Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 104


__ADS_3

Setelah selesai acara jamuan, Pak Hendra dan Ricard pamit undur diri, dikarenakan hari sudah siang apalagi hari ini mereka harus ke kantor ada banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.


"Ayo!" ajak Ricard kepada Septi yang masih berdiri mematung.


"Aku pulang denganmu?"


"Ya, apa kau mau pulang bersama dengan Alexa dan menjadi nyamuk diantara mereka berdua?"


"Oh, Tidak! Aku akan pulang denganmu," Septi tersenyum.


Ya, memang kemarin dia pergi ke pesantren itu bersama dengan Alexa.


"Kami permisi dulu, Assalamu'alaikum," pamit Pak Hendra yang kemudian diikuti oleh Ricard dan juga Septi.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Hati-hati di jalan!" pesan Kakek Syarifuddin. Ketiga nya hanya tersenyum seraya mengangguk.


Kakek, Ibu Lalika, Rian, Saga dan Alexa melambaikan tangan mengiringi kepergian mereka.


"Sekarang kami juga harus pamit Kek," ucap Saga tiba-tiba.


"Pamit? Bukankah kalian baru saja melangsungkan ijab kabul? Kakek harap kalian akan tinggal disini beberapa waktu." sahut Kakek terkejut dengan penuturan cucunya.

__ADS_1


"Tidak Kek, jika terlalu lama disini, kami khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, secepatnya kami harus mendaftarkan diri kami di KUA, agar sah secara hukum dan agama." jawab Saga.


"Iya Kek, kami juga harus meminta restu kepada Eyang, walau bagaimana pun, dia lah orang yang sangat berjasa kepadaku," tutur Alexa.


"Baiklah, tapi…bagaimana jika kalian tidak diterima di keluarga Wijaya, nanti kalian akan tinggal dimana?" tanya Bu Lalika dengan penuh rasa khawatir.


Karena ia tahu, hanya mendengar dari ceritanya saja, ia dapat membayangkan betapa marah dan bencinya Eyang Netty kepada Saga yang telah berani menghina bahkan mengusir Alexa didepannya.


"Tenang saja Ma," ucap Alexa yang telah ikut memanggil Mama kepada Bu Lalika.


"Kami tidak akan tinggal di mansion Eyang," lanjutnya.


"Lalu, kalian akan tinggal dimana?" Bu Lalika merasa heran, dimana mereka akan tinggal kalau bukan di mansion Eyang Netty.


"Apa? Mansion Saga? Bukankah sudah dijual?"


"Ya, tapi kami menebusnya kembali, dan jika berkenan, Mama bisa ikut kami tinggal di mansion bersama kami,"pinta Alexa.


"Tidak Nak, Aku akan tinggal disini saja, kasihan Kakek kalian, setidaknya ada yang menemani Kakek kalian disini." ucap Bu Lalika yang telah menganggap Kakek Syarifuddin seperti Ayahnya sendiri. Begitu pula dengan Kakek Syarifuddin beliau juga menganggap Ibu Lalika seperti putrinya sendiri, menggantikan almarhumah Ibu kandungnya Saga.


"Baiklah, jika begitu, kami pamit dulu ya, Kakek, Mama, Rian aku titip Sakti ya, jaga dia baik-baik." ucap Alexa dengan sangat keberatan meninggalkan Sakti.

__ADS_1


"Baiklah, tanpa kau minta pun aku pasti akan menjaganya dengan baik, dia kan putraku sendiri." sahut Rian.


Disaat itulah Sakti yang tidak ingin ditinggalkan oleh Alexa dan Saga segera menarik lengan Alexa serta merengek-rengek.


"Mama, Papa mau ninggalin Sakti disini? Kalian tidak ingin membawa Aku bersama dengan kalian?" ucap Sakti dengan air mata berlinang.


"Jangan biarkan Sakti kehilangan Mama untuk yang kedua kalinya," kini tangis Sakti mulai pecah, air matanya telah jatuh berderai membasahi kedua pipinya yang chubby.


Melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah Sakti membuat Alexa tidak tega untuk meninggalkan bocah itu. Sebenarnya dari awal ia ingin membawa Sakti bersamanya. Tetapi, Ibu Lalika yang merasa keberatan jika Sakti dibawa oleh Alexa dan Saga. Sebab Sakti adalah cucu kandungnya sendiri.


Alexa menghapus air mata yang telah jatuh berderai di kedua pipi Sakti, saking karena sedihnya ia menangis, ingusnya pun keluar masuk.


Segera Alexa meraih tisu yang tersedia diatas meja, lalu mengelap nya dengan penuh kasih sayang.


"Tenanglah, hentikan tangismu. Mama berjanji akan membawamu bersamaku," bisik Alexa yang lalu memeluk bocah itu dengan penuh kasih.


Kemudian Alexa menggendong Sakti, lalu melangkah menghampiri Ibu Lalika yang juga menatapnya sejak tadi.


"Mama, Aku mohon, biarkan Sakti ikut denganku, Aku berjanji akan selalu menjaganya seperti kau menjaganya selama ini." pinta Alexa mengiba berharap wanita paruh baya yang berdiri di depannya akan menyetujui permintaannya.


"Sakti, apa kau tidak ingin tinggal bersama dengan Oma?" tanya Bu Lalika yang seolah tidak rela melepaskan cucu satu-satunya pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


"Oma, Sakti sayang Oma, tapi Sakti mau ikut Mama, Sakti ingin seperti anak itu, tinggal dengan Mama dan papanya." jawab Sakti seraya menunjuk ke arah rumah yang berada di depan pagar pesantren, dan semakin membuat Ibu Lalika merasa sedih karena di usianya yang masih kecil, Sakti harus hidup terpisah dari Ibunya. sedangkan tentang siapa Ayahnya yang sebenarnya Sakti belum mengetahui kalau Rian adalah Ayah kandungnya.


__ADS_2