"Sekarang kau harus makan istriku, sebelum minum obat penguat rahim," katanya lagi.
Alexa mengangguk.
Dengan sangat telaten dan penuh kasih sayang, Saga menyuapi istrinya. Namun, anehnya Alexa tidak merasakan mual seperti biasanya, sehingga membuat Alexa tanpa ragu menghabiskan makanan itu. Setelah itu Saga memberikan obat yang diberikan Dokter Sari untuk sementara waktu, sebelum ia menebus obat itu di poli kesehatan. Obat itu sangat langka dan tidak di perjual-belikan secara umum.
Kemudian sesuai saran Dokter, Saga mulai mengelap seluruh tubuh istrinya yang berkeringat. Ingin rasanya Saga menangis melihat tubuh Alexa yang dulunya padat berisi, kini telah menjadi kurus. Saga pun berjanji di dalam hati akan selalu merawat dan menjaga Alexa hingga melahirkan nanti.
Dengan lembut Saga mengganti pakaian Alexa, agar istrinya itu terlihat lebih segar.
"Terimakasih suamiku," kata yang terucap dari mulut Alexa.
"Tidak perlu berterima kasih, cukup melihatmu kembali sehat saja itu sangat berarti bagiku."
Seakan tak bosan-bosan Saga mencium dan terus mencium perut istrinya dengan penuh kasih, membuat Alexa tertawa karenanya. Dan ini adalah suara tawa Alexa yang pertama kali terdengar setelah sekian lama.
Semua anggota keluarga merasa bahagia melihat perubahan pada diri Alexa yang menjadi bahagia kembali.
Maka sejak saat itulah Saga selalu menjaga Alexa, tak sedetik pun ia meninggalkan istrinya.
__ADS_1